Subuh 1 Ramadhan 1442 H Jamaah Masjid Baitussalam Full

oleh -440 klik
Masjid Baitusasalam tahun 1980-an dan masa sekarang. Foto dalam lingkaran adalah suasana Shalat Subuh, Selasa (13/04/2021) atau subuh hari pertama Ramadhan 1442 H. JNC/DOK FB
Masjid Baitusasalam tahun 1980-an dan masa sekarang. Foto dalam lingkaran adalah suasana Shalat Subuh, Selasa (13/04/2021) atau subuh hari pertama Ramadhan 1442 H. JNC/DOK FB

JERNIHNEWS.COM-Subuh 1 Ramadhan 1442 H atau Selasa (13/04/2021) jamaah Masjid Baitussalam, Koto Baru Balai Janggo, Kelurahan Kapalo Koto Dibalai, Kota Payakumbuh ramai. Nyaris seluruh shaf laki-laki dan perempuan penuh terisi.

Shalat subuh diimami oleh Ust. Syafrial, S.Pd, lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang. Sedangkan penceramah subuh, Ust. Zainul, S.Pd. Judul ceramah Ust. Zainul tentang visi dan misi kehidupan.

Menurut Ust. Zainul visi dan misi hidup seorang muslim adalah mencapai derajat taqwa. Caranya adalah dengan mendirikan shalat , puasa, zakat, bersedekah dan lainnya. Ceramah yang disampaikan Zainul, bernas dan jelas. Namun sayangnya, jamaah Shalat Subuh yang jumlahnya ratusan orang, begitu shalat selesai, hanya seperlima yang tinggal mendengarkan ceramah.

Pada malam pertama Ramadhan, Senin (12/04/2021) jumlah jamaah yang shalat isya dan tarawih juga banyak. Tentu lebih banyak pula dibandingkan jamaah shalat subuh pagi tadi. Hanya saja, seperti biasa, di malam pertama Ramadhan belum ada ustadz atau buya yang memberikan ceramah Ramadhan. Yang ada hanya penyampaian laporan oleh pengurus masjid. Memang begitulah setiap tahun.Banyak informasi penting yang disampaikan pengurus di malam pertama tersebut.

"Alhamdulillah, malam pertama jamaah ramai. Seperti biasa, di malam pertama tidak ada penceramah. Hanya penyampaian laporan dan juga sambuatan dari pengurus masjid," sebut As Raji, salah seorang jamaah rutin Masjid Baitussalam, Selasa (13/04/2021).

Masjid Baitussalam terletak di Jalan H. Rasul. Masjid ini adalah cikal bakal berdirinya Yayasan Pendidikan Raudhatul Jannah atau yang lebih dikenal dengan singkatan YPI RJ. Yayasan tersebut berdiri pada tahun 1989. Yayasan ini murni gagasan dari remaja masjid yang berikutnya ide besar itu ditindaklanjuti oleh jemaah Masjid Baitussalam yang dewasa.

Tak seperti zaman sekarang, dulu sebelum tahun 1990-an banyak pemuda atau remaja Koto Baru Balai Janggo yang tidur di Masjid Baitussalam. Ketika itu terasa agak janggal jika remaja laki-laki tidur di rumah. Sehingga belasan bahkan puluhan remaja laki-laki yang tidur di masjid.

Bangunan masjid tersebut belum seperti sekarang. Bangunannya memang sudah berlantai dua, tetapi lantai duanya terbuat dari kayu. Empat tiang utamanya juga terbuat dari kayu. Lantai atasnya dijadikan TPA ( Taman Pendidikan Alquran). TPA Masjid Batussalam pernah berprestasi, menjadi TPA Teladan Tingkat Kota Payakumbuh. Prestasi itu tak lepas dari kegigihan Hj. Lansima atau yang dikenal juga dengan julukan haji pendek. Masa itu, tua, muda dan anak-anak tidak ada yang tak kenal dengan beliau.

Atas prestasi itu pula, Pemerintah Kodya Payakumbuh di awal tahun 1980 menghadiahkan bangunan permanen untuk ruang belajar bagi TPA Masjid Baitussalam. Tiga ruang belajar, 1 ruangan kantor dan 1 unit ruangan toilet. Letaknya sekitar 200 meter arah utara Masjid Baitussalam.

Bangunan itulah yang dipakai oleh Taman Kanak-kanak (TK) YPI RJ pertama kali dan hingga sekarang. Ketika itu, bangunan TPA Masjid Baitussalam itu memang tak digunakan lagi secara maksimal, menyusul terjadinya pasang surut pengelolaan TPA itu. Kegiatan belajar mengaji TPA Masjid Baitussalam kembali lagi ke masjid. Saat itu bangunan Masjid Baitussalam juga mulai direhabilitasi. Bangunan baru masjid (yang dipakai sekarang) perlahan mulai dibuat. Kendati belum selesai bangunan baru masjid itu tetap digunakan. Namun bangunan lama tak langsung dibongkar, tetapi dijadikan TPA.

Pada tahun 1990-an pengelolaan TPA Masjid Baitussalam diambil alih oleh Remaja Masjid Baitussalam. Ketika itu adalah puncak kejayaan Remaja Masjid Baitussalam. Selain mengelola TPA, Remaja Islam Masjid Baitussalam atau yang disingkat dengan RIMBS juga menggelar kursus Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Kursus Komputer, dan pembelajaran tentang Islam yang lebih mendalam. Ada juga kegiatan produktif, berupa usaha kecil-kecilan yang dapat menambah uang jajan para remaja masjid yang umumnya masih sekolah dan ada beberapa yang kuliah.

Remaja 1980 dan 1990-an Masjid Baitussalam yang masih hidup sampai sekarang, di antaranya adalah Novriadi, Rinaldi, Emrizal, Anwar St. Mudo, Asra, M. Afif, Joni Indra, Jhon Rizal, M. Hasbi, Nandi Masykur, Fuad, Sudirwan, Ujang Roza, Jumalis, Yon Erizon, Hengki, Joni Hendri, Syafriadi, Gope, Asre (Asrizal), Susi Anto, Junaidi dan lainnya. Sebagian besar dari mereka memang tidur di Masjid Baitussalam.

Sedangkan pegiat RIMBS yang putrinya, di antaranya Erni, Yasmiati, Rahmawati, Rahmawita, Rina Cantik Manis, Deswita Cantik Manis, dan lainnya.

RIMBS kala itu benar-benar kompak. Setiap Bulan Ramadhan banyak kegiatan yang mereka gelar. Di antaranya MSQ, cerdas cermat dan berbagai perlombaan lainnya. Seluruh acara yang digelar didukung penuh oleh jemaah dan juga warga Kelurahan Koto Baru Balai Janggo serta para perantau. Jika mengikuti lomba pada masjid lain di Bulan Ramadhan, RIMBS langganan pula menjadi juara.

Kini para remaja Masjid Baitussalam di era tahun 80-an dan 90-an itu, sudah tak muda lagi. Mereka ada yang berada di Payakumbuh dan ada pula di rantau. Profesi mereka beragam, ada yang ASN, pengusaha, karyawan, pelaku UKM dan lain sebagainya. Thamrin Manan, SH dan Buya H. Darul Qutni adalah di antara sosok yang banyak memberikan semangat dan pencerahan kepada remaja masjid. Thamrin Manan (sudah wafat) yang menjadi Ketua YPI RJ pertama. Sedangkan Buya H. Darul Qutni adalah pembina sekaligus yang mengusulkan Raudhatul Jannah sebagai nama yayasan jamaah Masjid Baitussalam tersebut. Karakter mereka bertolak belakang, satu keras dan satunya lagi soft. Pengurus Masjid Baitussalam lainnya saat itu, Dt. Rajo Mantiko Alam, Zainal Abidin, Tarmizi Wahid, Darmansyah, dan lainnya. Gagasan kaum muda disukseskan oleh kaum tua (dewasa). Begitulah sinergi jamaah Masjid Baitussalam dulunya. Kini jumlah peserta didik YPI RJ sekitar 2.000 orang, mulai TK, SD, SMP dan SMA. Luar biasa kemajuannya. (yon erizon)