Teknis PBM Tatap Muka di Zona Kuning dan Hijau

oleh -458 klik
Murid SD yang datang ke sekolah memakai masker. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI telah menyiapkan aturan teknis PBM tatap muka untuk daerah zona hijau dan kuning.NET
Murid SD yang datang ke sekolah memakai masker. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI telah menyiapkan aturan teknis PBM tatap muka untuk daerah zona hijau dan kuning.NET

JERNIHNEWS.COM-Pemerintah memutuskan akan membuka kembali kegiatan sekolah tatap muka di tengah pandemi Covid-19. Sekolah yang ada di zona hijau dan kuning penyebaran corona bisa kembali menggelar belajar tatap muka. Lalu, bagaimana teknis dari pelaksanaan sekolah tatap muka itu nantinya?

Kemendikbud memastikan sudah menyiapkan sejumlah aturan untuk tiap jenjang sekolah. Misalnya, selain diperbolehkan menggelar tatap muka, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) juga tetap memperbolehkan pelaksanaan praktik di sekolah.

"Untuk SMK yang perlu melaksanakan pembelajaran praktik, itu juga diperbolehkan untuk ke sekolah ya ke tempat praktik dan tentunya tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat," kata Sekjen Kemendikbud Ainun Na'im dalam pernyataannya di webinar virtual, Senin (10/8) sebagaimana dikutip dari Kumparan.com.

Tak hanya di tingkatan SMK, Ainun menuturkan aturan tatap muka juga disiapkan bagi sekolah yang menerapkan sistem asrama. Nantinya, akan ada pembatasan jumlah siswa dalam satu kelas. Aturan itu juga berlaku bagi peserta didik di Sekolah Luar Biasa (SLB). "Sementara untuk madrasah dan sekolah asrama di zona hijau dan kuning, bisa membuka asrama dan melakukan pembelajaran tatap muka namun dengan pengurangan jumlah kapasitas kelas," ucap Ainun.

"Jadi misalnya kalau ada 100 orang, maka pada masa transisi bulan pertama hanya 50 dulu, 50 persen, nah bulan kedua baru 100 persen. Untuk SLB yang pada awalnya 5-8 jadi maksimum 5 peserta didik per kelas, begitu pula jumlah hari dan jam belajar yang akan dikurangi ini tentunya untuk mengurangi risiko penyebaran virus," lanjut dia.

Ainun menuturkan pelaksanaan belajar tatap muka di tiap tingkatan berbeda. Maka dari itu, Kemendikbud bekerja sama dengan dinas terkait akan melakukan evaluasi dalam pelaksanaannya. Termasuk bagaimana kesiapan tiap jenjang sekolah guna memastikan kedisiplinan dalam penerapan protokol kesehatan bagi para peserta didiknya.

"Kemudian kita akan melakukan evaluasi, dinas pendidikan, dinas kesehatan provinsi dan juga kabupaten kota bersama kepala satuan pendidikan akan terus koordinasi dengan gugus tugas terkait pelaksanaan ini dan untuk memantau perkembangan dari pelaksanaan kebijakan ini," ucap Ainun.

Bila nantinya dalam perjalan kegiatan belajar-mengajar tersebut ditemukan adanya kasus penularan baru COVID-19, langkah untuk menutup kembali sekolah akan dilakukan.

"Apabila satu kesatuan pendidikan terindikasi dalam kondisi tidak aman atau tingkat risiko daerah berubah, tentu pemerintah daerah wajib menutup kembali sekolah atau satuan pendidikan tersebut," pungkasnya. (erz)