Eks Kabais: Anton Permana Aset Bangsa

oleh -817 klik
Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Letjen. TNI. Purn. Yayat Sudrajat menjadi saksi ahli militer dan pertahanan dalam persidangan dengan terdakwa petinggi KAMI Dr. Anton Permana, di PN Jaksel, Senin (10/01/2022). IST
Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Letjen. TNI. Purn. Yayat Sudrajat menjadi saksi ahli militer dan pertahanan dalam persidangan dengan terdakwa petinggi KAMI Dr. Anton Permana, di PN Jaksel, Senin (10/01/2022). IST

JERNIHNEWS.COM-Sidang petinggi KAMI Dr. Anton Permana kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (10/01/2022). Sidang panjang melelahkan ini sudah memasuki sidang yang ke-51. Agendanya menghadirkan saksi ahli militer dan pertahanan yaitu Letjen. TNI. Purn. Yayat Sudrajat.

Dr. Anton Permana.
Dr. Anton Permana.

Seperti yang dibacakan ketua tim Pengacara Abdullah Alkatiri, Letjen Purn Yayat Sudrajat pernah menjabat Kepala Badan Inteligent Strategis (Bais) TNI. Dan jabatan bintang tiganya adalah ketika menjadi Sesmenko Polhukam RI era Wiranto. Mantan Aspam KSAD yang juga prajurit Koppasus Sat Gultor 81 ini, adalah seorang ahli dan praktisi dalam dunia pertahanan dan militer.

Apalagi dalam hal inteligen. Kang Yayat (panggilan akrab beliau), juga secara berjenjang menduduki jabatan strategis di BIN (Badan Inteligent Negara) dan BAIS hingga jadi komandan tertinggi di sana.

Pengalaman serta jabatan beliau sangat cukup untuk memahami permasalahan bangsa secara utuh dan presisi. Khusus yang berhubungan dengan video kajian yang dibuat terdakwa Anton Permana dengan judul "TNI Ku Sayang, TNI Ku Malang", di mana terdakwa sebagai Direktur Lembaga Kajian Tanhana Dharma Mangruwa yang berisikan para alumnus Lemhannas RI.

Persidangan dimulai pukul 11.30 WIB. Pengacara Abdullah Alkatiri menanyakan satu persatu dari 14 poin narasi video TNI Ku Sayang, TNI Ku Malang.

Mulai dari anekdot TNI sekarang ibarat komponen pembantu, istilah multi fungsi Polri, anekdot NKRI adalah kepanjangan Negara Kepolisian Republik Indonesia, politik adu domba terhadap TNI dan Polri melalui kebijakan politik negara yang aneh, diskriminasi terhadap anggaran Polri yang jauh lebih banyak, hingga peran TNI yang ada dalam UU Nomor 34 Tahun 2004 yang saat ini atas kebijakan politik diambil alih Polri seperti : Penanganan terorisme, saparatisme, memerangi kelompok bersenjata, dan persenjataan Polri yang melebihi TNI. Padahal Polri itu adalah sipil bersenjata bukan pasukan kombatan (tempur).

Secara rinci, sistematis, dan jelas, Letjen Yayat mengatakan "Bahwa apa yang disampaikan terdakwa Anton Permana semuanya adalah benar sesuai fakta yang terjadi. Seharusnya menurut pendapat saya, pemerintah berterimakasih dan memanfaatkan kajian Anton Permana ini sebagai masukan positif. Apalagi, Anton Permana ini adalah alumni Lemhannas RI yang memang digodok, digembleng untuk mengkaji berbagai permasalahan bangsa. Jadi menurut saya Anton Permana justru adalah aset bangsa yang harus diapresiasi negara bukan dipenjarakan," sebut Kang Yayat.

Tidak itu saja, Letjen Yayat malah balik bertanya, "Kalau ada yang katakan bohong dan berlebihan, mana yang bohong, mana yang berlebihan ?", tegas jendral yang juga tokoh sentral Pasundan tersebut.

Begitu juga ketika Abdullah Alkatiri bertanya tentang ancaman komunis terhadap bangsa dan negara Indonesia. Letjen Yayat juga mengatakan, "Saya tiga tahun menjadi atase pertahanan di China. Yaitu pada tahun 2006 - 2009. Saya sangat tahu bagaimana cara dan ambisi China dalam menguasai sebuah negara seperti Xinjiang, Mongolia, dan Tibet. Awalnya seolah beri bantuan, bangun infrastruktur dengan skema turn key project. Ternyata yang dikirim tenaga kerjanya adalah tentara terlatih dari bangsa Han yang mayoritas dan tidak balik kembali. Lalu setelah cukup waktu dan kuat, baru negara tersebut direbut dan dikuasai. Dan cara tersebut sangat mirip dengan apa yang terjadi di Indonesia saat ini. Makanya saya heran, kok saat ini tak ada lagi kewaspadaan nasional bangsa kita. Ketika ada yang peduli dan sampaikan, ehh malah ditangkap dan dipenjarakan, " kata Letjen Yayat.

Kemudian dengan tenang dan penuh penekanan, Letjen Yayat juga menjelaskan bahwa, "Sebagai orang inteligen yang sekarang sudah bebas bicara saya mengatakan bahwa, ancaman komunis itu bukan kebangkitan lagi, tapi sudah masuk hampir keseluruh sendi bernegara kita. Perlu dicatat, PKI boleh sudah dibubarkan. Namun yang namanya ideologi tidak akan pernah mati ".

"Dasar argumentasi saya adalah, selain ungkapan salah satu anak PKI bernama Ribka Tjiptaning yang viral itu, juga atas pengalaman dan pengamatan saya sebagai mantan prajurit dan inteligen, di mana dengan bangkitnya China komunis saat ini, dan China mulai menggangu kedaulatan Indonesia di Laut China Selatan".

Sebagai penutup, Letjen Yayat juga menjelaskan bahwa, "Dalam dunia inteligen dan pertahanan ada yang disebut perang asymetris. Atau istilah Pak Gatot ketika jadi Panglima TNI dinamakan dengan Proxy War. Artinya, menurut pendapat saya, saat ini memang sedang terjadi "pendegradasian" atau pelemahan peran TNI secara sistematis. Yang menimbulkan kecemburuan di tataran prajurit bawah. Ini semua ibarat api dalam sekam, tinggal pemantik maka akan berbahaya dampaknya. Artinya, video kajian yang disampaikan Anton Permana adalah semua fakta dan jeritan hati prajurit TNI. Seharusnya kajian ini jadi dasar pemerintah untuk memperbaiki kebijakan politiknya terhadap TNI dan Polri. Bukan malah memenjarakan orangnya," kata Letjen Yayat menegaskan.

Selanjutnya giliran tim JPU yang hadir saat itu Agung dan Lusyana memberikan pertanyaan. Seperti apakah Letjen Yayat bahagian dari organisasi KAMI sama dengan terdakwa dan mengenal terdakwa dimana. Dan juga pihak JPU menanyakan, ada juga personil TNI yang duduk dalam jabatan sipil atas nama Dharmono.

Letjen Yayat Sudrajat menjawab. Benar adanya bahwa beliau juga bahagian dari deklarator KAMI dan melihat dan mendengar video tersebut berulang kali. Letjen Yayat berkata, "Benar saya salah satu deklarator KAMI. Dan saya mengenal terdakwa Anton Permana dari tulisan, video dan kajian-kajiannya tentang permasalahan bangsa. Malah saya yang mencari beliau," jawab Yayat Sudrajat.

Dikarenakan pertanyaan dari JPU tidak banyak, waktu yang tersisa dimanfaatkan oleh Hakim ketua yang juga bertanya, "Saudara ahli, apakah melihat video terdakwa dari you tube, WA, atau Face Book?".

Letjen Yayat menjawab, "Dari group WA yang mulia Hakim. Dan itu ada yang kirimkan".

Lalu hakim ketua melanjutkan pertanyaannya kembali, "Apakah saudara saksi ingat siapa yang kirimkan video tersebut di dalam group WA ?"

Letjen Yayat Sudrajat menjawab, "Mohon maaf yang mulia, karena kejadiannya sudah lama tahun 2020 yang lalu saya lupa," jawab Yayat.

Sidang ditutup lebih cepat dari pada yang direncanakan hakim, tepat pukul 12.15 WIB. Dan akan dilanjutkan Senin depan dengan agenda memverifikasi alat bukti, surat-surat, dari masing pihak dan juga sekiranya ada waktu langsung pemeriksaan terhadap terdakwa.

Seperti diketahui, terdakwa Dr. Anton Permana salah satu petinggi KAMI bersama rekan dua yang lainnya Dr. Syahganda Nainggolan dan Jumhur Hidayat, ditangkap dan dipenjarakan oleh Mabes Polri sejak Oktober 2020 yang lalu. Atas tuduhan penyebaran berita bohong, ujaran kebencian dan SARA. Sesuai Peraturan Pidana nomor 1 tahun 1946 dan UU ITE.

Dr. Syahganda Nainggolan sudah divonis 10 bulan dan incraht. Muhammad Jumhur Hidayat juga divonis 10 bulan potong masa tahanan, namun sekarang dalam proses banding.

Tinggal terakhir Dr. Anton Permana, yang masih proses sidang. Di mana Senin depan sudah masuk pada tahapan pemeriksaan terdakwa. Dr. Anton Permana juga pernah menjalani masa tahanan selama 7,5 bulan di rutan Bareskrim Mabes Polri. (rel/erz)