Sekolah PTM Dimulai, Tukang Jahit Sepatu pun Tersenyum

oleh -277 klik
Amrizal (62) tukang jahit sepatu di Simpang Tiga Jl. Tembakau Payakumbuh. ERZ
Amrizal (62) tukang jahit sepatu di Simpang Tiga Jl. Tembakau Payakumbuh. ERZ

JERNIHNEWS.COM-Pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak Maret 2020, berdampak luas kepada seluruh sendi kehidupan. Selain kesehatan, sektor ekonomi salah satu yang terdampak. Tukang jahit sepatu pun turut merana, karena sekolah dan kuliah tidak tatap muka, sehingga pelajar dan mahasiswa tak pakai sepatu. Setelah 1,5 tahun sepi orderan, kini mereka sumringah lagi. PTM (pembelajaran tatap muka) telah dimulai.

Amrizal (62) salah seorang penjahit sepatu di Simpang Tiga Jl. Tembakau, Kota Payakumbuh kini sudah merasa lega. Kesulitan ekonomi selama 18 bulan atau 1,5 tahun yang dihadapinya, karena sangat sepinya orderan menjahit sepatu selama pandemi kini mulai berakhir. Orderan menjahit sepatu kini sudah mulai normal kembali. Bahkan, karena semua serentak memulai sekolah dan kuliah tatap maka, orderan pun lebih banyak ketimbang masa normal.

"Syukur alhamdulillah, sejak dua pekan terakhir, saya bisa menabung Rp1 juta dalam sepekan, setelah semua kebutuhan saya keluarkan. Jadi itu simpanan bersih saja," kata Amrizal yang berasal dari Ombilin, Kabupaten Tanah Datar, Sabtu (02/10/2021) kepada jernihnews.com di lapak jahit sepatunya.

Pria beranak empat yang beralamat di Lingkungan Gantiang Kelurahan Nunang Daya Bangun ini bertutur soal masa sulit pandemi corona yang dihadapinya selama 1,5 setahun. Kondisi terparah adalah di awal-awal pandemi sekitar pertengahan tahun 2020. Saat itu Pasar Pusat Payakumbuh sempat ditutup Pemko Payakumbuh selama satu pekan. Akibatnya suasana sangat sepi.

Amrizal yang telah menekuni profesi sebagai tukang jahit sepatu sejak 1985, tidak punya pilihan selain tetap membuka lapak jahit sepatunya. Dari pagi hingga sore terkadang tak seorang pun yang datang menjahit sepatu kepadanya. Sementara kebutuhan hidup dia bersama istrinya tetap haris dipenuhi. Untung saja empat orang anaknya sudah bekeluarga dan tidak lagi menjadi tanggungannya.

Pria yang istrinya juga berasal dari Tanah Datar ini pun sering merebahkan badan di lapaknya menunggu orderan jahitan. "Untuk meluruskan pinggang. Karena letih dan sakit juga pinggang jika duduk terus," kata Amrizal mengemukakan alasannya. Terkadang, dia juga tertidur pulas.

Meski sudah menunggu lama, namun yang ditunggu juga tak kunjung datang. Tentu saja, karena umumnya yang menjahit sepatu adalah anak sekolah dan mahasiswa. Sedangkan mereka belajar daring atau luring dari jarak jauh. Mereka tidak datang ke sekolah atau kampus, sehingga tidak memakai sepatu.

Sebagian pegawai negeri sipil (PNS), BUMN, dan swasta formal juga bekerja dari rumah. Tidak masuk kantor. Juga ada pembatasan jam kerja. Dampak dari itu sepatu jarang dipakai dan tetap awet, sehingga tidak perlu layanan tukang jahit sepatu.

Allah SWT pun memberikan bantuan terhadap Amrizal dan keluarga melalui tangan-tangan warga Kota Payakumbuh yang memiliki kelebihan rezeki. Tanpa dia minta, dan tanpa disangka-sangka Amrizal, tiba-tiba pada hari-hari tertentu ada saja orang memberinya uang atau pun beras dan bahan sembako lainnya. Orang itu ada yang datang pakai sepeda motor dan mobil. Dia tidak mengenal mereka sama sekali. Dari kepedulian warga itulah, dia bisa bertahan di tengah pandemi corana yang benar-benar membawa efek luar biasa terhadap perekonomian dan sendi-sendi kehidupan lainnya.

Sejak Bulan September 2021, angka kasus Covid-19 di Kota Payakumbuh jauh menurun. Demikian pula di daerah kota/kabupaten lainnya di Sumatera Barat dan nasional pada umumnya. Di berbagai negara di dunia, kasus Covid-19 juga demikian, sudah sangat jauh menurun.

Sebagian besar kelurahan di Kota Payakumbuh dan nagari di Kabupaten Limapuluh Kota kini sudah masuk zona hijau. Pada Ahad (03/10/2021), berdasarkan ekspos dari Juru Bicara Satgas Covid-19 Sumbar, Jasman Rizal Dt. Bandaro Bendang tidak ada kasus positif covid-19 baru di kedua daerah. Pada seluruh daerah di Sumbar pertambahan kasus baru positif corona hanya 17 orang saja. Total yang tercatat kasus postif Covid-19 yang aktif di Sumbar saat ini hanya 180 orang.

Sejalan dengan hampir berlalunya pandemi Covid-19 di Sumbar, terkhusus di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota, sekolah dan kuliah PTM pun dimulai. Pelajar dan mahasiswa pun datang ke sekolah atau kampus. Seperti biasanya, mereka wajib pakai sepatu. Setelah 1,5 tahun tak dipakai atau jarang dipakai, kondisi sepatu pun sebagian tidak normal lagi. Ada saja lem atau jahitannya yang lepas. Sehingga sepatu harus direperasi.

Orderan Pak Amrizal pun tiba. Begitu pula dengan tukang jahit sepatu lainnya di Pasar Payakumbuh. Orderan tidak saja dari warga Payakumbuh, tapi juga dari Kabupaten Limapuluh Kota dan sebagian wilayah Tanah Datar yang daerahnya lebih dekat dengan Pasar Payakumbuh.

"Alhamdulillah sehari terkadang ada orderan 15 hingga 20 pasang sepatu," kata Amrizal sumringah. Pria yang sejak tahun 1979 merantau di Kota Payakumbuh kini bisa tersenyum kembali. (ye)