Jadi Khatib Idul Adha, Prof. Ganefri Ungkap Metode Pendidikan Hiwari Pada Ibrahim-Ismail

oleh -614 klik
Prof. Ganefri. Ph.D menjadi Khatib Idul Adha 1445 H, di Masjid Raya Talago, Nagari VII Koto Talago, Kab. Limapuluh Kota, Senin (17/06/2024). IST
Prof. Ganefri. Ph.D menjadi Khatib Idul Adha 1445 H, di Masjid Raya Talago, Nagari VII Koto Talago, Kab. Limapuluh Kota, Senin (17/06/2024). IST

JERNIHNEWS.COM-Prof. Ganefri. Ph.D yang menjadi Khatib Idul Adha 1445 H, di Masjid Raya Talago, Nagari VII Koto Talago, Kab. Limapuluh Kota, Senin (17/06/2024) mengungkapkan kisah keteladan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam khotbahnya. Ada metoda pendidikan yang menarik untuk disimak dalam kisah itu, yakni Metoda Hiwari atau dialog.

Prof. Ganefri, Ph.D diajak berfoto bersama oleh jemaah usai menjadi Khatib Hari Raya Idul Adha 1445 H di Masjid Raya Talago, Nagari VII Koto Talago Kab. Limapuluh Kota, Senin (17/06/2024).  IST
Prof. Ganefri, Ph.D diajak berfoto bersama oleh jemaah usai menjadi Khatib Hari Raya Idul Adha 1445 H di Masjid Raya Talago, Nagari VII Koto Talago Kab. Limapuluh Kota, Senin (17/06/2024). IST

Prof. Ganefri, Ph.D Dt. Djunjungan Nan Bagadiang yang juga mantan Rektor Universitas Negeri Padang (UNP) dua periode (2016-2024) mengatakan bahwa kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menjadi teladan dalam hal kesabaran menerima ujian Allah SWT.

Betapa gundah hati sang ayah, ketika mendapat perintah mengurbankan anaknya tercinta. Betapa galau pula hati sang anak, ketika sang ayah meminta pendapatnya tentang perintah Allah SWT untuk mengurbankannya.

Baca Juga

Namun semua itu sirna, karena rasa sayang dan taat kedua anak dan bapak itu kepada Allah SWT lebih tinggi dari rasa sayang kepada diri mereka sendiri. Jadilah mereka bersama-sama menaati perintah Allah dengan penuh pasrah, ikhlas dan sabar.

Dalam kitab "Misykatul Anwar" disebutkan bahwa konon, Nabi Ibrahim memiliki kekayaan 1.000 ekor domba, 300 lembu, dan 100 ekor unta. Riwayat lain mengatakan, kekayaan Nabi Ibrahim mencapai 12.000 ekor ternak. Suatu jumlah yang menurut orang di zamannya adalah tergolong milliuner.

Ketika pada suatu hari, Ibrahim ditanya oleh seseorang "milik siapa ternak sebanyak ini?" maka dijawabnya: "Kepunyaan Allah, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan cuma ternak, bila Allah meminta anak kesayanganku Ismail, niscaya akan aku serahkan juga."

Selanjutnya Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur'anul 'adzimmengemukakan bahwa, pernyataan Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan anaknya jika dikehendaki oleh Allah itulah yang kemudian dijadikan bahan ujian, yaitu Allah menguji iman dan taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar ia mengorbankan putranya yang kala itu masih berusia 7 tahun.

Anak yang elok rupawan, sehat lagi cekatan ini, supaya dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangannya sendiri. Sungguh sangat mengerikan! Peristiwa spektakuler itu dinyatakan dalam Al-QuranSurat As-Saffat Ayat 102:

"Tatkala Ismail sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, pikirkanlah apa pendapatmu!Ismail menjawab, hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Dialog antara ayah dengan anak telah diabadikan oleh Allah dalam Surat As-Shaffattersebut. Dalam metode pendidikan, pola semacam ini disebut metode hiwarialias dialog. Nabi Ibrahim tidak langsung menyuruh Ismail menuruti keinginannya agar mau disembelih. Melainkan, menanyakan kepadanya terlebih dulu. Meminta pendapatnya. Menguji respon dan reaksinya.

Hal itu sesuai dengan fitrah psikologis, bahwa remaja bisa dimintai pendapat melalui cara dialog untuk mengembangkan nalarnya. Dan, Ismail 'alaihissalam menjawab dengan pasti dan percaya diri serta berharap dirinya menjadi bagian orang-orang yang bersabar (minas shabirin).

Salah satuyang menjadi isuurgen dalam peristiwa ini adalah pendidikan ketauhidan. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail 'alaihimassalam,kompak menjalani perintah Allah. Keduanya berserah diri dan bertawakal menjalani perintah Sang Pencipta, meskipun ketika hendak disembelih, Allah menggantinya dengan hewan sembelihan dari surga.

Pelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa ini adalah pentingnya menanamkan ketauhidan kepada keluarga. Seorang ayah yang memiliki karakter kuat dan ketauhidan yang kokoh akan bisa mendidik anaknya dengan baik dalam hal kecintaan kepada Allah dan mentaati perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya, jika dirinya terlebih dulu memberikan contoh yang konkrit.

Nabi Ibrahim telah memberikan contoh, dan Nabi Ismail pun tidak ragu melaksanakan permintaan dari ayahnya. Sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim memberi contoh bagaimana ketaatan kepada Allah harus didahulukan daripada kecintaan terhadap anak. Sebagai seorang yang beriman, beliau menjalani ujian ini dengan baik.

Tidak ada gugatan kepada-Nya, mengapa harus menyembelih putra yang telah dinantikan, bagaimana bisa Allah memerintahkan hal ini, dan berbagai pertanyaan lainnya. Yang dilakukan oleh beliau adalah menjalankannya, berserah diri kepada Allah untuk meraih ridho-Nya. Sebab, beliau sadar, sebagai hanifan muslima alias seorang yang bersadar diri tunduk kepada-Nya dan menjalani ketentuan Allah. Sedangkan sebagai seorang anak, Ismail 'alaihisaalam mematuhi perintah dari ayahnya sebagai wujud bakti seorang anak, dan sebagai ungkapan ketaatan seorang hamba kepada Allah.

"Demikianlah di antara hikmah peristiwa kurban yang dijalani oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail 'alaihimassalam. Semoga kita bisa memetik pelajaran dari khutbah yang saya sampaikan ini dan semoga kita semua bisa melaksanakan beberapa hikmah pendidikan yang telah saya sampaikan," sebut Ganefri.

Sebagai kaum muslim, ada dua pelajaran utama yang dapat dteladani dari kisah "Idul Qurban", yakni

Pertama, pengorbanan tanpa batas kepada Allah SWT.

Allah tak minta nyawa Ibrahim, Allah tak minta istri Ibrahim, Allah tak minta kambing Ibrahim, Allah tak minta kebun Ibrahim. Tapi ada satu yang paling dicintai Ibrahim, itulah nyawa yang ditunggu lama oleh Ibrahim selama 86 tahun. Sunggu lama Ibrahim memanjatkan doa itu.

Ingin meminta anak yang shalih, tapi ketika anak itu datang, ternyata ujian belum berakhir.Inilah orang beriman, ujian keimanan tidak pernah berhenti atasnya. Oleh sebab itu, kalau ada orang yang merasa dirinya telah beramal shalih, sudah beriman, namun ia terus mengalami ujian silih berganti, itu tak lain dan tak bukan, merupakan ujian keimanan. Di sinilah Allah ingin menempatkannya di tempat terpuji.

Kedua, Hanif dan Muslim. Tadi telah diketahui bersama, bahwa makna kisah Ibrahim adalah memberikan yang terbaik kepada Allah SWT. Dan untuk meneladaninya perlu mengetahui dua sifat yang melekat dalam jiwanya.

Hanif, yaitu condong kepada kebenaran/ Allah. Ibrahim tidak condong kepada harta. Ibrahim tidak condong kepada anak, Ibrahim tidak condong pada kuasa dunia. Lantas kemana ia condong? Tak lain, ia hanya condong kepada Allah SWT. Dari sinilah bisa disimpulkan, bahwa "Cinta kepada manusia, hanya bisa dikalahkan dengan iman kepada pencipta".

"Singkatnya, karena power iman inilah yang menyadarkannya, karena iman kita hidup,untuk iman kita berjuang dan hanya dalam iman kita kembali pada Allah SWT," sebut Prof. Ganefri yang merupakan Rektor Terbaik se-Indonesia Tahun 2023.

Selanjutnya, muslim; yaitu berserah diri kepada Allah. Ibrahim tak berserah kepada anak, Ibrahim tidak berserah pada kepada Hajar, Ibrahim tak berserah kepada harta, Ibrahim tak berserah kepada kekuasaan. Lantas kemana kemana ia berserah? Tak lain hanya kepada Allah SWT.

"Setiap kita adalah Ibrahim, dan setiap Ibrahim punya Ismail. Ismailmu saat ini mungkin anakmu. Ismailmu saat ini mungkin hartamu, Ismailmu saat ini mungkin jabatanmu. Ismail saat ini mungkin gelarmu. Ismailmu saat ini mungkin egomu. Namun yang pasti, Ismailmu adalah sesuatu yang kamu sayangi dan kamu pertahankan di dunia ini. Nabi Ibrahim tidak diperintahkan Allah untuk membunuh Ismail, tapi Ibrahim hanya diminta Allah untuk membunuh rasa kepemilikan terhadap Ismail 'alahissalam.," kata Ganefri, sembari menyebut "Sandarkan cintamu kepada sang pemilik, Insya Allah cita-citamu bahagia di dunia akan terus terjaga".(erz)