Anies Efek di Sumbar, Siapa yang Untung?

oleh -443 klik
Anies Baswedan. IST
Anies Baswedan. IST

Oleh: Yon Erizon

Anies Baswedan (usia 53 tahun) kini menjadi sosok Capres yang banyak memperoleh sambutan dan buah bibir di masyarakat, termasuk di Sumatera Barat (Sumbar). Mesin politik mantan Gubernur DKI Jakarta yang dideklarasikan Nasdem sebagai capres itu sepertinya ada di mana-mana. Tak saja orang Nasdem, tapi banyak masyarakat umum yang suka rela bekerja politik untuk Anies. Melihat tingginya antusias masyarakat, Anies berpelung besar menang di 2024.

Pada ruang lingkup Provinsi Sumbar, sambutan atas Anies Baswedan juga sangat luar biasa. Masyarakat Minang seperti tidak sabar lagi menunggu kemenangan besar Anies di Pilpres. Mereka ingin punya sosok presiden yang ungguldari berbagai hal. Unggul dalam kepemimpinan, akademik, diplomasi, merakyat, gagah, dan memiliki visi yang jelas atas NKRI ke depan.

Kendati perpisahan Anies sebagai Gubernur DKI Jakarta nun berada di Pulau Jawa, namun ternyata acara yang sama juga turut dilangsungkan pendukung Anies di sejumlah daerah di Sumbar. Berbagai prestasi dan kemajuan Jakarta selama dipimpin mantan Menteri Pendidikan itu diulas dalam momentum perpisahan Anies. Begitulah tingginya harapan anak bundo kanduang kepada Anies.

Lalu terkait dengan tahun politik 2024 dengan agenda Pileg, Pilpres dan Pilkada, bagaimana pula efek Anies di Sumbar atau Ranah Minang?

Masyarakat Sumbar sangat dinamis dalam perpolitikan. Dukungan mayoritas masyarakat Sumbar bisa saja berpindah dari partai A ke partai B pada setiap pemilu. Tapi garis tegasnya jelas ada. Harus yang berpihak kepada Islam, sesuai dengan filosofi masayarakat Minang; adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Sosoknya juga mesti moderat.

Pasca reformasi 1998 di Sumbar, Pemilu 1999 dimenangkan oleh PAN, Pemilu 2004 dimenangkan Partai Golkar, Pemilu 2009 pemenangnya Partai Demokrat , Pemilu 2014 dimenangi Partai Golkar dan Pemilu 2019 dimenangkan oleh Partai Gerindra.

Kemenangan PAN di Ranah Minang pada Pemilu 1999 dilatari gerakan reformasi yang dipelopori Amien Rais yang menjadi Ketum PAN. Amien Rais juga merupakan seorang mantan Ketum Muhammadiyah, sedangkan masyarakat islam Sumbar mayoritas juga beraliran Muhammadiyah.

Berikutnya 2004, Partai Golkar yang menjadi pemenang. Kemenangan Golkar disebabkan, keberhasilan parpol berlambang beringin itu merajut kembali kekuatannya, setelah hancur-hancuran di 1999. Sedangkan PAN baik di pusat atau di Sumbar selama 1999-2004 juga tidak sesuai dengan ekspektasi masyarakat.

Selanjutnya di 2009, Pemilu di Sumbar dimenangkan oleh Partai Demokrat. Kemenangan itu sejalan dengan terbangun kepercayaan publik yang kuat terhadap Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang tak lain adalah pendiri Partai Demokrat. Faktor 'x' yang menyebabkan kemenangan itu adalah efek SBY.

Selanjutnya Pemilu Tahun 2014 di Provinsi Sumbar kembali dimenangkan oleh Partai Golkar. Yang melatarinya, karena hancurnya kepercayaan masyarakat terhadap Partai Demokrat akibat terjadinya kasus korupsi yang melibatkan para petinggi Partai Demokrat. Sedangkan kondisi Parpol Golkar di Sumbar cendrung stabil, meskipun di pusat tidak ada kemajuan yang signifikan pada parpol dengan warna khas kuning itu.

Selanjutnya tahun 2019, Pemilu di Sumbar dimenangi oleh Partai Gerindra. Kemenangan Gerindra adalah efek Prabowo Subianto yang menjadi capres dan mendapat dukungan besar dari masyarakat Sumbar. Masyarakat Sumbar ketika itu sangat ingin mengganti presiden dari Jokowi kepada Prabowo. Meski Prabowo kalah di Pilpres, tapi efek Prabowo terhadap kemenangan Partai Gerindra di Sumbar sangatlah besar.

Lalu untuk Pemilu tahun 2024, siapakah pemenang Pileg di Sumbar? Sebagaimana diketahui Pileg dan Pilpres akan dilaksanakan secara seretak pada 17 Februari 2024. Meski dilaksanakan 17 bulan lagi, namun Partai Politik telah mulai memanaskan mesin politiknya. Termasuk dengan mendeklarasikan capresnya, seperti yang dilakukan Nasdem.

Anies disebut-sebut akan berpasangan dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) Ketua Umum Partai Demokrat. AHY adalah putra sulung SBY, Presiden RI dua periode (2004-2014). PKS juga semakin kuat kansnya mendukung Anies. Kapan ketiga koalisi parpol ini akan mendeklarasikan capres-cawapres nya, mungkin tinggal menunggu waktu.

Sedangkan parpol lain, seperti Gerindra sejauh ini akan kembali mengusung ketua umumnya, Prabowo Subianto sebagai Capres. Partai Golkar juga telah menyiapkan ketua umumnya, Airlangga Hartarto sebagai Capres.

PDIP menyiapkan Puan Maharani sebagai Capres. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang kader PDIP juga disebut-sebut sebagai sosok yang memiliki kans besar menjadi kandidat capres. Nama Ganjar justru lebih banyak digadang-gadang oleh parpol selain PDIP. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno juga telah memiliki relawan di mana-mana. Walau sebagai sebagai para kandidat Capres belum dideklarasikan tapi relawannya sudah ada di berbagai daerah.

Anies Efek di Ranah Minang

Salah satu kriteria calon pemimpin oleh orang Minang adalah tokoh dan takah. Anies memiliki itu semua. Mantan Rektor Paramadina itu kuat dalam kepemimpinan, seorang akademisi, jago diplomasi, merakyat, gagah, dan memiliki visi yang jelas atas NKRI ke depan. Semuanya telah dibuktikannya ketika menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Anies diyakini tidak akan menjadi presiden tukang stempel berlambang garuda. Tapi dia mengerti dan paham tentang kebijakan yang akan diambilnya. Dia tidak mudah disetir oleh parpol. Tak gampang dikendalikan oleh para pemodal dan tak mudah didikte oleh negara-negara kuat, seperti Amerika, Rusia, Cina, Eropah dan lain sebagainya.

Potensi Anies yang sangat komplit itu yang membuat orang Minang benar-benar kesemsem dengan Anies. Orang Minang ingin Indonesia menjadi negara yang maju, mandiri , kekayaannya dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat, mencintai produk dalam negeri, menghargai kemampuan SDM pribumi, dan hidup berkebangsaan dengan konsep madani dengan naungan dasar negara Pancasila. Keinginan itu tentu sejalan dengan cita-cita pendiri Bangsa Indonesia yang notabene sebagian besar di antaranya berasal dari Ranah Minang.

Anies Efek di Sumbar akan menguntungkan parpol tertentu. Yang jelas tentu Partai Nasdem sebagai parpol yang mendeklarasikan Anies sebagai capres pertama sekali. Berikutnya Partai Demokrat dan PKS, jika memang nantinya kedua parpol itu berkoalisi dengan Nasdem mendukung Anies sebagai Capres. Apalagi jika memang terjadi Anies-AHY sebagai pasangan capres-cawapres.

Tapi bisa saja berbeda efek figur politik yang terjadi di Sumbar di era 1999 (Amien Rais efek), 2009 (SBY efek) dan 2019 (Prabowo efek) dengan Anies efek di Pemilu Tahun 2024. Selain kondisi politik mengalami perubahan, perkembangan pada bidang media komunikasi dan IT juga akan turut mempengaruhi. Sudah barang tentu kesiapan, persiapan dan kualitas dari pihak-pihak parpol yang menjadi pengusung atau pendukung Anies juga sangat menentukan.

Nasdem dengan jajaran SDM politisinya di Sumbar saat ini jelas optimis, naik kelas. Namun untuk jadi pemenang Pileg di Sumbar, masih berat, tanpa memperkuat lagi SDM politisinya dengan yang lebih berisi. Apalagi cerminan hasil Pemilu 2019, Nasdem di Sumbar hanya punya 1 kursi DPR RI dari dapil Sumbar 1, dan tidak memperoleh kursi DPR RI di Dapil Sumbar 2. Sedangkan di DPRD Sumbar, Nasdem hanya memiliki 3 kursi dari 65 kursi yang ada.

PKS selaku pemenang kedua Pileg 2019 di Sumbar, bisa saja memperoleh Anies efek. Dibandingkan Nasdem, jelas PKS lebih berpengalaman, baik secara kepartaian maupun kader di Sumbar. Saat ini, PKS memiliki 10 kursi di DPRD Sumbar dan 2 kadernya di DPR RI, masing-masing 1 di Dapil Sumbar 1 dan 1 lagi Dapil Sumbar 2.

Jika jadi duet Anies-AHY, jelas saja Partai Demokrat akan memperoleh energi lebih di Sumbar. Bisa jadi parpol berlambang bintang merci itu menjadi pemenang di Pileg Sumbar, karena tidak saja memperoleh Anies efek, tapi juga AHY efek.

Bagi parpol lain di Sumbar yang tidak mengusung atau mendukung Anies, jelas ini sebagai tantangan. Para pengurus parpol dan calegnya harus bekerja keras meyakinkan pemilih, sehingga bisa meredam Anies efek. *