Suryadi Asmi Mengenang Gempa Dahsyat 30-09-2009 saat Masih Dirut Bank Nagari

oleh -243 klik
H. Suryadi Asmi, SE, MM Dt. Rajo Nan Sati, mantan Dirut Bank Nagari 2 periode mengenang dahsyatnya musibah gempa yang mengguncang Kota Padang dan Kab/Kota lainnya di Sumbar, 30 September 2009 pukul 17:16:10 WIB, genap 12 tahun lalu, saat Suryadi menjabat Dirut periode pertama. IST/JNC
H. Suryadi Asmi, SE, MM Dt. Rajo Nan Sati, mantan Dirut Bank Nagari 2 periode mengenang dahsyatnya musibah gempa yang mengguncang Kota Padang dan Kab/Kota lainnya di Sumbar, 30 September 2009 pukul 17:16:10 WIB, genap 12 tahun lalu, saat Suryadi menjabat Dirut periode pertama. IST/JNC

JERNIHNEWS.COM-Hari ini, 30 September 2021 pukul 17:16:10 WIB, genap 12 tahun gempa dahsyat 7,6 SR memporakporandakan Kota Padang dan daerah lainnya di Sumbar. Gempa yang menyebabkan 1.117 korban tewas tersebut, masih segar di ingatan H. Suryadi Asmi SE, MM Dt. Rajo Nan Sati, yang saat itu menjabat Dirut Bank Nagari. Dia merasakan sendiri kedahsyatannya, karena sedang berada di Gedung Pusat Bank Nagari di Jl. Pemuda Kota Padang.

Bankir kelahiran 21 Desember 1954 ini berkantor di lantai 2. Sebelum terjadi gempa Suryadi yang dua periode menjadi Dirut Bank Nagari masih menerima tamu Ketua Komisi 2 DPRD Sumbar Drs. H. Marlis, MM di ruang kerjanya. Setelah Marlis pamit, Suryadi langsung berwuduk untuk melaksanakan shalat Ashar.

Begitu selesai shalat dia langsung memakai sepatu di kursi kerja dan pada saat itulah gempa kuat terjadi. Dia tidak punya waktu untuk lari/ keluar menyelamatkan diri dan tetap bertahan di ruangan dengan mendekap tiang bangunan.

"Setelah gempa reda saya keluar ruangan untuk melihat suasana lingkungan kantor. Waktu saya berjalan ada sesuatu yang tidak nyaman di kaki. Rupanya sepatu yang saya pakai baru pada kaki kanan dan saya kembali lagi ke ruangan untuk memakai sepatu kaki kiri dan di luar terdengar suara karyawan "Pak Dirut, Pak Sur, masih di dalam, belum keluar" teriak karyawan," kata Suryadi mengenang kembali kejadian 12 tahun silam yang ditulisnya kembali oleh pria asal Sandiang Baka, Kabupaten Solok tersebut di laman FB-nya.

Begitu dia keluar kantor terdengar suara ucapan Alhamdulillan dari karyawan, sembari menyuarakan lagi bahwa Suryadi Asmi selamat. Suryadi melihat ke lantai 5 Gedung Bank Nagari dan terlihat bangunan kantor yang dipimpinnya itu mengalami kerusakan yang cukup berat serta menganggu system jaringan. Namun berkat dukungan pejabat/ karyawan maka dalam waktu 2 hari pelayanan nasabah dapat dilakukan dalam kondisi darurat di halaman gedung kantor.

Korban di Kantor Bank Nagari alhamdulillah tidak ada. Ada korban meninggal 2 orang karyawan Bank Nagari saat berada di luar kantor, yakni seorang karyawati Syarifah Zubeidah di Plaza Andalas dan seorang karyawan lagi bernama Budi saat menjadi nara sumber suatu seminar di Hotel Ambacang Padang.

"Semoga almarhum dan almarhumah mendapat tempat yang mulia di sisi Allah SWT," panjat Suryadi mendoakan mantan keryawannya.

Mengingat lantai 5 kantor Bank Nagari kondisinya cukup parah, maka hasil konsultasi dengan konsultan, maka lantai 5 harus dibongkar untuk mengurangi beban. Sementara konstruksi masih kokoh atau baik dan dilakukan renovasi dan rehabilitasi gedung kantor menjadi bentuk/ tampilan sekarang.

"Semoga ke depan Allah SWT menjauhkan kita dari bencana gempa yang maha dahsyat itu yang banyak menelan korban jiwa dan harta benda. Aamiin yaa rabbal alamiin," kata Suryadi Asmi yang sempat menjadi CEO Terbaik Bank Pembangunan Daerah (BPD) Terbaik se-Indonesia di Tahun 2012.

Gempa ini berpusat di lepas pantai Sumatera, sekitar 50 km barat laut Kota Padang. Gempa menyebabkan kerusakan parah di beberapa wilayah Sumbar seperti Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Agam, Kota Solok, dan Kabupaten Pasaman Barat.

Menurut data Satkorlak BNPB, sebanyak 1.117 orang tewas akibat gempa ini. Korban luka berat mencapai 1.214 orang, luka ringan 1.688 orang, korban hilang 1 orang. Sedangkan 135.448 rumah rusak berat, 65.380 rumah rusak sedang, dan 78.604 rumah rusak ringan. (*)

Editor: erz