Ziarah untuk Tafakur dan Ibadah

oleh -233 klik
Jemaah Haji. IST
Jemaah Haji. IST

Oleh: H. Mulyadi Muslim, Lc, MA Dt Said Marajo

Ust. H. Mulyadi Muslim, Lc, MA bersama jemaah haji dari negara lain. IST
Ust. H. Mulyadi Muslim, Lc, MA bersama jemaah haji dari negara lain. IST

JERNIHNEWS.COM-Kunjungan atau yang lazim disebut ziarah bagi jemaah haji yang sudah selesai melaksanakan rangkaian ibadah wajib haji adalah alternatif untuk terus semangat beribadah sambil menunggu jadwal kepulangan ke tanah air. Apalagi yang bersangkutan pulangnya gelombang kedua dan kloter terakhir.

Allah SWT dalam beberapa ayatnya juga mendorong kita melakukan perjalanan/kunjungan/ziarah ke tempat-tempat bersejarah, fenomenal dan bernilai tinggi dalam peradaban dalam rangka tafakur,melihat dan mentadaburi kebesaran kekuasaan Sang Khalik serta menyadari kelemahan dan kekeliruan umat manusia. (Lihat firman Allah dalam surat al An am ayat 11, An Namal ayat 69, Ar Rum ayat 42 ,dan Al Ankabut ayat 20).

Di antara tempat yang bisa dikunjungi jamaah haji selama di Makkah dan bahkan Kerajaan Saudi Arabia juga menjadikannya sebagai objek wisata religi secara resmi adalah Gua Hira, tempat Nabi pertama kali menerima wahyu. Jaraknya dari Makkah lebih kurang empat sampai tujuh kilo meter dari hotel jemaah hajiIndonesia.

Jika kita sampai disana dan melihat ukuran goa yang ditempati rasul untuk menenangkan diri dari bisingnya kemusyrikan masyarakat Quraisy waktu itu. Pasti jiwa dan pikiran kita terbawa ke suasana 15 abad yang lalu. Karena memang dari ketinggian Bukit Jabal Nur, kita masih bisa melihat ke arah Makkah dan sekitarnya yang masih menyisakan batu-batu cadas perbukitan. Terbayang bagaimana rasul setelah menerima wahyu pertama itu, dalam kondisi gemetar, ketakutan, turun sendiri menyusuri jalan menuju Makkah, menuju rumahnya.

Bukit Jabal Rahmah yang ada di Arafah bisa juga dikunjungi ulang oleh jemaah haji. Jika waktu wukuf tendanya jauh dari bukit tersebut. Atau masjid jin (tempat pertama kali Nabi Muhammad menyampaikan firman Allah dan dakwahnya kepada golongan jin). Atau bisa juga Thaif, tempat yang dikunjungi Rasul dalam rangka dakwah, dengan harapan lebih diterima masyarakat dibanding penduduk Makkah. Tetapi yang terjadi adalah, beliau mendapat lemparan batu dari penduduk yang "katanya lebih lembut dan santun dari kafir quraisy "waktu itu.

Sehingga beliau mendapat tawaran dari malaikat penjaga gunung, apakah dua gunung yang ada di sekitar Thaif ini perlu dihancurkan sehingga memporakporandakan Thaif dan sekitarnya. Tapi rasul menjawab saya hanya mengharap kasih sayang dan ridha Allah, dan semoga keturunan dari mereka suatu kelak menerima dakwahnya.

Jika jemaah hajisudah berada di Madinah, maka tempat bersejarah jauh lebih banyak. Mulai dari Raudhoh (tempat antara rumah dan mimbar rasul), Kuburan Rasul dan sahabat,Masjid Quba. Masjid Qiblatain atau pun tempat terjadinya perang Uhud dan perang Khandaq.

Rasul SAW pernah bersabda bahwa shalat di masjid beliau jauh lebih utama bila dibandingkan dengan masjid yang lain, kecuali Masjidil Haram. Kemudian beliau juga bersabda bahwa siapa yang bisa shalat empat puluh waktu di masjid beliau tanpa terputus, maka ada garansi selamat dari adzab neraka serta sifat kemunafikan. Dan juga sabda beliau bahwa antara rumah (sekarang kuburan beliau) dan mimbar adalah taman dari taman surga.

Ketiga hadis di atas setidaknya memotivasi jamaah untuk berlama-lama di Masjid Nabawi untuk shalat dan berzikir sambil menunggu waktu-waktu shalat berjamaah. Jika jamaah ingin mendengarkan cerama-ceramah agama atau belajar memperbaiki bacaan al-quran maka tempatnya ada di Masjid Nabawi.

Atau jika jamaah perlu refreshing menikmati situs bersejarah di Kota Madinah, maka pilihannya adalah di pagi hari setelah subuh. Suasana segar bisa dimanfaatkan untuk tadabbur suasana perang uhud atau khondak lima belas abad yang lalu. Ketika perang antara umat islam dan kaum kafir masih berhadap-hadapan. Berapa tingginya bukit tempat nabi dan para sahabat bertahan atau berapa lebarnya parit yang digunakan untuk perang khondak masih terlihat jelas. Sehingga jamaah bisa membayangkan suasana perang waktu itu begitu berkecamuk dan dahsyat. (*)