Semestinya Monumen PDRI/Bela Negara di Koto Tinggi Sudah Selesai

oleh -530 klik
Bangunan Utama Monumen PDRI/Bela Negara di Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota. Proyek monumen yang dibangun dengan dana APBN ini mangkrak, dan entah kapan lagi dilanjutkan. IST
Bangunan Utama Monumen PDRI/Bela Negara di Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota. Proyek monumen yang dibangun dengan dana APBN ini mangkrak, dan entah kapan lagi dilanjutkan. IST

JERNIHNEWS.COM- Sudah hampir sepuluh tahun sejak mulai dibangun, monumen Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) atau Monumen Bela Negara di Jorong Aia Angek Nagari Koto Tinggi Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota belum juga selesai.

Suasana Upacara Peringatan Hari Bela Negara(HBN) ke-73 di Koto Tinggi yang dihadiri Dirjen Pothan Kemenhan RI, Mayjen TNI Dadang Hendrayudha dan Gubernur Sumbar Mahyeldi, 19 Desember 2021. IST
Suasana Upacara Peringatan Hari Bela Negara(HBN) ke-73 di Koto Tinggi yang dihadiri Dirjen Pothan Kemenhan RI, Mayjen TNI Dadang Hendrayudha dan Gubernur Sumbar Mahyeldi, 19 Desember 2021. IST

Monumen yang menjadi bukti sejarah bahwa Koto Tinggi pernah menjadi sentral perjuangan penyelamatan kemerdekaan RI, masih terbengkalai. Semestinya di masa Bupati Irfendi atau pun di kala Prabowo menjabat Menteri Pertahanan RI, monumen itu sudah selesai.

Gubernur Sumbar Mayheldi dan Bupati Limapuluh Kota Safaruddin menemui Dirjen Pothan Kemenhan RI Mayjen TNI Dadang Hendrayudha, 05 November 2021. IST
Gubernur Sumbar Mayheldi dan Bupati Limapuluh Kota Safaruddin menemui Dirjen Pothan Kemenhan RI Mayjen TNI Dadang Hendrayudha, 05 November 2021. IST

Kini monumen yang berdiri di atas lahan seluas 50 hektar sumbangan masyarakat Koto Tinggi itu baru selesai sekitar 40 persen. Baru hanya bangunan utama. Sedangkan bangunan pendukung lainnya belum dibangun sama sekali. Demikian pun infrastruktur, seperti jalan beraspal dan juga jaringan komunikasi belum tersedia. Yang ada hanya jalan tanah yang lenyah berlumpur ketika diguyur hujan. Para tamu atau pengunjung seperti terisolir ketika datang ke lokasi ini, akibat tidak bisa berkomunikasi dengan dunia luar, karena ketiadaan jaringan telepon.

Di akhir tahun 2021 ini, sejalan pula dengan peringatan 73 tahun Hari Bela Negara, tokoh muda Jorong Aia Angek Nagari Koto Tinggi, Widra Effendi sangat berharap penuntasan proyek pembangunan Monumen PDRI/Bela Negara itu tidak lagi sekedar retorika. Tapi mesti segera diselesaikan. Seiring dengan itu, akses jalan juga mesti diperbaiki pula. Pun demikian dengan sarana komunikasi, juga mesti segera diadakan sehingga bisa menyentuh seluruh wilayah Nagari Koto Tinggi.

Bupati Limapuluh Kota Safaruddin dan Bupati Pasaman Benny Utama saat MoU pembangunan akses jalan Bonjol - Koto Tinggi di Kantor Bupati Limapuluh Kota, 13 Juli 2021.
Bupati Limapuluh Kota Safaruddin dan Bupati Pasaman Benny Utama saat MoU pembangunan akses jalan Bonjol - Koto Tinggi di Kantor Bupati Limapuluh Kota, 13 Juli 2021.

"Kalau seperti sekarang, keberadaan monumen tersebut manfaatnya belum dapat dirasakan oleh masyarakat. Karena itu mesti dituntaskan segera. Jangan hanya wacana-wacana saja. Jalan dan sarana komunikasi juga harus segera disiapkan," kata Widra menegaskan.

Tokoh Muda Nagari Koto Tinggi Widra Effendi dan Gus Ardi Novel. IST
Tokoh Muda Nagari Koto Tinggi Widra Effendi dan Gus Ardi Novel. IST

Benar, sebut Widra, semestinya di masa Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi yang pemerintahannya sejalan dengan pemerintahan RI Joko Widodo, pembangunan Monumen PDRI/ Bela Negara itu sudah tuntas. Tapi nyatanya tidak. Demikian pula, di kala kepemimpinan Prabowo Subianto di Kementerian Pertahanan RI, proyek pembangunan monumen yang sangat bersejarah bagi perjalanan NKRI itu semestinya berjalan lancar, tidak mangkrak seperti sekarang.

Anggap sajalah sebagai balas budi. Sebab perhatian dan dukungan masyarakat Sumbar terhadap Prabowo Subianto dalam dua kali helatan politik nasional, sangatlah besar. Bahkan tertinggi persentasenya di tanah air. Tapi harapan itu tidak jadi kenyataan. Dari pertama dibangun tahun 2012 anggaran pembangunan Monumen PDRI/Bela Negara berada di Kementerian Pertahanan RI. Saat itu Menteri Pertahanan RI dijabat oleh Mahfud MD. "Ya memang benar, harusnya demikian. Tapi buktinya tidak," ujar Widra.

Ketua DPRD Provinsi Sumbar Supardi yang juga berasal dari Dapil Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh yang juga politisi Partai Gerindra tentu sedianya juga dapat menjadi penyambung lidah aspirasi kepada Menhan Prabowo Subianto Ketua Umum Partai Gerindra. Ketua DPRD Limapuluh Kota Deni Asra yang juga Ketua DPC Partai Gerindra tentu juga mestinya lebih lempang mengkomunikasikan hal ini kepada Ketumnya, Prabowo. Artinya, semua bakal bisa lebih mudah jika ada political will.

Gubernur Sumbar Mahyeldi dan Bupati Limapuluh Kota Safaruddin Dt. Bandaro Rajo sudah melakukan berbagai upaya agar pemerintah pusat kembali mengucurkan anggaran untuk kelanjutan atau penyelesaian Monumen PDRI/Bela Negara. Gubernur Mahyeldi dan Bupati Safaruddin sudah menemui Kementerian Pertahanan RI, Jumat (05/11/2021). Tapi mereka hanya bertemu Dirjen, tidak diterima langsung oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Mahyeldi dan Safaruddin diterima oleh Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI, Mayjen TNI Dadang Hendrayudha. Dirjen Pothan Kemenhan Mayjen TNI Dadang Hendrayudha ini pulalah yang menghadiri upacara puncak peringatan HBN ke-73 di Koto Tinggi, 19 Desember 2021.

Selanjutnya entah masih kurang yakin dengan respon Kemenhan RI, Gubernur Mahyeldi pun menemui Ketua MPR RI Bambang Soesatyo Selasa, (16/11/2021) di Jakarta. Mahyeldi sekaligus mengundang Ketua MPR RI itu untuk menghadiri upacara peringatan HBN ke-73. Meskipun pada akhirnya Bambang Soesatyo nyatanya juga tidak hadir.

Pada pertemuan dengan Bambang kali itu, Gubernur Mahyeldi juga menyampaikan permintaan agar anggaran lanjutan pembangunan Monumen PDRI/ Bela Negara dimasukan dalam APBN. Berikutnya Gubernur Mahyeldi juga mengekspos soal urgensi pembangunan Monumen PDRI/Bela Negara di Kementerian Dalam Negeri.

Sedangkan Bupati Limapuluh Kota Safaruddin juga telah menyiapkan program pembangunan di kawasan Gunung Omeh yang terintegrasi dengan program pembangunan Pemkab Pasaman. Limapuluh Kota membangun jalan dari Koto Tinggi (Gunung Omeh) menuju Bonjol (Pasaman), sedangkan Pemkab Pasaman membangun jalan pula dari arah Bonjol Pasaman menuju Koto Tingi Gunung Omeh (Limapuluh Kota).

Direncanakan program tersebut akan mempersingkat jarak tempuh dari Pasaman ke Kabupaten Limapuluh Kota, karena selama ini harus memutar ke wilayah Agam dan Bukittinggi. Terbukanya akses jalan itu juga mempersingkat jarak tempuh dari Pasaman ke Pekanbaru, Riau. Pemasaran produk pertanian dan perikanan Pasaman ke Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh serta ke Pekanbaru akan lebih cepat. Jalan baru itu nantinya akan banyak memangkas jarak dan waktu.

Tidak main-main, Bupati Limapuluh Kota Safaruddin dan Bupati Pasaman Benny Utama pun membuat MoU khusus untuk sinergi dua daerah yang dipimpinnya. MoU diteken pada Selasa (13/07/2021) di Kantor Bupati Limapuluh Kota. Turut hadir pula Forkopimda kedua daerah di hari penandatanganan MoU tersebut. Jalan yang akan dibangun lebarnya 16 meter. Sedangkan panjangnya 15 KM. Jalan ini sebenarnya dari dulu sudah pernah dibuka, tapi tidak pernah tuntas. Masih jalan tanah, dan kondisinya sangat parah sehingga tidak bisa dilalui kendaraan.

Harapan Anak Nagari

Gus Ardi Novel, tokoh muda asal Nagari Koto Tinggi yang berdomisi di Pekanbaru, Riau juga tak henti-henti berharap agar Pemkab Limapuluh Kota, Pemprov Sumbar dan pemerintah pusat memperhatikan lebih serius soal kelanjutan pembangunan monumen PDRI/Bela Negara Koto Tinggi. Karena menurutnya, selain itu akan menjadi bukti sejarah perjalanan kemerdekaan Bangsa Indonesia dan juga sebagai upaya untuk mengangkat kemajuan pembangunan dan perekonomian masyarakat Koto Tinggi.

Novel mengatakan ayahnya Agustian DT Bandaro Mudo selaku pemuka masyarakat Koto Tinggi juga ikut andil dalam proses perjuangan berdirinya Monumen PDRI/Bela Negara. Dia pun terus menghimbau agar para pemuka masyarakat Koto Tinggi agar terus berjuang untuk kelanjutan pembangunan monumen yang nantinya secara otomatis juga akan berdampak kepada kemajuan Koto Tinggi di berbagai sektor.

Gus Ardi Novel, alumni Universitas Bung Hatta (UBH) itu juga mengingatkan agar pemuka masyarakat Koto Tinggi juga tidak lupa memberikan edukasi kepada generasi muda tentang sejarah dan keberadaan PDRI, sehingga mereka paham bahwa Koto Tinggi, Kabupaten Limapuluh dan juga Sumatera Barat memiliki peran besar di dalam upaya mempertahankan Kemerdekaan RI.

"Kita harus menyiapkan generasi muda Koto Tinggi yang mengerti dan paham dengan sejarah PDRI," kata Novel, menegaskan.

Entah kapan proyek monumen dengan segala infrastruktur pendukungnya akan tuntas. Apakah tuntas menjelang 2024 atau akan menjadi proyek mangkrak selamanya? (yon erizon)