Mabit dan Melontar Jamarat, Simbol Ketaatan

oleh -191 klik
H. Mulyadi Muslim, Lc, MA. IST
H. Mulyadi Muslim, Lc, MA. IST

Oleh : H.Mulyadi Muslim, Lc, MA Dt Said Marajo

Muzdalifah adalah hamparan dengan panjang lebih kurang 4 km dan luasnya lebih kurang 12,25 km2. Terletak antara Arafah dan Mina,yang kiri kanannya hanya berpagar kawat. Di sinilah semua jemaah haji mampir sesaat, dan idealnya istirahat sampai subuh sekaligus mencari batu kerikil untuk kebutuhan melontar jamarat di Mina.

Mabit atau istirahat di Muzdalifah memiliki makna penguatan jiwa, pemulihan kondisi fisik, serta penyerahan jiwa kepada pemilik langit dan bumi dalam sujud-sujud jemaah haji. Sungguh ibadah itu ketundukan dan kepatuhan. Keinginan hati, pasti ingin istirahat segera di tenda Mina, tapi syariatnya menginap di lapangan terbuka, dengan udara dingin dan pengapnya jamaah. Mencari batu kerikil sebanyak 49 buah atau untuk jaga-jaga nafar tsani 70 buah batu.

Istirahat selama satu atau dua jam di Muzdalifah dianggap cukup untuk pemulihan kekuatan fisik, sehingga pagi tanggal 10 Zulhijah bisa langsung melontar jamarat aqabah dengan tujuh buah batu. Dan setelah itu bisa langsung mencukur rambut sebagai bukti tahallul awal dan istirahat penuh di tenda Mina.

Jarak antara Muzdalifah dan Mina sebenarnya hampir sama dengan jarak Arafah ke Muzdalifah, dengan berjalan kaki cukup 30 menit atau satu jam paling lama. Jika jamaah haji ingin segera tawaf ifadhoh di tanggal 10 Zulhijah,maka yang lebih aman adalah melontar langsung ketika sampai di Mina, dengan menuju Jamarat.

Mengambil konsep yang afdhal dalam ibadah ini, memang butuh kekuatan fisik dan stamina yang prima, karena tidak ada fasilitas pelayanan mobil antar jemput sama sekali. Mayoritas jemaah haji Indonesia memilih istirahat dan sarapan terlebih dahulu di tenda Mina,kemudian baru melakukan pelontaran sesuai jadwal yang ditetapkan maktab.

Untuk menuju Jamarat, rata-rata jaraknya 3,5 km ditempuh dengan jalan kaki melewati terowongan yang sebenarnya sangat safety, karena penerangan yang cukup serta ac yang disiapkan pemerintah Saudi juga repsentatif.

Tetapi ada jarak sekitar setengah KM dari tenda menuju terowongan jalan terbuka, begitu juga antar terowongan satu dengan terowongan berikutnya juga terbuka, maka suhu panas teriknya matahari sangat terasa, jika kita tidak memakai payung. Apalagi jika jemaah haji memilih tempat melontar di lantai dasar, maka sejak dari tenda memang tidak ada pelindung sama sekali.

Pada tahun 2015 ada peristiwa Mina, begitu juga tahun 1990, yaitu jatuhnya korban karena penumpukan dan bertabrakan arah antara jamaah yang akan melontar dan yang sudah melontar. Tapi pada tahun-tahun berikutnya tidak terjadi lagi. Panitia penyelenggara haji Saudi dan Indonesia sangat ketat dalam rangka menjaga keselamatan jiwa jemaah haji.

Pada hari-hari melontar sejatinya kondisi fisik jemaah haji sudah mulai menurun.Tetapi tidak sedikit juga jemaah haji Indonesia dengan rombongan Kbihu atau regunya masing -masing yang secara diam-diam tanpa sepengetahuan pembimbing ibadah dan maktab melakukan pelontaran di luar jadwal. Inilah biasanya penyebab terjadinya permasalahan. Jemaah haji yang kelelahan dalam perjalanan, kadang tertinggal begitu saja dari rombongannya, sehingga tersesat dalam perjalanan pulang ke tenda, atau tidak ada sama sekali dapat pertolongan darurat,kecuali setelah petugas patroli mengetahuinya.

Melontar jamarat sejatinya adalah simbolik melawan bisikan syetan, seperti dulu Nabi Ibrahim dan keluarganya melawan bisikan dan tipu daya syetan. Melakukan ketaatan secara berjemaah. Bahkan rangkaian ibadah haji secara keseluruhan adalah ibadah pribadi tapi dalam pelaksanaan mesti bersama, paling tidak untuk menuju lokasi ibadah seperti Masjidil Haram untuk tawaf dan sai, Arafah, Muzdalifah dan Mina.

Maka ketaatan kepada pimpinan rombongan dan regu menjadi sangat penting. Tidak bisa semangat menggebu semata, tetapi kepatuhan kepada pimpinan serta memperhatikan kondisi fisik dan kesehatan menjadi sangat penting. Di sinilah pentingnya pemahaman tentang keseimbangan antara kemaslahatan dan afdholiyah dalam beramal, atau antara semangat dan syahwat beribadah, bedanya sangat tipis, tapi efeknya sangat berbeda. (*)