Jelang Ramadhan 1442 H, Warga Koto Baru Bl. Janggo Goro Pandam Perkuburan

oleh -129 klik
Warga Koto Baru Balai Janggo, Kelurahan Kapalo Koto Dibalai, Kecamatan Payakumbuh Utara gotong royong membersihkan Pandam Perkuburan Dangau Ampiang, Minggu (04-04-2021). ERZ
Warga Koto Baru Balai Janggo, Kelurahan Kapalo Koto Dibalai, Kecamatan Payakumbuh Utara gotong royong membersihkan Pandam Perkuburan Dangau Ampiang, Minggu (04-04-2021). ERZ

JERNIHNEWS.COM-Tradisi bergotong royong membersihkan pandam perkuburan setiap menjelang Bulan Ramadhan masih tetap terjaga dan rutin dilaksanakan warga Koto Baru Balai Janggo Kelurahan Kapalo Koto Dibalai, Kecamatan Payakumbuh Utara. Pada Minggu (04-04-2021) pagi atau sepekan sebelum datangnya Bulan Ramadhan 1442 H/ 2021 M, ratusan warga daerah itu kembali melaksanakan hal yang sama.

Warga Koto Baru Balai Janggo makan bersama setelah goro pandam perkuburan. IST
Warga Koto Baru Balai Janggo makan bersama setelah goro pandam perkuburan. IST

Pandam perkuburan warga Koto Baru Balai Janggo itu bernama Pandam Perkuburan Dangau Ampiang. Mulai dari pukul 07.00 WIB puluhan warga sudah mulai datang. Mereka ada yang membawa cangkul, parang, sabit, sapu, mesin pemotong rumput, keranjang sampah dan berbagai peralatan lainnya.

Anak dan cucu alm. Yasri dan Almh. Ertati usai goro di kuburan orang tua/ kakek dan nenek mereka. FARUQ
Anak dan cucu alm. Yasri dan Almh. Ertati usai goro di kuburan orang tua/ kakek dan nenek mereka. FARUQ

Pengurus kongsi kematian dan juga pengurus Masjid Baitussalam tampak hadir di tengah-tengah warga yang bergotong royong. Tampak Ketua Umum Pengurus Masjid Baitussalan Heri Iswandi Dt. Muntiko Alam yang juga anggota DPRD Kota Payakumbuh. Hadir juga bersama warga Wirman Putra Dt. Rajo Mantiko Alam, yang juga anggota DPRD Kota Payakumbuh. Berikutnya Lurah Kapalo Koto Dibalai Candra Januardi, SIP dan tokoh masyarakat lainnya.

Selain membersihkan kuburan keluarga masing-masing, warga juga membersihkan semak dan rumput ilalang yang tumbuh di areal pandam perkuburan. Karena goro secara massal hanya dilaksanakan dua kali setahun, rumput ilalang dan semak banyak yang sudah tinggi. Terkecuali yang pada tumpak-tumpak tertentu yang dibersihkan secara rutin oleh pihak keluarga.

Sekretaris Umum Pengurus Masjid Baitussalam Novriadi mengarahkan dan menyemangat warga yang tengah goro. Sampah ditumpuk di beberapa lokasi, lalu dibakar. Tidak saja para remaja dan dewasa yang ikut goro, banyak juga anak-anak. Mereka juga ikut bersemangat membersihkan makam nenek, paman atau pun orang tua mereka.

Jumlah kuburan yang ada di Pandam Perkuburan Dangau Ampiang ini diperkirakan sudah ribuan. Padahal luasnya hanya sekitar 6.000 meter persegi saja. Edi, salah seorang tokoh masyarakat Koto Baru mengatakan ada kuburan yang sudah dempet tiga. Pada area yang sudah rata, tidak ada lagi tanda-tanda bahwa di lokasi itu pernah ada makam, digali kuburan yang baru saat ada warga yang meninggal. Seringkali penggali kuburan menjumpai tengkorok dan tulang belulang. "Sudah ada juga yang dempet tiga kuburannya," sebut Edi kepada jernihnews.com di sela-sela goro.

Pengurus Kongsi Kematian Koto Baru Balai Janggo melarang warga membangun kubur dengan tembok permanen. Hal itu sesuai dengan syariat islam, dan juga bertujuan agar pihak keluarga dari almarhum yang dimakamkan di pandam itu tetap rutin menyilau dan membersihkan makam. Selain itu juga ditujukan agar makam yang telah puluhan tahun dan yang tidak pernah lagi dibenahi pihak keluarga sehingga tandanya hilang dapat digunakan kembali untuk makam warga lainnya. Intinya jangan cepat penuh.

Lurah Kapalo Koto Dibalai, Candra Januardi, SIP mengatakan gotong royong perkuburan dilaksanakan serempak oleh warga di kelurahan yang dia pimpin. Kelurahan Tigo Koto Dibalai merupakan penggabungan tiga keluarahan, masing-masing Koto Baru Balai Janggo, Bunian dan Balai Baru.

"Alhamdulillah tradisi goro perkuburan menjelang memasuki Bulan Ramadhan masih tetap terjaga di masayarakat kita. Warga bersemangat dengan suasana kekeluargaan," sebut Lurah Candra.

Setelah tuntas membersihkan seluruh areal pandam, warga pun makan bersama. Setiap rumah atau kepala keluarga memang diminta mengantarkan satu buah nasi bungkus ke pandam perkuburan untuk dikonsumsi oleh peserta goro.

Acara makan bersama di pandam perkuburan pun menjadi ajang silaturahmi bagi warga. Ada mereka yang sudah sekian tahun tak berjumpa, di tempat inilah mereka bersua. Gelak tawa serta candaan mencurat di ajang makan bersama tersebut. Warga yang pulang dari rantau menjelang bulan puasa pun ikut bernostalgia. Meski hanya dengan duduk bersila di atas rumput, namun makan warga begitu nikmat. Kebersamaan dan kekeluargaan, itulah kuncinya. Sekitar pukul 10.00 WIB, acara pun selesai dan warga pulang ke rumah masing-masing . (erz)