Indonesia Kehilangan 10 Juta Dosis Vaksin GAVI

oleh -53 klik
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin. NET
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin. NET

JERNIHNEWS.COM- Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut Indonesia kehilangan 10 juta dosis vaksin gratis dari kerja sama multilateral Aliansi Global untuk Vaksin dan Imunisasi (GAVI). Dari 11,7 juta vaksin AstraZeneca yang dijanjikan GAVI, Indonesia kemungkinan besar hanya mendapatkan 1,3 juta dosis vaksin gratis.

"Gara-gara ada lonjakan kasus, India embargo vaksinnya, sehingga kita kehilangan 10 juta dosis yang harusnya kita peroleh dari kerja sama dengan GAVI atau WHO yang gratis itu. Tadinya, kita berencana dapat 11,7 juta, tapi sekarang kita dapatnya 1,3 atau 1,4 juta kemudian sisanya berhenti," katanya, Selasa (06/04/2021) sebagaimana dilansir dari CNN Indonesia.

Menurut Budi, berkurangnya pasokan vaksin gratis dari GAVI akan memperlambat program vaksinasi yang dilakukan pemerintah.

Pasalnya, dengan pasokan yang menipis, jumlah vaksin yang disuntikkan per harinya juga akan berkurang. "Jadi, bulan ini (April) akan sangat sulit masanya karena jumlah vaksin sedikit," ucapnya.

Meski demikian, ia menjamin setelah vaksin yang diolah PT Bio Farma (Persero) selesai, laju kecepatan vaksinasi per hari bisa kembali digenjot. "Mei rencana kita produksi Bio Farma bisa meningkat kembali, sehingga lajunya bisa kita tingkatkan," imbuhnya.

Budi menjelaskan pemerintah sebenarnya menargetkan vaksinasi bisa mencapai 1 juta dosis per hari. Namun, seperti dijelaskan di awal, kecepatan tersebut sangat bergantung dengan pasokan vaksin di dalam negeri.

Sementara, dengan ketersediaan 15 juta vaksin yang diproduksi Bio Farma saat ini, Budi menargetkan Indonesia dapat melakukan 500 ribu suntikan dalam sehari.

"Kayak di awal Januari-Februari kita cuma punya 3 juta vaksin, tidak mungkin kita 1 juta atau 500 ribu sehari, enam hari juga sudah habis. Nah, Maret, April ini kita ada stok. Rencananya 15 juta per bulan jadi kita bisa suntik 500 ribu per hari kalau kali 30 bisa pas 15 juta," katanya menandaskan. (pr)