MUI Sumbar Tolak Peniadaan Ibadah di Masjid Selama PPKM Mikro

oleh -763 klik
Ketua MUI Sumbar Buya Dr. H. Gusrizal Guzahar, Lc, MA dengan latar belakang Masjid Raya Sumatera Barat. NET
Ketua MUI Sumbar Buya Dr. H. Gusrizal Guzahar, Lc, MA dengan latar belakang Masjid Raya Sumatera Barat. NET

JERNIHNEWS.COM-Ketua Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat (MUI Sumbar) Buya Gusrizal Gazahar menolak peniadaan aktivitas di rumah ibadah, terutama di masjid, saat PPKM mikro. Dia juga mengatakan salat Idul Adha harusnya tetap bisa dilaksanakan di masjid secara berjemaah.

"Kita tidak setuju. Kita tetap menyampaikan sesuai dengan perda kita, tetap dilaksanakan salat Idul Adha dan ibadah," kata Buya Gusrizal Gazahar seusai rapat koordinasi antara Gubernur dan kepala daerah yang masuk PPKM mikro, Rabu (07/07/2021), sebagaimana dilansir dari Detik.com.

Namun berita tentang sikap Ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal Guzahar tersebut banyak mendapat cemohaan dari akun-akun tak jelas, bahkan juga bernada hujatan terhadap Buya Gusrizal Guzahar yang dikenal sebagai tokoh yang kukuh di dalam mempertahankan hal-hal prinsip pada Islam.

Fatwa-fatwa MUI Sumbar yang disampaikan Buya Gusrizal Guzahar selama ini selalu diikuti mayoritas masyarakat Sumbar. Demikian pula ketika pemerintah melarang pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1442 H lalu di masjid dan lapangan, Buya Gusrizal Guzahar menentangnya dan bahkan MUI Sumbar saat itu juga mengeluarkan fatwa bahwa diperbolehkan .

Dampaknya, masyarakat menyambut gambira fatwa MUI Sumbar tersebut. Pemda akhirnya ikut memperlonggar aturan ketika itu. Masyarakat pun akhirnya tetap melaksanakan Shalat Idul Fitri 1442 H di masjid dan lapangan terbuka. Alhamdulillah, di Sumbar ketika itu memang tidak tampak lonjakan kasus Covid-19 besar-besaran

Empat kota di Sumatera Barat yang masuk dalam daftar wilayah PPKM mikro ialah Kota Padang, Bukittinggi, Solok, dan Padang Panjang. Gusrizal membandingkan peniadaan kegiatan di rumah ibadah dengan kafe dan mal yang masih beroperasi.

"Kafe bisa beroperasi 25 persen, mal bisa 25 persen, di kafe malah untuk pergi ngomong-ngomong, orang jalan-jalan, sulit jaga jarak. Ini di masjid orang tidak ngomong satu sama lain dan kehadiran cuma sebentar di rumah Allah untuk beribadah, masa dilarang," katanya.

Menurut Gusrizal, tempat ibadah seharusnya bisa menjadi sentra edukasi bagi masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan pencegahan virus Corona. Dia meminta agama tak dipandang sebagai penghalang.

"Agama jangan sekali-kali dipandang sebagai penghalang. Itu adalah salah satu ikhtiar kita untuk menghadapi pandemi. Kalau kita tidak dibantu Allah dalam menghadapi ini semua, kita semua lemah," katanya.

MUI Sumbar, kata dia, tidak akan mengeluarkan fatwa larangan beribadah di masjid selama PPKM mikro. Dia mengimbau umat Islam tetap beribadah seperti biasa.

"Justru kita imbau untuk beribadah," jelasnya.

Meski demikian, dia menegaskan semua orang yang hadir di masjid wajib memakai masker. Dia mengatakan saat ini perlu ada formula agar protokol kesehatan pencegahan Covid-19 bisa berjalan dengan baik di masjid.

"Kita akan cari formulasi agar prokes itu bisa berjalan, salah satunya mungkin tempat ibadah salat Id misalnya diperbanyak," katanya. (pr)