Kasus Covid India Nyaris 20 Juta, Diduga Belum Puncak

oleh -140 klik
Pembakaran jenazah pasien Covid-19 yang meninggal dunia juga dilakukan di halaman dan lapangan parkir menyusul banyaknya warga India yang meninggal akibat Covid-19. Dalam 24 jam terakhir, bahkan jumlah pasien Covid yang meninggal mencapai 3.417 orang. NET
Pembakaran jenazah pasien Covid-19 yang meninggal dunia juga dilakukan di halaman dan lapangan parkir menyusul banyaknya warga India yang meninggal akibat Covid-19. Dalam 24 jam terakhir, bahkan jumlah pasien Covid yang meninggal mencapai 3.417 orang. NET

JERNIHNEWS.COM-Total kasus Covid-19 di India nyaris menembus 20 juta setelah pemerintah kembali melaporkan 300 ribu infeksi virus corona harian pada Senin (03/05/2021). Meski terus bertambah, kasus Covid-19 di India diperkirakan belum mencapai puncaknya.

Perkiraan ini muncul setelah Kementerian Kesehatan India melaporkan 368.147 kasus Covid-19 dalam 24 jam belakangan. Dengan penambahan ini, total kasus Covid-19 di India mencapai 19,93 juta.

Dikutip dari CNN Indonesia, sebayak 3.417 orang dilaporkan meninggal dunia akibat Covid-19 di India dalam 24 jam belakangan. Dengan demikian, total 218.959 nyawa melayang akibat infeksi virus corona sejak tahun lalu.

Berdasarkan model matematika tim penasihat pemerintah India, kasus Covid-19 di India baru akan mencapai puncaknya pada 3-5 Mei ini, lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Kementerian Kesehatan India juga mulai melihat harapan karena kasus positif Covid-19 cenderung turun dengan angka tes yang relatif sama dengan sebelumnya.

Pemerintah berharap lonjakan kasus Covid-19 dapat mereda setelah mencapai puncak dalam dua hari ke depan.

Dalam 12 hari belakangan, India melaporkan lebih dari 300 ribu kasus Covid-19 setiap hari. Rumah sakit di India mulai kelabakan melayani pasien yang terus berdatangan. Banyak pasien akhirnya dirawat di luar rumah sakit atau terpaksa pulang.

Sementara itu, pasokan oksigen cair di berbagai rumah sakit juga mulai menipis. Para dokter sampai-sampai meminta bantuan melalui berbagai media sosial agar pasiennya dapat bertahan.

Di tengah kepanikan ini, setidaknya 11 negara bagian dan wilayah lainnya mulai menerapkan berbagai pembatasan gerak untuk meredam penularan Covid-19.

Namun, pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi enggan menerapkan penguncian wilayah (lockdown) nasional karena khawatir akan dampak ekonomi terhadap India.

Para epidemiolog pun mendesak agar pemerintah pusat India menerapkan lockdown menyeluruh agar penanganan Covid-19 dapat efektif.

"Menurut saya, hanya perintah isolasi mandiri secara nasional dan mendeklarasikan darurat medis yang dapat membantu menangani kebutuhan kesehatan saat ini," ucap epidemiolog dari Universitas Michigan, Bhramar Mukherjee. (pr)