Dianggap Tak Sopan Dalam Sidang, Hakim Peringati Terdakwa Penganiaya Jurnalis

oleh -200 klik
Suasana sidang dugaan penganiayaan terhadap oknum wartawan di ruangan sidang PN Dharmasraya di Nagari Koto Padang, Kecamatan Koto Baru, Rabu (17/02/2021). DI
Suasana sidang dugaan penganiayaan terhadap oknum wartawan di ruangan sidang PN Dharmasraya di Nagari Koto Padang, Kecamatan Koto Baru, Rabu (17/02/2021). DI

JERNIHNEWS.COM- Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Dharmasraya menggelar sidang kasus dugaan penganiayaan dan intimidasi terhadap wartawan media investigasi group, Rabu (17/02/2021) pukul 17.30 WIB di ruangan sidang Pengadilan Negeri Pulau Punjung, di Koto Padang .

Agenda sidang ketiga itu mendengarkan keterangan dari saksi korban Arpaliadi, dan juga tiga orang saksi lainnya.

Saksi korban dengan panggilan Ar, di hadapan Majelis Hakim yang diketuai Rahmi Afdilla, SH, mengakui dirinya telah dianiaya dan diintimidasi terdakwa, pada Rabu 14 Oktober 2020 yang berlokasi di jalan raya depan Rusunawa Jorong Pasir Putih, Kenagarian Sungai Kambut, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya.

Diungkapkan Ar, saat dia keluar dari Dinas Perkimtan Dharmasraya, terdakwa tiba-tiba datang menghampirinya dengan mobil pick-up BA 8004 V plat merah milik Pemda Dharmasraya yang disopiri teman terdakwa, Oki Saputra.

"Saat terdakwa turun dari mobil berkata kepada saya, ke sini kamu dulu dengan nada keras, dan lalu saya menghampiri terdakwa. Lalu terdakwa mencengkram tangan sebelah kiri dan menarik saya ke tempat sunyi lebih kurang 25 meter dari tempat awal. Terdakwa sambil mengatakan kenapa kamu memberitakan keluarga saya, berselang waktu itu terdakwa melepaskan cengkraman tangan sebelah kiri korban dan berpindah memegang pundak saya dengan kedua tangannya menekan ke bawah hingga saya tertunduk dan langsung korban menendang perut saya dengan lutut sebelah kanannya sebanyak satu kali yang membuat perut saya sakit hingga muntah-muntah," kata Ar menjawab pertanyaan hakim.

Kepada terdakwa, korban mengatakan bahwa dia tidak pernah membuat berita keluarga terdakwa. Kalau pun diyakini ada, mohon dibuktikan dan silakan sampaikan hak jawab.

Korban juga menegaskan bahwa ia tidak kenal dengan keluarga terdakwa. Korban juga tak pernah ke rumah terdakwa dan juga tidak tahu siapa orang tua terdakwa. "Di mana rumahnya saja saya tidak tahu,"katanya.

Atas perkara tersebut, hakim ketua menawarkan kepada korban agar memaafkan terdakwa. Lalu korban menyatakan kesediaan memaafkan terdakwa, namun tidak mengurangi proses hukum. Lalu, di sisi lain terdakwa dengan nada keras menyebutkan tidak mau minta maaf. "Tidak, tidak saya tidak mau berdamai," kata terdakwa di depan majelis hakim .

"Keterangan korban banyak salahnya, antara lain kata korban dengan mengatakan ada uang kecil lima puluh ribu tapi seratus ribu, tidak kenal dengan keluarga saya mustahil tidak kenal. Kata korban berkawan dengan saya lebih kurang satu tahun setau saya sudah tiga tahun,"kata terdakwa lagi dengan nada keras kepada hakim.

Terdakwa memberikan keterangan dengan cara membentak-bentak sehingga hakim ketua terpancing emosi oleh terdakwa dengan memukul palunya dengan keras supaya terdakwa dalam persidangan memperhatikan sopan santun.

"Tolong hargai saya dan jaga sopan santunmu dalam persidangan ini,"ucap Hakim Ketua Rahmi Afdilla kepada terdakwa.

Informasi dirangkum media ini sidang ini berdasarkan surat panggilan saksi pertama oleh Kejaksaan Negeri Kabupaten Dharmasraya. Untuk keperluan persidangan sehubungan dengan perkara atas nama terdakwa Romi Irwan panggilan Ir agar saksi menghadap kepada Saud Benhard. SH, jaksa muda, Kasi Datun. Di Pengadilan Negeri Pulau Punjung, di Koto Padang, untuk memberikan keterangan di persidangan sebagai saksi.

"Keterangan dari saksi korban dan tiga orang lainnya semakin menguatkan dakwaan terhadap pelaku Ir,"tutur Jaksa penuntut umum Saud Benhard. (di)