Joni Hendri Peragakan Produksi Alkesnya di Hadapan 2 Menteri

oleh -423 klik
Joni Hendri menjelaskan kepada Menteri Kesehatan RI Budi Ali Sadikin dan Menteri Koperasi UKM Teten Masduki tentang cara kerja needle destruction yang digunakan sebagai alat untuk menghancurkan jarum suntik bekas, Jumat (19/08/2022) dalam pameran Fasilitasi Pengembangan Alkes Produksi UMKM di Hotel Alila, Solo, Jumat (19/08/2022). IST
Joni Hendri menjelaskan kepada Menteri Kesehatan RI Budi Ali Sadikin dan Menteri Koperasi UKM Teten Masduki tentang cara kerja needle destruction yang digunakan sebagai alat untuk menghancurkan jarum suntik bekas, Jumat (19/08/2022) dalam pameran Fasilitasi Pengembangan Alkes Produksi UMKM di Hotel Alila, Solo, Jumat (19/08/2022). IST

JERNIHNEWS.COM-Joni Hendri, S.Kom, MM pengusaha alat kesehatan (alkes) dan alat pengolah limbah medis insenirator memperagakan salah satu alat yang diproduksi langsung di workshop perusahaan miliknya kepada Menteri Kesehatan Budi Ali Sadikin dan Menteri Koperasi UMK Teten Masduki dalam pameran Fasilitasi Pengembangan Alkes Produksi UMKM di Hotel Alila, Solo, Jumat (19/08/2022).

Joni Hendri dan Menteri Koperasi dan UMKM, Teten Masduki. IST
Joni Hendri dan Menteri Koperasi dan UMKM, Teten Masduki. IST

Joni Hendri yang juga menjadi pengurus teras pada asosiasi alkes dan alat pengolah limbah medis kepada kedua menteri menjelaskan tentang cara kerja Needle Destruction salah satu alat yang diproduksi PT Oxtrimed Reka Mandiri. Alat ini berfungsi untuk menghancurkan jarum suntik bekas pakai agar terhindar dari penggunaan berulang, penggunaan yang tidak semestinya, dan menghindari penyakit menular.

"Beliau tanya, ini alat apa? Kita jawab nama alat ini needle destruction. Lalu beliau tanya lagi diproduksi dimana? Kita jawab di Bekasi," kata Joni Hendri, ketika dihubungi jernihnews.com tentang seputar dialog antara dengan Menkes Budi Ali Sadikin dan Menkop UKM, Teten Masduki.

Lalu berikutnya, menurut Joni, Menkes menanyakan bagaimana cara kerja Needle Destruction yang digunakan untuk menghancurkan jarum suntik bekas tersebut. Joni pun di hadapan kedua menteri dan rombongan memperagakan cara kerja alat yang kapasitas produksinya kini sekitar 1.000 unit per tahun itu.

Joni yang digadang-gadang sebagai calon kandidat Walikota Payakumbuh mengatakan perusahaan miliknya termasuk salah satu perusahaan alkes dan alat pengolah limbah medis yang diundang dalam pameran Fasilitasi Pengembangan Alkes Produksi UMKM di Hotel Alila, Solo, Jawa Tengah.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendorong keterlibatan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam produksi alat kesehatan (alkes) di Indonesia. Hal ini diharapkan mampu mengurangi impor alkes.

"Seperti paguyuban pengusaha UMKM di Pekalongan, yang membuat kain kasa. Mereka bisa membuat produksi massal," kata Menkes Budi Gunadi Sadikin sebagaimana dikutip dari Kumparan.com

Menurut Budi, produk alkes selama ini terbagi menjadi beberapa level. Yakni level canggih, sedang dan sederhana. Kemitraan dengan UMKM itu diharapkan bisa terjalin untuk produksi alkes mulai level sedang.

Budi juga menjelaskan, pihaknya sudah mengunci e-katalog untuk sejumlah produk alkes dalam negeri. "Misalnya rumah sakit vertikal yang di pusat atau pembelian di pusat. Kalau ada produk dalam negeri, tidak bisa produk impor masuk ke sana," ujarnya.

Kemenkes, lanjut Budi, juga sudah menghentikan impor tempat tidur atau bed rumah sakit. Sebab pelaku UMUM kini sudah mampu memproduksi bed berteknologi tinggi.

"Termasuk pengadaan 300 ribu antropometri atau alat ukur panjang bayi, tinggi anak dan berat bayi saat ini. Ini untuk program stunting bagi 300 ribu posyandu. Dulu memang impor, tapi masak sih kita impor lagi," tuturnya.

Kolaborasi bersama ahli dan akademisi, diyakini Menkes bisa mewujudkan produksi alkes oleh UMKM itu. Kerja sama itu salah satunya terwujud di Politeknik ATMI, Solo.

Saat mengunjungi Politeknik ATMI bersama Menkes, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Indonesia (Menkop UKM) Teten Masduki mengatakan jika pemerintah akan menyetop impor alkes secara bertahap dan menggantinya dengan produk dalam negeri.

"Ini bisa dimulai dari alkes berteknologi sederhana. Walaupun (alkes berteknologi) menengah dan tinggi, juga sudah bisa dikerjakan," terang Teten.

Lembaga pendidikan seperti Politeknik ATMI, Solo yang mengembangkan penelitian alat produksi dinilai Teten bisa menjadi mitra UMKM.

Ekosistem pembiayaan pun sudah disediakan Kemenkes. "Misal untuk alkes itu Rp 30 triliun, maka 40 persennya untuk UMKM. Sekitar Rp 15 sampai Rp 20 triliun per tahun," jelas Dirjen Kefarmasian dan Alkes Kemenkes, Rizka Andalusia.

Dalam kesempatan itu, Budi dan Teten juga menghadiri Fasilitasi Pengembangan Alkes Produksi UMKM di Hotel Alila, Solo. Hadir pula dalam acara itu Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Tengah, Taj Yasin. (erz)