2 Guru Besar Bedah Buku Autobiografi Prof. Makmur Syarif

oleh -616 klik
Peluncuran, seminar, dan bedah Buku Autobigrafi Prof. Dr. H. Makmur Syarif, SH, M.Ag (Rektor IAIN IB Padang), Selasa (14/09/2021) di Aula UIN IB Padang. ERZ
Peluncuran, seminar, dan bedah Buku Autobigrafi Prof. Dr. H. Makmur Syarif, SH, M.Ag (Rektor IAIN IB Padang), Selasa (14/09/2021) di Aula UIN IB Padang. ERZ

JERNIHNEWS.COM-Buku Autobiografi 70 Tahun Prof. Dr. H. Makmur Syarif, SH, M.Ag diseminarkan dan dibedah oleh dua orang guru besar, Selasa (14/09/2021) di Aula Kampus UIN Imam Bonjol, Padang. Mereka adalah Prof. Dr. Azyumardi Azra (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta) dan Prof. Dr. H. Sofyarma Marsidin, M.Pd (Ketua Senat UNP).

Buku autobiografi mantan Rektor IAN IB Padang (kini UIN IB) tersebut berjudul Intelektualitas dan Etos Religio-Sosial Anak Madrasah. Sebagai pembuka seminar dan bedah buku adalah Rektor UIN IB Padang Prof. Dr. Martin Kustati, M.Pd yang diwakili oleh Wakil Rektor III UIN IB Padang, Dr. Ikhwan, SH, M.Ag. Sedianya Rektor UNP Prof. H. Ganefri, Ph.D bersama Prof. Dr. Azyumardi Azra yang jadi keynote speaker. Tapi karena ada agenda bertemu dengan Presiden di Solo, maka Genefri digantikan Prof. Sofyarma.

Keynote Speaker Prof. Azyumardi Azra lebih dominan membedah tentang kehidupan madrasah dan santri. Dulu semasa Prof. Makmur Syarif usia sekolah di mana saat itu adalah masa terjadi pergolakan di ranah minang dan juga gejolak politik secara nasional, maka bersekolah di madrasah bukan menjadi pilihan bagi anak dan juga orang tua. Bagi anak yang memilih jalur madrasah akan banyak menerima comoohan, kelak akan menjadi apa setelah tamat.

Hal itu memang dikemukakan pula oleh Prof. Makmur Syarif. Bahwa ketika dia memilih madrasah Canduang 7 tahun untuk melanjutkan studinya, banyak cemoohan yang diterimanya. "Mau jadi apa Makmur nanti jika sudah tamat Madrasah, mau jadi labai ya"," demikian Makmur mengulas sedikit tentang pandangan orang kampungnya di Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman sehubungan jalur studi yang menjadi pilihannya.

Namun, karena Makmur Syarif serius dan sungguh-sungguh dengan studinya akhirnya dia sukses. Dia menjadi dosen bahkan diamanahkan menjadi Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol (IB) Padang Tahun 2011-2015. Setelah sukses, kini pandangan orang kampungnya di dalam menyekolahkan anaknya menjadi berbalik arah. Dulu enggan memasukkan anak ke sekolah agama atau madrasah. Kini justru mereka menyuruh anak mereka masuk madrasah. Kesuksesan Makmur pun menjadi contoh di kampungnya.

Sedangkan Prof. Sofyarma Marsidin lebih tajam mengupas tentang nilai-nilai intelektual pada sosok Makmur Syarif. Menurutnya guru besar Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNP tersebut selain kecerdasan intelektual, juga dibutuhkan kecerdasan emosional, kecerdasan digital dan kecerdasan jiwa. Makmur Syarif, kata Sofyarma adalah sosok yang pantas ditiru.

Pada cover belakang buku autobiografi setebal 364 halaman itu, Dr. Yasrul Huda, MA selaku editor mengatakan ada dua kelompok tulisan dalam buku itu yang ditransmen menjadi satu kesatuan, yakni bagian pertama berupa autobiografi yang ditulis langsung oleh Prof. Dr. H. Makmur Syarif, SH, M.Ag dan bagian kedua berisi testimoni dari keluarga dan para kolega.

Kedua bagian tersebut sama-sama berhulu kepada bagaimana seorang Makmur Syarif menjalani kehidupan pribadi, sebagai bagian dari sebuah keluarga sehingga menjadi penentu dinamika dalam karir akademik dan kepemimpinannya.

Allevia Syarif, SE, Ak, M.EA, anak perempuan semata wayang dari Prof. Makmur Syarif, turut hadir dan memberikan statemennya di dalam bedah buku yang dihadiri puluhan peserta off line dan belasan peserta virtual tersebut. Allev, begitu panggilannya mengungkapkan karakter ketauladan pada sosok papanya. Allev yang kini berusia 33 tahun terpesona dengan canda cara Makmur Syarif memanjakannya dengan segala lawakannya.

Ungkap Allev, papanya yang seorang akademisi, bahkan juga pernah menjabat sebagai rektor, biasa saja berjoget-joget di depan Allev, guna mencairkan suasana ketika putrinya itu lagi ngambek. Papanya kadang juga menirunkan suara kucing, agar Allev kembali tersenyum dari tangis dan cemberutnya.

Sosok Makmur Syarif, sebut Allev juga tipe orang tua yang tidak memaksakan segala sesuatu dalam mendidik anaknya. Makmur lebih cenderung memberikan contoh tauladan bagi anaknya, sehingga dengan demikian anaknya menjalankan segala sesuatunya dengan kesadaran bukan dengan keterpaksaan atau tekanan dari sang papa. Allev juga mengungkap kesuksesan Makmur Syarif papanya tidak terlepas dari peran penting dan dukungan total dari sang istri, almarhumah Dra. Hj. Elwis Nazar, M.Ag.

Mawardi Ghani, guru Makmur Syarif di MTI Canduang, Agam dan Muslim Mulyani dosennya di IAIN Bukittinggi turut hadir di acara seminar dan bedah buku itu. Bahkan kedua sosok itu memperoleh buku secara langsung dari Makmur Syarif pada penghujung acara di hadapan para peserta.

Prof. Makmur Syarif lahir 17 Juli 1951 di Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman. Dia adalah Rektor IAIN Imam Bonjol Padang Tahun 2011-2015 atau periode ke-15. Dia menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Kayutanam (1964), Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Tigo Nagari Kayutanam (1969, Tsanawiyah), dan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang Bukittinggi (1971).

Berikutnya, Makmur Syarif meraih gelar Sarjana Muda Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol di Bukittinggi tahun 1975. Selanjutnya meraih gelar Sarjana lengkap Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol di Padang di tahun 1979 dengan predikat mahasiswa terbaik.

Selama berstatus mahasiswa IAIN IB Padang, Makmur juga berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas. Ia meraih gelar Sarjana Hukum Jurusan Hukum Tata Negara Prodi Hukum Perundang-undangan dari Universitas Andalas Padang pada tahun 1988.

H. Afrinal, S.Sos, MH, Ketua Panitia Peluncuran, Seminar dan Bedah Buku Autobiografi Prof. Makmur Syarif puas dengan penyelenggaraan kegiatan tersebut. Kegiatan berjalan lancar dan sukses. Hal itu ditandai dengan kehadiran peserta secara off line dan juga online para peserta. Para peserta serius dan khidmat mengikuti sesi demi sesi acara. (erz)