Tanawwu' dalam Ibadah

oleh -310 klik
Ka'bah dan Hajarul Aswad di Masjidil Haram, Makkah. IST
Ka'bah dan Hajarul Aswad di Masjidil Haram, Makkah. IST

Oleh: H. Mulyadi Muslim, Lc, MA Dt Said Marajo

Tanawwu' secara bahasa bermakna beragam atau variatif. Secara istilah sederhana bermakna beragamnya cara melakukan suatu ibadah, karena adanya dalil-dalil yang shahih untuk ibadah dimaksud. Sehingga secara kasat mata terjadi perbedaan cara pelaksanaannya.

Ulama sering mengatakan bahwa dengan contoh, kadang lebih mudah memahami persoalan. Memakai pernyataan ini, kita ambil contoh ibadah shalat yang lebih spesifiknya berkaitan dengan posisi tangan setelah takbiratul ihram. Apakah bersedekap di atas pusat (perut), atau di atas dada, atau lepas seperti posisi sebelum takbiratul ihram.

Ketiga model ini masuk ke dalam kategori tanawwu' jika ada dalil-dalil yang sahih, sehingga menjadi pedoman dalam mazhab fikih. Contoh lain pada pelaksanaan shalat tarawih, apakah cara pelaksanaannya dua rakaat salam seperti shalat sunnat biasa dan atau empat rakaat baru salam termasuk kategori tanawwu' atau taarudh/berlawanan atau tanaqudh (bertentangan)?. Begitu juga jumlah rakaatnya, 11 atau 21, dilakukan berjamaah atau sendiri -sendiri.

Mengambil konsep thoriqhatul jam'u (menggabungkan atau kompromi), supaya tidak terjadi perbedaan tajam antara pengikut mazhab jauh lebih baik, dari pada tariqhotul tarjih (memilih "pendapat atau dalil yang dianggap pling benar/kuat" versi murajjih).

Di luar pendekatan fikih dimaksud di atas,sesungguhnya secara subjektif, setiap mukallaf butuh variasi cara melaksanakan suatu ibadah karena kebutuhan lapangan (situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan ) untuk melakukan ibadah dengan cara yang paling ideal, atau afdhal sehingga mendapatkan kemaslahatan . Ada juga karena kebutuhan manusiawi untuk menghilangkan kejenuhan, kebosanan dalam beribadah, atau untuk menghadirkan semangat dan motivasi beribadah.

Tanawwu' dalam menjalankan ibadah bukan dalam ibadah sunnah saja, tapi dalam ibadah wajibpun bisa kita lakukan, dengan catatan ada dalil yang bisa dijadikan pegangan.

Dalam ibadah haji sangat banyak tanawwu' kita temukan. Mulai dari cara pelaksanaan haji, ada tamattu' (umrah terlebih dahulu, tahallul, kemudian baru haji), ifrad ( melakukan haji saja, karena waktu yang pendek) atau qiran (umrah dan haji secara bersamaan). Jika kita diberi kelapangan bisa haji dua atau tiga kali, maka kedua model atau ketiganya bisa dicoba, sesuai kondisi atau dalam rangka mengukur berat atau ringannya cara pelaksanaan haji dimaksud.

Dalam rangka mengisi waktu dan optimalisasi ibadah selama di tanah haram, kita yang meyakini adanya badal umrah untuk orang tua sebagaimana badal haji, maka bisa juga memilih tempat miqat yang berbeda. Untuk miqat badal umrah ayah di masjid aisyah - Tan im, untuk ibu misalnya di Masjid Hudaibiah.

Begitu juga pilihan waktu untuk tawaf sunnat. Suatu ketika coba di pagi hari setelah subuh, segar, tidak terlalu ramai, serta matahari tidak terasa panas. Suatu waktu bisa juga dicoba setelah tahajjud, sambil menunggu subuh, suasananya juga berbeda. Atau satu jam sebelum zuhur, atau setelah shalat zuhur, dalam suasana terik, keringat akan mencurat, karena panas terik serta ramainya orang yang tawaf. Tetapi kenikmatannya juga lebih terasa, apalagi bisa mencium hajar aswad atau dekat dari ka'bah dari putaran demi putaran thawaf.

Dalam melaksanakan shalat berjamaah, suatu kali bisa dicoba di lantai empat, suatu waktu bisa dicoba juga di lantai dasar, di saf pertama di depan hijir ismail, atau rukun yamani, atau diusahakan diantara hajar aswad dan sudut pintu ka'bah (multazam), maka pasti suasana kenikmatan beribadahnya pasti beda. Cara sederhana untuk bisa di saf pertama dan di Multazam adalah dengan memperhatikan waktu sholat.

Biasanya setengah jam menjelang shalat, pegawai Masjidil Haram akan menyiapkan peralatan untuk muafzin dan imam. Bagian keamanan pun akan mengkondisikan saf antara rukun yamani dan hajar aswad dikosongkan. Penanggung jawab saf shalat akan memberi aba-aba kepada pengunjung yang sedang duduk di pinggir luar tempat thawaf untuk menuju depan ka'bah, kemudian yang belum selesai tawaf tujuh putaran diarahkan ke arah tengah dan pinggir luar ka'bah. Jika aba-aba ini sudah ada, kita bisa maju ke depan. (*)