Desain Arsitektur Masjid Raya Sumbar Terbaik di Dunia

oleh -317 klik
Masjid Raya Sumatera Barat di Jl. Khatib Sulaiman Kota Padang. IST
Masjid Raya Sumatera Barat di Jl. Khatib Sulaiman Kota Padang. IST

JERNIHNEWS.COM- Masjid Raya Sumbar, masjid kebanggan orang Minang dinobatkan sebagai pemenang penghargaan Abdullatif Al-Fozan untuk arsitektur masjid terbaik di dunia. Desain arsitektunya yang istimewa dan menarik menjadi penilaian khusus dari panitia dari enam masjid lainnya.

Masjid ini adalah masjid terbesar di Sumatera Barat. Letaknya di Jl. Khatib Sulaiman, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang. Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Raya Sumbar, pada 21 Desember 2007, di masa Gubernur Gamawan Fauzi. Pembangunannya tuntas pada 4 Januari 2019 dengan total biaya Rp 330 miliar. Sebagian besar berasal dari APBD Sumbar. Pengerjaannya dilakukan secara bertahap karena keterbatasan anggaran dari provinsi.

Penghargaan ini diumumkan dalam kompetisi internasional ketiga di Madinah, Arab Saudi, Senin (20/12/2021) sebagaimana dilansir dari dari iqna.ir.

Penghargaan Abdullatif Al Fozan untuk Arsitektur Masjid membahas ide-ide baru untuk desain masjid di seluruh dunia dan mendorong inovasi dalam perencanaan, desain, dan teknologi yang dapat membentuk identitas arsitektur masjid di abad ke-21.

Ada empat kategori yaitu masjid pusat, masjid Jam', masjid lokal dan masjid komunitas. Motto dari penghargaan ini adalah "Arsitektur Masjid di 21st Century".

Sebanyak 201 masjid di 43 negara telah dinominasikan untuk penghargaan internasional, 27 di antaranya terpilih dan akhirnya tujuh diumumkan sebagai pemenang utama.

Berikut tujuh pemenang edisi ketiga masjid dengan desain arsitektur terbaik yaitu:

  1. Masjid Raja Abdullah di Riyadh
  2. Masjid Basuna di desa Basuna Sohag Mesir
  3. Masjid Al-Ahmar di Bangladesh
  4. Masjid Raya Sumatera Barat di Indonesia
  5. Masjid Sancaklar di Buyukcekmece Istanbul Turki
  6. Masjid Amir Shakib Arslan di Lebanon
  7. Masjid Agung Djenne di Mali

Sultan bin Salman bin Abdulaziz, penasihat raja Saudi dan anggota dewan pengawas penghargaan menggarisbawahi pentingnya memperhatikan masjid dan arsitekturnya serta peran mereka dalam pembangunan di komunitas lokal.

Konstruksi masjid terdiri dari tiga lantai. Ruang utama yang dipergunakan sebagai ruang salat terletak di lantai atas, memiliki teras yang melandai ke jalan. Denah masjid berbentuk persegi yang melancip di empat penjurunya, mengingatkan bentuk bentangan kain ketika empat kabilah suku Quraisy di Mekkah berbagi kehormatan memindahkan batu Hajar Aswad. Bentuk sudut lancip sekaligus mewakili atap bergonjong pada rumah adat Minangkabau rumah gadang.

Adalah Rizal Muslimin yang menjadi perancang desain Masjid Raya Sumatera Barat. Rizal berasal dari kantor arsitektur kenamaan asal Bandung, Urbane Indonesia (UI).

UI merupakan kantor arsitektur yang dibuat oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil sebelum berkecimpung ke dunia politik. Ada tiga masjid dari UI yang masuk ke dalam nominasi Abdullatif Al-Fozan Award selain Masjid Raya Sumatra Barat.

Dua masjid lainnya bahkan dirancang langsung Ridwan Kamil, yakni Masjid Al Irsyad di Kota Baru Parahyangan dan Masjid Al Safar di rest area KM 88 Jalan Tol Purbaleunyi.

"Jadi yang mendapat penghargaan itu ada tiga kategori. Satu arsitek pemenang sayembara namanya kang Rizal Muslimin arsitek saya dulu, yang di-backup oleh kantor saya, namanya Urbane Indonesia dan PT Penta yang menggambar teknisnya," ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil di Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa (21/12/2021), sebagaimana dikutip dari Republika.

Emil mengaku bangga dengan capaian yang diraih Rizal. Hal ini membuktikan karya arsitek di Indonesia telah diakui oleh dunia.

"Nah poinnya adalah karya-karya Indonesia ini sekarang bisa diakui dunia," ujar Emil.

Principal Urbane Indonesia Reza Achmed Nurtjahja mengatakan dihubungi oleh panitia dari Abdullatif Al Fozan Award dan diminta mengirimkan desain masjid yang telah dibangun pada 2010 itu. Desain karya Rizal memenangkan sayembara desain Masjid Raya Sumatera Barat sebelum dilirik oleh Abdullatif Al-Fozan Award.

"Kami dikontak oleh panitia dan diminta menyerahkan desain Masjid dari tahun 2010. Mungkin mereka pernah melihat artikel yang membahas masjid Al Irsyad di sebuah majalah arsitektur Asia," kata Reza.

Mengutip dari situs Abdullatif Alfozan Award, ajang penghargaan ini pertama kalinya diselenggarakan pada 2011. Sejak saat itu Abdullatif Al Fozan award telah berlangsung sebanyak tiga kali.

Tiga tahun kemudian, penghargaan ini mulai mencakup desain masjid yang ada di negara-negara Teluk. Di tahun ketiga pada 2017, cakupan peserta meluas hingga ke negara-negara lain dengan penduduk Muslim. (pr)