Warga Payakumbuh Utara Gelar Kajian Masyarakat Tanpa Riba

oleh -705 klik
Di antara peserta Kajian masyarakat tanpa riba (MTR) di Aula Kantor Kecamatan Payakumbuh Utara, Selasa (06/07/2021). ERZ
Di antara peserta Kajian masyarakat tanpa riba (MTR) di Aula Kantor Kecamatan Payakumbuh Utara, Selasa (06/07/2021). ERZ

JERNIHNEWS.COM-Warga Kecamatan Payakumbuh Utara melaksanakan diskusi atau kajian tentang masyarakat tanpa riba, Selasa (06/07/2021) malam di Aula Kantor Camat Payakumbuh Utara.

Kajian Masyarakat Tanpa Riba (MTR). ERZ
Kajian Masyarakat Tanpa Riba (MTR). ERZ

Kajian tersebut menghadirkan nara sumber dari komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR) Sumatera Barat, yakni Koodinator Wilayah MTR Sumbar, Alfirman, M.Pd.

Kajian Masyarakat Tanpa Riba (MTR). ERZ
Kajian Masyarakat Tanpa Riba (MTR). ERZ

Hadir dalam kegiatan kajian ini, Camat Payakumbuh Utara Desfitawarni dan puluhan warga Payakumbuh Utara. Mereka ada yang ASN, THL, pengusaha, pegawai BUMN/BUMD, pelaku UKM dan lainnya.

Saat membuka acara, Camat Desfitawarni mengatakan pada umumnya ASN dan para pegawai terjerat dalam hutang riba. Para ASN dan THL di lingkungan Kantor Kecamatan Payakumbuh Utara banyak minta rekomendasi kepada Camat Desfitawarni untuk mengajukan kredit atau pinjaman. Camat Defi karena mengetahui pinjaman berbunga atau kredit itu adalah riba dan dosa, dan menyampaikannya akan hal itu, namun ASN atau THL tak ada punya solusi lain.

"Karena kami juga belum punya solusi atas masalah mereka, maka rekomendasi tersebut terpaksa tetap kami berikan. Mudah-mudahan melalui komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR) ini ada solusinya," kata Camat Desfitawarni.

Korwil MTR Sumbar, Alfirman dalam pemaparannya mengatakan 9 tabiat buruk berutang; 1) membuat kecanduan, 2) membayar bunga dengan utang, 3) menambah beban kehidupan, 4) gelisah, 5) terhina di siang hari, 6) berpotensi melakukan tindakan kriminal, 7) menjerumuskan kepada kesyirikan, 8) Hilangnya kemesraan dalam rumah tangga, 9) gagal fokus.

Karena itu menurut Alfirman sudah saatnya kaum muslimin meninggalkan kebiasaan berhutang dan budaya hidup dalam rimba.

Dalam diskusi tersebut juga disampaikan materi tentang riba oleh nara sumber lainnya. Diingatkan bahwa dosa riba sama dengan dosa berzina dengan orang tua sendiri. Karena itu kaum muslimin wajib meninggalkan riba. Juga disampaikan analogi tentang NKRI yang terjebak dalam hutang riba beribu-ribu triliun.

Kajian ini ditutup dengan diskusi atau tanya jawab. Para peserta yang begitu khusuk mendengar pemaparan kajian tentang riba dari para nara sumber, begitu ruang tanya jawab dibuka, beberapa di antara mereka langsung bersemangat melayangkan pertanyaan. Pertanyaan diawali dengan pengakuan bahwa peserta tersebut memang terjerat dengan hutang riba, lalu ingin keluar dari jeratan itu dan menanyakan solusi atas persoalan mereka. Nara sumber pun menjawab satu persatu pertanyaan itu, lalu memberikan tawaran solusi atas problema hutang dan riba yang tengah dihadapi peserta tersebut. (erz)