89 Hafiz RI Lolos Seleksi Tahap I Calon Imam Masjid UEA, Ini Besar Gajinya

oleh -402 klik
Salah satu masjid di Uni Emirat Arab. NET
Salah satu masjid di Uni Emirat Arab. NET

JERNIHNEWS.COM-Kementerian Agama mengumumkan 89 hafiz 30 juz Alquran asal Indonesia yang lolos Seleksi Calon Imam Masjid Uni Emirat Arab (UEA) tahap pertama. Mereka berasal dari berbagai provinsi, namun dari data itu, tidak terlihat adanya haviz yang berasal dari Sumbar. Imam masjid di UEA gajinya puluhan juta.

"Dari 213 peserta ada 89 calon imam yang lolos dan berhak mengikuti seleksi tahap kedua dengan penguji dari Otoritas Uni Emirat Arab (UEA). Secara umum, kualitas peserta baik dan bagus, semakin baik dari seleksi sebelumnya," ungkap Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Syamsul Bahri di Jakarta, sebagaimana dikutip jernihnews.com, Jumat (03/09/2021) dari Kemenag.go.id.

Syamsul menambahkan, seleksi kedua oleh Otoritas UEA akan jauh lebih kompetitif dengan bobot soal yang makin meningkat. Karenanya, Syamsul berharap agar 89 calon imam terus mempersiapkan diri.

"Persiapkan diri secara optimal. Lakukan pengulangan hafalan karena butuh kekuatan dan persiapan lebih matang termasuk membaca kembali rujukan fikih dan mengasah kemampuan Bahasa Arab. Ujian tahap kedua lebih menantang. Bobot soal lebih kompleks," tambahnya.

Terkait pelaksanaan seleksi tahap kedua, Kemenag akan terus melakukan koordinasi dengan Otoritas UEA. Katanya, akan ada banyak penyesuaian terkait mekanisme seleksi karena adanya pandemi Covid-19 yang belum berakhir.

"Selamat, mudah-mudahan mampu mempersiapkan diri seoptimal mungkin hingga pada saat seleksi tahap kedua yang menentukan dapat memberikan penampilan terbaik," pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menargetkan 100 orang hafiz Indonesia dapat terpilih untuk menjadi imam masjid di Uni Emirat Arab (UEA) sebelum lawatan Presiden Joko Widodo ke UEA pada November.

"Tahun ini mereka (UEA) minta 100 (orang), tahun depan 100, kita sedang kejar supaya sebelum kunjungan Presiden Jokowi ke Uni Emirat Arab yang direncanakan November, target 100 ini bisa dipenuhi," kata Menag Yaqut dalam rapat dengan Komisi VIII DPR, Senin (30/8/2021)

Gaji Besar, Plus Fasilitas

Jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) di Uni Emirat Arab sekitar 70 ribu hingga 100 ribu orang. Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab (UEA) Husin Bagis, dari jumlah itu, 80 persen bekerja di bidang domestik atau rumah tangga.

Sisanya, adalah pekerja profesional. Mulai dari pekerja industri minyak, pelaut, salon, perawat, dan imam masjid. Imam masjid? Ya. Menurut Husen, ada 12 WNI yang jadi imam masjid di negara itu.

"Jadi awalnya pada 2017, kami cerita ke menteri agama (UEA) bahwa di Indonesia banyak orang yang hafiz (penghafiz) Quran. Terkejut dia. Akhirnya dibuka seleksi," ungkap Husin, seperti dilansir dari wartaekonomi.co.id.

Kemudian terpilihlah 15 orang Indonesia yang dikirim ke UEA. Seiring perjalanan waktu, jumlahnya tinggal 12 orang.

Di sana, diungkapkan Husin, imam masjid mendapat gaji yang cukup fantastis, yakni sekitar Rp 22 juta per bulan. Itu baru gaji imam masjid biasa di perkotaan. Kalau di masjid utama, gajinya bisa lebih besar lagi.

Selain mendapatkan gaji fantastis, imam juga diberikan fasilitas berupa rumah di sekitar masjid tempat dia bertugas. Rumah yang disediakan bukan petakan, tapi rumah khusus yang dilengkapi AC. Imam yang sudah berkeluarga, juga diperbolehkan membawa keluarga. Menurut Husin, tugas imam masjid di UAE relatif lebih enteng daripada di Tanah Air.

"Imam nggak banyak kerjaan, hanya imam masjid, sama khotbah. Khotbahnya tinggal membaca saja materi dari kementerian agama di sini," kisahnya.

Untuk menjadi imam masjid, biasanya mesti hafal 30 juz. Kalau hafal hanya setengahnya, hanya jadi muazin, yang merangkap sekretaris imam.

Sebetulnya UEA sudah meminta Indonesia menyediakan 200 imam untuk dikirim ke sana dalam tiga tahun. Permintaan itu disampaikan Presiden Jokowi saat mengunjungi Abu Dhabi, ibu kota UEA pada Januari 2020. Tapi karena ada pandemi Covid-19 pada 2020, rencana itu molor.

Tahun ini, seleksi dimulai kembali. Sudah ada 83 yang diseleksi. Yang lulus, 27 orang. Mereka akan berangkat ke UEA tahun depan. "Kalau 200 orang, berarti ada 173 orang lagi yang akan berangkat dalam dua tahun depan," harapnya.

Karena itu, citra Indonesia yang dulunya hanya dianggap sebagai negara pengirim TKI atau TKW, kini mulai luntur. Pemerintah dan orang-orang UEA sangat menghargai orang-orang Indonesia, baik dalam pekerjaan bidang rumah tangga, perusahaan besar, menengah, maupun kecil. (pr)