Over Kapasitas, LP Payakumbuh Tetap Rukun dan Aman, Apa Rahasianya?

oleh -248 klik
Kegiatan Penyuluhan Hukum Bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Payakumbuh, kerja sama dengan Polres Payakumbuh, Selasa (09/11/2021). ERZ
Kegiatan Penyuluhan Hukum Bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Payakumbuh, kerja sama dengan Polres Payakumbuh, Selasa (09/11/2021). ERZ

JERNIHNEWS.COM-Lapas over kapasitas, adalah cerita klasik. Meskipun sudah menjadi persoalan sejak lama, tapi belum ada solusi konkrit hingga sekarang. Makanya sering terjadi macam-macam di Lapas. Salah satu Lapas yang over kapasitasnya fantastis adalah Lapas Payakumbuh, mencapai 400 persen. Kendati demikian, tetap aman dan kondusif. Apa rahasianya?

Kepala Lapas Kelas IIB Payakumbuh, Muhamad Kameily, A.Md.IP, SH, MH. ERZ
Kepala Lapas Kelas IIB Payakumbuh, Muhamad Kameily, A.Md.IP, SH, MH. ERZ

Kepala Lapas Kelas IIB Payakumbuh, Muhamad Kameily, A.Md.IP, SH, MH mengungkapkan, karena kondisi Lapas yang dia pimpin selalu aman dan tenang, makanya dia pun merasa bahwa tempat tugasnya yang paling nyaman adalah di Lapas ini. Jumlah WBP di Lapas Kelas IIB Payakumbuh 285 orang. Sedangkan idealnya hanya 46 orang saja. Sebanyak 70 persen napi kasus narkoba.

Kameily selama ini memang bertugas di daerah keras. Dia pernah bertugas di Lampung, Aceh, Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan. Situasi di tempat bertugasnya selama ini sangat jauh berbeda dengan Payakumbuh, Sumatera Barat. Beragam persoalan terjadi di lapas-lapas pada daerah keras itu.

Namun rupanya tempaan di lapas-lapas pada daerah keras itu pulalah yang membuatnya bisa menjadi lebih matang dan siap menghadapi aneka persoalan. Bertugas di daerah keras, dia tidak terbawa keras. Tetapi lebih kepada menguasai persoalan dan memiliki wawasan serta pergaulan yang luas.

"Saya di mana-mana punya banyak teman. Di Lampung, Sumatera Selatan, Aceh dan Sulawesi Selatan juga begitu. Saya suka bergaul dan punya banyak teman," kata Kameily kepada jernihnews.com, Selasa (09/11/2021) di rumah dinasnya, Komplek Lapas Kelas IIB Payakumbuh, Jl. Sudirman Kota Payakumbuh.

Kameily mengaku tidak punya rahasia khusus menjadikan Lapas di tengah Kota Randang ini tetap aman dan kondusif. Hanya saja, dia berupaya sungguh-sungguh menerapkan pembinaan kepada warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang terdiri dari narapidana dan tahanan.

Pembinaan tersebut berupa pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian. Kepribadian di antaranya adalah melalui pendekatan keagamaan, sehingga keimanan para WBP kepada Allah SWT dapat meningkat. Pengajian, pelatihan dan pesantren kilat keagamaan rutin diselenggarakan di Lapas. Ada juga pelatihan dan sosialisasi bidang hukum dan lainnya.

Berikutnya pembinaan kemandirian. Para WBP diberikan pelatihan berupa keterampilan atau skill di berbagai bidang, sesuai dengan minat WBP. Seperti pelatihan montir, mengelas, dan lain sebagainya. Tujuannya, skill yang diperoleh dapat dijadikan bekal oleh para WBP setelah bebas.

Berikut juga benar-benar ditanamkan kesadaran kepada para WBP untuk berperilaku baik dalam menjalankan masa hukuman. Begitu ada membuat ribut, onar atau berkelahi akan diberikan sanksi tegas, berupa pengasingan di sel khusus dan juga sanksi tidak diusulkan remisi pada momen-momen tertentu, sehingga tidak mendapatkan pemotongan masa kurungan.

Sanksi yang demikian benar-benar diterapkan secara tegas. Tidak ada lagi mempergunakan sanksi kekerasan fisik. Ternyata sangat efektif. Napi lebih takut dengan sanksi kurungan sel khusus dan tidak diberikan hak remisi, ketimbang sanksi fisik. Dampaknya, para WBP saling menjaga kerukunan. Tak mau bikin ribut atau berkali dan berbuat macam-macam di Lapas.

"Berat badan saya bertambah selama bertugas di sini. Itu bukti bertugas di Lapas Payakumbuh ini lebih nyaman," kata Kameily.

Kenyamanan Kameily semakin lengkap, karena istrinya juga bertugas sebagai staf di Lapas Payakumbuh. Otomatis sang istri juga menjadi Ketua Dharmawanita Lapas kelas IIB Payakumbuh. Bagi Kameily dan istrinya bertugas di Payakumbuh, sama dengan pulang kampung. Sebab istrinya berasal dari Barulak, Kabupaten Tanah Datar yang hanya berjarak sekitar 10 Km dari Kota Payakumbuh. (erz)