Jamaah Masjid Muslimin Payakumbuh, Bantu Ringankan Beban Penuntut Ilmu

oleh -772 klik
Penulis bersama ta'mir masjid Muslimin,Ustadz Anton (pertama dari kiri), Ustadz Rinal (pertama dari kanan), dan calon mahasiswa yang akan berangkat ke Mesir dan Sudan, Zikri (dua dari kiri), dan Ardian (tiga dari kiri). Kedua pelajar ini dari Pesantren Darul Muwahhidin Padang Panjang. IST
Penulis bersama ta'mir masjid Muslimin,Ustadz Anton (pertama dari kiri), Ustadz Rinal (pertama dari kanan), dan calon mahasiswa yang akan berangkat ke Mesir dan Sudan, Zikri (dua dari kiri), dan Ardian (tiga dari kiri). Kedua pelajar ini dari Pesantren Darul Muwahhidin Padang Panjang. IST

Oleh: H.Irwandi Nashir*

Masjid Muslimin, Labuh Baru, Kota Payakumbuh.IST
Masjid Muslimin, Labuh Baru, Kota Payakumbuh.IST

Bagi sebagian pelajar yang hendak menekuni ilmu agama, kuliah terutaman di universitas Al Azhar Mesir, perguruan tinggi di Makkah, Madinah,dan Sudan menjadi impian mereka. Mereka juga harus berjuang untuk mendapatkan kursi di sana. Rata-rata untuk kemampuan akademik dan persayaratan lainnya para calon ulama ini tidak mempunyai persoalan berarti. Namun, faktor finansial yang sering menjadi batu sandungan bagi mereka.

Meski ada harapan untuk mendapatkan beasiswa, namun untuk proses keberangkatan hingga sampai di negara tujuan, mereka harus menyiapkan uang tunai. Untuk berangkat ke Mesir saja tak kurang harus menyiapkan dana sekitar Rp30 juta. Ini jelas angka yang tidak kecil bagi mereka yang rata-rata berasal dari keluarga kurang mampu. Tidak ada pilihan lain bagi mereka, kecuali membuat proposal dan mencari donatur yang bisa meringankan beban finansial.

Kondisi ini ternyata menjadi perhatian serius pengurus dan jamaah Masjid Muslimim Labuah Baru,Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat. Hampir tiap pekan, di masjid yang terkenal dengan ramainya jamaah dan intensitas kajian Islam itu dilakukan penggalangan dana untuk para pelajar yang akan kuliah terutama ke Mesir dan Sudan.

"Para pelajar itu biasanya kami jadwalkan untuk datang memperkenalkan diri ke jamaah sambil menggalang dana pada hari Jumat setelah shalat Maghrib. Alasannya, jamaah yang menghadiri kajian Aqidah Islam pada Jumat itu lebih ramai dibanding hari lainnya," jelas Ustadz Anton, ta'mir Masjid Muslimin.

Penggalangan dana di Masjdi Muslimin memiliki prosedur. Sebelum menggalang dana, para calon memahasiswa itu wajib menyampaikan surat dan proposal sederhana yang dilampirkan dengan dokumen sebagai bukti bahwa mereka telah diterima di perguruan tinggi yang dituju.

"Sebelum pandemi, jamaah yang hadir pada kajian Aqidah Islam pada Jumat malam tak kurang 200 hingga 300 orang. Saat ini, rata-rata 150 hingga 200 orang tetap rutin menghadiri kajian Islam terutama Jumat malam," jelas Ustadz Rinal yang juga salah seorang ta'mir Masjid Muslimin.

"Kami memang langsung memintakan ke jamaah untuk berkenan membantu calon mahasiswa ini. Paling tidak untuk uang belanja di jalan bagi mereka. Kadang satu orang calon mahasiswa berhasil memperoleh bantuan sekitar Rp3 juta dari jamaah yang hadir kajian Jumat malam," ulas Ustadz Anton.

Menurut H. Andi, mantan anggota DPRD Kota Payakumbuh yang juga jamaah tetap Masjid Muslimin, di tahun-tahun awal reformasi,DPRD Kota Payakumbuh pernah menyetujui anggaran untuk membantu para pelajar yang akan melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah. Mereka yang dulu diberi bantuan dana itu kini telah berkiprah di masyarakat terutama di Kota Payakumbuh.

"Mestinya legislatif dan eksekutif bersama-sama tetap terus menganggarkan bantuan untuk pelajar yang akan belajar ke Timur Tengah," harap H.Andi yang juga pemilik Toko Elektronik Maju Jaya ini.

Selain bantuan dana, ta'mir masjid Muslimin juga memberikan nasehat dan motivasi kepada para pelajar itu agar meluruskan niat dan berjuang dengan sungguh-sungguh hingga buah ilmu itu dapat dicicipi umat. ()

*) Pengasuh Kajian Aqidah Islam Masjid Muslimin Kota Payakumbuh/Dosen IAIN Bukittinggi