Pilkada Payakumbuh 2024 Bakal Sengit dan Habis-habisan

oleh -364 klik
Kantor Walikota Payakumbuh dan sejumlah sosok yang namanya digadang-gadang bakal bertarung di Pilkada Kota Payakumbuh 2024. JNC
Kantor Walikota Payakumbuh dan sejumlah sosok yang namanya digadang-gadang bakal bertarung di Pilkada Kota Payakumbuh 2024. JNC

JERNIHNEWS.COM-Pilkada Kota Payakumbuh sedianya akan dilaksanakan tahun 2022. Namun karena adanya pemilu serentak, maka Pilkada Kota Randang ini diundur pelaksanaannya 2024. Diprediksi Pilkada di kota ini akan berlangsung sengit, para calon akan habis-habisan, terutama yang berlatar politisi.

Sejumlah nama sudah digadang-gadang akan turut bertarung di Pilkada Kota Payakumbuh. Nama yang muncul didominasi oleh politisi dan pengusaha. Ada nama Erwin Yunaz (Wakil Walikota Payakumbuh 2017-2022), Supardi (Ketua DPRD Sumbar 2019-2024), dan Yendri Bodra Dt. Parmato Alam (Anggota DPRD Kota Payakumbuh).

Berikutnya Irsyad Syafar (Wakil Ketua DPRD Sumbar 2019-2024), Chairul Anwar (Anggota DPR RI 2004-2024), Joni Hendri (Ketua Umum Ikatan Keluarga Koto Nan Gadang/IKK Jabodetabek), Almaisyar, dan lainnya.

Mereka terbagi dalam dua kelompok, yakni politisi dan pengusaha. Yang berlatar politisi atau parpol, adalah Supardi (Partai Gerindra), Yedri Bodra Dt. Parmato Alam (Ketua DPD Golkar Payakumbuh), Irsyad Syafar (Ketua MPW PKS Sumbar), dan Chairul Anwar (Eks Pengurus DPP PKS). Sedangkan yang berlatar sebagai pengusaha atau dunia usaha, yakni Erwin Yunaz, Joni Hendri dan Almaisyar.

Mengapa diprediksi Pilkada Kota Payakumbuh 2024 akan berlangsung sengit dan habis-habisan? Penyebab utamanya, karena Pemilu Legislatif (Pileg), Pilpres dan Pilkada dilaksanakan di tahun yang sama. Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden dilaksanakan serentak dan jadwalnya lebih duluan dibanding Pilkada. Namun, tetap dilaksanakan di tahun 2024. Tantangan yang sangat berat ada pada sosok yang berlatar politisi, yakni mereka yang kini duduk di DPR RI, DPRD Provinsi atau pun DPRD Kota Payakumbuh.

Pertama, para politisi tersebut mesti bijak dan akurat menentukan pilihan, apakah akan terjun bertarung di Pileg atau Pilkada Kota Payakumbuh. Jika sudah menentukan sikap terjun di Pileg tentu akan berat untuk terjun lagi di Pilkada. Seandainya terpilih di Pileg, lalu akan maju lagi di Pilkada, maka politisi itu harus mundur sebagai anggota legislatif, sesuai dengan UU No. 10 Tahun 2016 Pasal 7 Ayat 2 poin s. Jika tidak terpilih di Pileg, tentu akan lebih berat maju di Pilkada, selain persoalan elektabilitas juga persoalan pembiayaan. Jika terjun di Pilkada, dan bila tak terpilih, politisi harus menunggu hajatan pemilu 5 tahun lagi.

Karena itu, politisi seperti Supardi, Irsyad Syafar, Chairul Anwar dan Yendri Bodra Dt. Parmato Alam mesti cermat dan akurat dalam mengkalkulasikan kekuatan dan potensinya, apakah akan bertarung di Pileg atau Pilkada Kota Payakumbuh. Mereka juga mesti mempertimbangkan akan terjadinya pergeseran kekuatan partai politik di Pileg 2024, baik pada Gerindra, PKS, Golkar dan lainnya.

PKS yang jadi pemenang di Kota Payakumbuh dan Gerindra yang menjadi juara di Provinsi Sumatera Barat di Pileg 2019, tentu akan menghadapi dinamika yang juga sangat luar biasa di Pileg 2024. Trend bagus Golkar di berbagai daerah pada Pilkada Serentak 2020 lalu, juga akan ikut memengaruhinya. Partai lain, seperti PAN juga akan mengalami dinamika luar biasa, menyusul lahirnya Partai Ummat yang dibidani Amien Rais, tokoh reformasi pendiri PAN. Demikian pula Partai Demokrat juga akan mengalami dinamika keras menyusul terjadinya upaya menumbangkan Ketumnya AHY oleh internal.

Dari sekarang para politisi yang namanya sudah disebut-sebut bakal berlaga di Pilkada Kota Payakumbuh mesti melakukan langkah-langkah terukur yang kongkrit. Survei yang benar, sangat penting dilakukan guna mengukur tingkat popularitas dan elektabilitas. Hasil survei akan jadi pijakan langkah-langkah, apa yang akan dilakukan. Apakah mesti meningkatkan intensitas sosialisasi dan kegiatan turun ke tengah masyarakat atau dalam bentuk lain. Muara dari survei itu adalah kesimpulan, apakah akan tetap maju di Pilkada Kota Payakumbuh, atau akan bertarung di Pileg.

Sedangkan untuk sosok yang berlatar belakang dunia usaha seperti Erwin Yunaz, Joni Hendri, Almaisar dan lainnya, langkah mereka menuju Pilkada Kota Payakumbuh juga bisa dikatakan ringan. Erwin Yunaz, meski memanfaatkan dengan maksimal sisa masa jabatannya sebagai wawako Payakumbuh sehingga berdampak positif terhadap popularitas dan elektabilitasnya di Pilkada 2024. Pentas Erwin ada sekarang. Walikota Riza Falepi pun tampaknya cukup memberikan ruang kepada Erwin untuk itu. Tapi ingat, 2022 jabatan Wawako Payakumbuh yang kini disandang Erwin akan berakhir. Menuju 2024, Erwin Yunaz kembali menjadi orang biasa. Kembali lagi ke habitatnya ke dunia usaha.

Hingga kini belum tergambar, parpol apa nantinya akan ditumpangi Erwin di Pilkada 2024. Jabatan BA 2 M yang kini melekat pada dirinya, sepertinya belum cukup untuk Erwin agar menjadi buah bibir atau pun membuat parpol tergoda. Karena itu, Erwin juga mesti memiliki hitung-hitungan yang tepat untuk maju di Pilkada Payakumbuh dua tiga tahun mendatang. Dia juga mesti mengansur-angsur tebar pesona ke parpol sebagai langkah mendapatkan parpol. Atau mungkin juga Erwin akan maju dari independen?

Berikut, halnya dengan Joni Hendri, Ketua Umum IKK Jobodetabek, meskipun tak dipusingkan dengan agenda Pileg seperti para politisi, tapi jalan politik yang akan ditempuhnya di Pilkada Payakumbuh juga tak bisa dibilang akan mudah. Pengusaha nasional alkes dan lintas bidang itu juga mesti cermat dalam memilih parpol politik. Para pengurus PKS, telah berkali-kali menyebut sosok Joni Hendri sebagai alternatif calon eksternal PKS. Parpol lainnya, dalam beberapa kesempatan juga selalu menyebut Joni Hendri sebagai sosok yang akan hadir di Pilkada Kota Payakumbuh.

Sebutan calon eksternal PKS bagi Joni Hendri, tentu memiliki sisi positif dan negatif. Sisi positifnya, jika nantinya memang tidak ada calon internal PKS yang hasil surveinya mempuni untuk memenangkan Pilkada, lalu Joni Hendri yang diusung, tentu ini sangat positif bagi pria tinggi besar tersebut. Karena PKS adalah parpol besar di Payakumbuh. PKS adalah parpol pemenang Pilkada Payakumbuh 2012 dan 2017 serta juga menang pada Pileg 2019 di Kota Payakumbuh. Riza Falepi Walikota Payakumbuh dua periode adalah kader PKS. Riza juga sangat dekat dengan Joni Hendri. Kader PKS yang dikenal militan juga adalah salah satu garansi untuk kemenangan.

Sisi negatif santernya nama Joni Hendri sebagai calon eksternal PKS juga ada. Hal itu bisa saja sedikit membuatnya langkah politiknya kurang leluasa. Ditambah dengan dinamika komunikasi politik PKS dengan parpol lainnya di Payakumbuh yang sering beriak panjang. Karena itu, Joni Hendri tak boleh jamawa dengan sebutan calon eksternal PKS. Apalagi di injuri time pencalonan, justru bukan namanya yang di usung sebagai calon, tapi calon dari internal.

Bagaimana pula dengan Almaisyar? Sosok senior ini namanya juga sering disebut sebagai calon eksternal PKS. Pria asal Koto Nan Ampek yang berkecimpung di dunia usaha asuransi itu memiliki pengalaman di Pilkada Kota Payakumbuh. Kegagalannya di Pilkada Payakumbuh beberapa tahun lalu, tentu membuatnya lebih matang dalam membuat langkah dan hitung-hitungan politik. Kedekatannya dengan Buya Mahyeldi, Gubernur Sumbar yang juga Ketua DPW PKS Sumbar juga akan menjadi modal untuk mendapatkan kapal di Pilkada Kota Payakumbuh.

Sama halnya dengan Joni Hendri, cover sebagai calon alternatif eksternal PKS juga memiliki sisi positif dan negatif bagi Almaisyar. Dia tak boleh jumawa, apalagi lengah dengan predikat calon ekternal PKS. Jika memang ingin maju di Pilkada Kota Payakumbuh, Almaisyar juga harus harus menjalin komunikasi dengan parpol lainnya. Ketika memang bukan namanya yang diusung oleh PKS, maka dia masih punya alternatif parpol lain yang akan mengusungnya.

Mendekati 2024, proses peminangan oleh parpol akan gencar terhadap para calon kandidat dari kalangan pengusaha. Tentu saja pihak parpol tak mau, para calon kandidat peserta Pilkada dari kalangan pengusaha melenggang kangkung saja menuju Pilkada, tanpa ikut berkeringat atau bertungkus lumus dalam proses pemenangan Pileg dan Pilpres. Proses ini juga mulai menyita energi dan amunisi. Agar tak sia-sia, tentu perlu cermat dalam menentukan dengan parpol mana akan menjalani proses tersebut.

Berbagai 'Jurus' Mulai Dikeluarkan

Sejumlah nama yang digadang-gadang bakal bertarung di Pilkada Kota Payakumbuh 2024 mulai tampak meningkat intensitas sosialiasi, perhatian dan kehadirannya di Kota Payakumbuh.

Erwin Yunaz dengan jabatannya sebagai Wawako Payakumbuh, banyak menghadiri acara peresmian, pembukaan, kenduri, kematian dan lain sebagainya. Bahkan Erwin juga menghadiri acara-acara di tingkat RT dan RW. Wawako Erwin juga rutin memposting kegiatan dan juga pandangannya di media sosial, seperti Instragram, FB dan lainnya. Erwin kadang juga mendominasi tampil di website Kominfo Payakumbuh. Tentu saja hal itu tak lain, seperti menyilam sambil minum air.

Chairul Anwar, anggota Fraksi PKS DPR RI empat periode dari Dapil Riau, telah memasang baliho sosialisasi berukuran besar di jalan protokol Payakumbuh. Dia pun kepada media juga telah menyatakan niatnya akan ikut mencalonkan di Pilkada Kota Payakumbuh 2024 untuk melanjutkan kepemimpinan Riza Falepi. Namun, niatnya didahului dengan sosialisasi kepada masyarakat. Melalui survei, jika nantinya disimpulkan masyarakat berkeinginan dia maju, maka dia akan memantapkan diri untuk mencalonkan di Pilkada Kota Payakumbuh.

Halnya dengan Irsyad Syafar, Wakil Ketua DPRD Sumbar dari Fraksi PKS meskipun tampak tidak menggebu-gebu, tapi diam-diam Ketua MPW PKS Sumbar itu telah menyediakan 1 unit mobil jenazah untuk melayani masyarakat Payakumbuh. Mobil jenazah itu bisa digunakan oleh masyarakat Payakumbuh dengan free. Langkah Irsyad seperti ini, juga telah dilakukan oleh Almaisyar sejak beberapa tahun lalu, yakni menyediakan mobil jenazah gratis.

Sedangkan Supardi, Ketua DPRD Sumbar melalui kewenangannya sebagai Ketua dewan yang berasal dari Dapil Payakumbuh-Limapuluh Kota banyak memperjuangkan program-program pembangunan untuk Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota dari APBD Sumbar. Melalui program pokirnya, Supardi semakin dekat dengan masyarakat Luak Limopuluah. Untuk tahun 2021-2022, Supardi juga memperjuangkan Kota Payakumbuh menjadi pilot project penerapan pendidikan berbasis digital. Dari seluruh Kota/Kabupaten di Provinsi Sumbar, Kota Payakumbuh dijadikan sebagai pilot project pendidikan berbasis digital. Anggaran yang dikucurkan cukup besar, yakni Rp 30 miliar. Namun, begitu ditanya soal rencananya untuk Pilkada Kota Payakumbuh 2024, Supardi dengan lugas menjawab "No Comment".

Sementara Joni Hendri, akhir-akhir ini selalu rutin pulang kampung ke Payakumbuh. Saat berada di Kota Randang, dia melakukan pertemuan-pertemuan penting dengan sejumlah pihak, termasuk bersilaturahmi dengan masyarakat dan pemuda. Alumni SMPN 2 (dulu bernama SMPN 3) Payakumbuh dan SMAN 2 (dulu bernama SMAN 3) Payakumbuh ini setiap pulang, kadang juga bertemu dengan Riza Falepi, Walikota Payakumbuh. Joni dalam beberapa kesempatan menyatakan hanya akan maju untuk posisi BA 1 M. "Saya hanya untuk Payalumbuh 1," sebut Joni, lugas.

Sedangkan Yendri Bodra Dt. Parmato Alam juga gencar melakukan sosialiasi di tengah-tengah masyarakat Payakumbuh. Ketua DPD Golkar Kota Payakumbuh rutin menghadiri undangan acara-acara yang dilaksanakan masyarakat. Tidak hanya dirinya saja yang hadir, papan bunga berfoto Yendri Bodra Dt. Parmato Alam juga nyaris terpasang di seluruh acara pesta pernikahan dan kematian. Posisi sebagai ketua pada sederet organisasi juga dijabat oleh Yendri Bodra. Tampak Dt. Parmato Alam, memang sudah mantap ancang-ancangnya menuju Pilkada Payakumbuh 2024. (Yon Erizon)