Sawah Warga di 3 Jorong Kenagarian Koto Alam Rusak Disapu Banjir

oleh -133 klik
Banjir di Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kamis (29/04/2021) juga membawa dampak rusak parahnya lahan persahawan warga pada tiga jorong di Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota. IST
Banjir di Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kamis (29/04/2021) juga membawa dampak rusak parahnya lahan persahawan warga pada tiga jorong di Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota. IST

JERNIHNEWS.COM- Banjir yang melanda wilayah Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota, Kamis (29/04/2021) malam juga menyebabkan kerusakan pada lahan pertanian masyarakat pada tiga jorong di Kenagarian Koto Alam. Tiga hektar sawah masyarakat yang berada di pinggiran sungai rusak berat, karena runtuh dihanyutkan air deras, Batang Bawah Gunung Sanggul.

H. Abdul Malik, Wali Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota. IST
H. Abdul Malik, Wali Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota. IST

"Korban jiwa atau pun rumah warga yang rusak terkena banjir memang tidak ada. Tapi sekitar 3 hektar sawah masyarakat pada tiga jorong rusak parah akibat derasnya arus banjir di malam tersebut," kata Wali Nagari Koto Alam, H. Abdul Malik, kepada jernihnews.com, Sabtu (01/05/2021) melalui sambungan telepon.

Dijelaskannya, sawah warga yang rusak tersebut tersebar di 3 jorong, yakni Jorong Simpang Tiga, Jorong Koto Ranah dan Jorong Koto Tangah. Untung saja, padi di sawah itu sudah di panen menjelang Bulan Ramadhan, sehingga kerugian warga tidak jadi berlipat.

Hingga saat ini, menurut Wali Nagari H. Abdul Malik, belum ada pejabat pemerintahan, baik Bupati dan Wakil Bupati Limapuluh Kota atau pun pihak Pemkab yang datang ke Nagari Koto Alam meninjau sawah masyarakat yang rusak disapu banjir tersebut. Pihak nagari telah melaporkan kondisi itu ke pihak Kecamatan Pangkalan Koto Baru.

Dia sangat berharap ke depan musibah banjir yang menjadi kejadian rutin setiap tahun tidak terulang kembali di masa datang. Karena itu, dia sudah berulang kali mengusulkan agar dibangun batu beronjong atau pun normalisasi sungai. Namun hingga saat ini usulan itu belum juga ada realisasinya.

"Saya bahkan juga menyampaikan langsung ke Balai Sungai. Karena belum ada realisasi, maka musibah ini selalu terjadi setiap tahun," sebut H. Abdul Malik.

Tambang Batu dan Penebangan Pohon

Pemicu banjir, kata Abdul Malik, lebih pada tingginya curah hujan dan kondisi sungai yang perlu dinormalisasi. Sedangkan keberadaan tambang batu dan juga penebangan hutan di Nagari Koto Alam menurutnya tak akan berdampak buruk seperti itu. Pasalnya masyarakat hanya menebang batang durian yang sudah rusak atau tak berbuah lagi.

Sedangkan 7 usaha tambang yang mengantongi mengantongi IUP (Izin Usaha Pertambangan) di wilayah nagari itu, sebagian besar tidak beroperasi lagi, karena menurun drastisnya permintaan material batu gunung seiring tak berjalannya proyek-proyek fisik di masa pandemi.

"Soal penebangan pohon oleh masyarakat sangat minim sekali. Paling masyarakat hanya menebang pohon durian yang sudah tak berbuah lagi. Soal tambang batu gunung memang ada dampak positif dan negatifnya. Tapi saat ini sebagian besar usaha tambang itu juga tak berjalan," kata Abdul Malik sembari berujar bahwa daerah yang paling terdampak oleh banjir dua lalu itu adalah Mangilang. (erz)