Air Mata Tumpah di Arafah

oleh -251 klik
Jemaah Haji Wukuf di Arafah, 9 Zulhijjah 1443 H. IST
Jemaah Haji Wukuf di Arafah, 9 Zulhijjah 1443 H. IST

Oleh : H.Mulyadi Muslim, Lc, MA Dt Said Marajo

H. Mulyadi Muslim, Lc, MA
H. Mulyadi Muslim, Lc, MA

Haji adalah panggilan Ilahi, bukan karena kaya atau jabatan dan posisi. Tidak terhitung yang berangkat haji itu, orang biasa-biasa yang menabung dalam waktu puluhan tahun dari hasil usaha yang dianggap tidak masuk akal, seperti dalam film tukang bubur naik haji.

Tidak terhitung juga jumlahnya, mereka datang ke baitullah untuk pertama kali dan sekaligus ternyata untuk yang terakhir, karena faktor ajal atau dana yang tidak ada lagi untuk mengulangnya.

Kerinduan jemaah haji untuk beribadah di depan Ka'bah mengalahkan semua hambatan dan rintangan. Sehingga baru saja mereka sampai di hotel, belum jelas penempatan kamar ataupun barang bawaan dari tanah air, mereka dah siap menunggu aba-aba dari pembimbing ibadah untuk melakukan tawaf umrah, karena memang sejak dari miqot sudah memakai pakaian ihram dan memasang niat.

Ketika mereka memasuki Masjidil Haram, sambil membaca doa, mata mereka tertuju ke bangunan empat persegi yang ditutup oleh kain kiswah hitam dan diselipi oleh tulisan ayat alqur an dengan warna kuning keemasan.

Awalnya mereka tertegun oleh kebesaran Ka'bah, setelah itu tanpa mereka sadari air mata meleleh mengiringi langkah mereka dalam tawaf. Dalam putaran demi putaran, mereka tersadar akan dosa dan kelalaian, sehingga merasa malu untuk meminta banyak kepada pemilik Ka'bah, maka yang keluar dari mulut mereka, hanya rintihan dua tiga patah doa, dan setelah itu larut dalam derai airmata yang meleleh di pipi.

Keharuan di depan Ka'bah adalah karena kerinduan yang terobati dengan melihat Ka'bah dari dekat. Tetapi lain suasana di Masjidil Haram, lain pula di Arafah ketika wukuf tanggal sembilan Zulhijah. Seperti penjelasan Nabi Muhammad SAW dalam hadisnya bahwa haji itu adalah wuquf di Arafah. Artinya puncak haji berwukuf di Arafah, pada hari yang sama dari Zuhur hingga Magrib di tempat yang sama untuk semua yang berhaji. Rukun haJi yang tidak bisa diganti dengan apapun juga, sehingga jika ada jamaah haji yang sakit, mesti di Safari Wukufkan (didampingi oleh tim medis dengan peralatan yang memadai, seperti ambulan dan peralatan lainnya). Jika tidak memungkinkan sampai magrib minimal beberapa waktu saja, setelah itu dilakukan kembali perawatan intensif.

Di Arafah inilah, sesuai dengan namanya, tempat pengakuan dosa dan kesalahan, menyesali semua kemaksiatan dan kelalaian, sebagaimana Adam AS dan hawa mengakui dosanya melanggar larangan Allah.

Tempat khutbah wada'nya Rasul SAW

Setelah khutbah wukuf, khatib akan mengimami jemaah haji untuk shAlat zuhur dan ashar dengan jamak qashar takdim. Setelah itu biasanya ada doa bersama, atau berdoa secara mandiri hingga magrib datang. Di saat inilah airmata meleleh tiada henti, membayangkan Arafah seolah yaumul mahsyar (tempat berkumpul di hari perhitungan amal di akhirat), di saat matahari hanya sejengkal dari kepala. Teriknya panas matahari di Arafah, semakin menyadarkan jamaah haji akan dosa -dosa yang pernah dikerjakan sejak baligh.

Seolah memutar film perjalanan kehidupan masing-masing, setiap detik, langkah dan waktu yang dijalani hadir kembali, menampar kejiwaan peserta wukuf. Tidak bisa memberikan pembelaan dan bantahan. Bayangan dosa dan ancaman siksa itu amat terasa. Hati yang kasar dan keras menjadi luluh, kesombongan dan kehebatan tidak berguna. Yang terjadi adalah penyesalan, pengakuan dan akhirnya permohonan ampunan dengan penuh kesungguhan, hingga air mata menjadi kering, dengan satu asa harapan, haji yang mabrur dengan balasan sorga, seperti janji Allah dan Rasulnya.

Ketika magrib sudah selesai ditunaikan, jemaah haji secara bertahap meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah untuk mabit dan mengambil batu kerikil sebanyak empat puluh sembilan atau tujuh puluh buah. Dalam perjalanan menuju Muzdalifah ini, kembali air mata jemaah haji mengalir, sedih, haru dan bahagia bercampur menjadi satu. Sedih meninggalkan Arafah, sedih jika dosa tidak diampuni. Terharu dengan suasana Arafah yang memutih, dengan untaian patah demi patah doa, dan bahagia karena insya Allah hajinya sudah sah, karena rukun haji yaitu wukuf di Arafah telah ditunaikan. (*)