Ironi Covid-19, Separoh Murid Kelas 1 dan 2 SD Belum Bisa Membaca

oleh -227 klik
Pembelajaran tatap muka di salah satu sekolah dasar (SD). NET
Pembelajaran tatap muka di salah satu sekolah dasar (SD). NET

JERNIHNEWS.COM- Pandemi Covid-19 berdampak buruk pada berbagai lini. Sektor pendidikan juga paling terdampak. Di beberapa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Limapuluh Kota, murid kelas 1 dan 2, separoh lebih belum pandai membaca. Kondisi ini disebabkan karena sangat tidak efektifnya pembelajaran selama pandemi Covid-19.

Kondisi yang sangat ironis itu, disampaikan oleh Ed, salah seorang Kepala SD Negeri di Kabupaten Limapuluh Kota. Minimnya pembelajaran tatap muka dan tidak berjalan efektifnya pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjadi penyebab utama tidak tercapainya target pembelajaran di kelas 1 dan 2 SD selama pandemi Covid-19.

"Murid kelas 2 saja lebih separoh yang tidak bisa membaca. Apalagi murid kelas 1," kata Ed kepada jernihnews.com, Jumat (02-04-2021) di Limapuluh Kota.

Lebih rinci dijelaskan kepala sekolah tersebut, penyebab banyak murid kelas 2 yang belum bisa membaca, karena saat mereka masih kelas 1, pandemi Covid-19 datang, yakni pada pertengahan Maret 2020, sehingga tatap muka dihentikan dan diganti dengan PPJ sistem luring.

Jelas saja sistem PPJ luring sangat tidak efektif diterapkan terhadap mereka. Sedangkan dengan belajar tatap muka saja, murid kelas 1 sebagian masih susah paham dan menguasai materi pembelajaran, apalagi dengan sistem PPJ luring.

Ada fakta buruk lainnya, saat latihan atau ujian PPJ luring dan pengerjaan tugas kebanyakan orang tua yang mengambil peran seolah-olah sebagai murid. Akibatnya nilai-nilai tugas,latihan dan ujian, nyaris semuanya tinggi. Banyak yang memperoleh nilai 100 dan hanya sangat kecil porsentase murid yang nilainya di bawah KKM.

Begitu dimulai tatap muka, semua kedustaaan yang dilakukan orang tua dan murid perlahan mulai terbongkar. Murid yang saat PPJ Luring sangat jago matematika, dan pelajaran lainnya, tidak-tiba terungkap, bahwa ternyata mereka tidak bisa apa-apa. Bahkan tidak bisa membaca. Murid yang juara di semester genap, tiba-tiba di semester ganjil berikutnya, saat pembelajaran tatap muka nilai-nilainya anjlok.

Dari fakta itu muncul dugaan kuat dari para guru, jika murid-murid demikian, yang mengerjakan tugas, latihan dan ujiannya selama PPJ Luring adalah orang tua, kakak atau anggota keluarga si murid tersebut.

"Sempat banyak orang tua yang diprotes ke sekolah. Lalu setelah dijelaskan dan ditanyakan tentang siapa yang mengerjakan tugas, latihan dan ujian ketika PPJ, sebagian besar mengaku memang bukan murid yang mengerjakan. Tapi orang tua dan kakak si murid," ungkap Ed.

DG, guru SD di Kabupaten Limapuluh Kota lainnya juga mengungkapkan kondisi yang sama. Di sekolahnya juga sekitar separoh murid kelas 1 dan 2 belum pandai membaca. Meski belum pandai membaca, namun murid tetap terpaksa dinaikkan dari kelas 1 ke kelas 2. Sebab jumlah mereka yang belum pandai membaca itu tidak sedikit. "Tak mungkin pula yang tidak naikkan jumlahnya sampai sampai separoh dari jumlah murid," ujar RG kepada jernihnews.com.

Guru perempuan ini juga mengungkap tentang adanya beberapa orang tua murid yang datang dan marah-marah ke guru di sekolah. "Kenapa ketika dengan Bapak itu nilai anak saya bagus, tapi dengan ibuk nilai anak saya buruk," kata DG, menirukan protes yang dilancarkan orang tua murid itu.

Setelah dijelaskan dengan lengkap oleh DG, barulah orang tua murid itu paham dan mau menerima fakta yang ada pada anaknya. Orang tua itu mengaku bahwa yang mengerjakan tugas, latihan dan ujian selama PPJ bukan si murid, tapi orang tua dan kakaknya.

En, guru SD lainnya di Limapuluh Kota juga mengungkapkan hal serupa seperti apa yang terjadi di sekolah Ed dan DG. Apakah ada solusi dari permasalahan itu? Menurut En, sejauh ini hanya masing-masing guru kelas 1, 2 dan 3 yang harus bekerja keras untuk mencapai target pembelajaran. Belum ada program khusus untuk menuntaskan persoalan ini yang turun dari Dinas Pendidikan Kabupaten Limapuluh Kota. (erz)