Sinyal Ponsel Kendala Klasik di Nagari Harau

oleh -183 klik
Homestay milik Nagari Harau, bantuan dari Kemendes RI. Nagari Harau sangat kaya dengan potensi pariwisata. Banyak destinasi wisata yang ada di nagari ini. Persoalan jaringan telekomunikasi  adalah masalah klasik di sebagian besar Nagari Harau. NET
Homestay milik Nagari Harau, bantuan dari Kemendes RI. Nagari Harau sangat kaya dengan potensi pariwisata. Banyak destinasi wisata yang ada di nagari ini. Persoalan jaringan telekomunikasi adalah masalah klasik di sebagian besar Nagari Harau. NET

JERNIHNEWS.COM-Hingga saat ini, kendala klasik yang dihadapi Nagari Harau adalah sarana komunikasi, alias sinyal telepon selular dan internet. Meski telah menjadi masalah sejak puluhan tahun lalu, namun hingga kini kendala bagi daerah yang hanya berjarak sekitar 7 kilometer dari Kantor Bupati Limapuluh Kota itu belum juga teratasi. Ini nyaris dikeluhkan mayoritas masyarakat di beberapa jorong di Nagari Harau.

Rahma Fitri, Sekretaris Nagari Harau, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota. ERZ
Rahma Fitri, Sekretaris Nagari Harau, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota. ERZ

"Kendala kita untuk maju masih saja masalah klasik yakni soal sinyal telepon. Padahal di Nagari Harau setidaknya ada empat destinasi wisata yang luar biasa. Tapi sayang di sebagian besar daerah kita tak ada sinyal telepon selular," kata Rahma Fitri, Sekretaris Kenagarian Harau, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Selasa (16/02-2021) kepada jernihnews.com saat ditemui di Kantor Wali Nagari Harau.

Kantor Wali Nagari Harau, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota. ERZ
Kantor Wali Nagari Harau, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota. ERZ

Menurut Fitri, di Kantor Wali Nagari Harau saja tidak ada sinyal ponsel. Akibatnya, pihak nagari mesti memasang fasilitas Wifi, sehingga dengan demikian baru bisa mempergunakan jaringan telepon dan internet. Demikian juga dengan warga, yang membutuhkan layanan telekomunikasi selular, harus pula memasang fasilitas WiFi. "Tapi sebagian besar warga rela pergi ke daerah-daerah yang ada sinyalnya, ketimbang memasang WiFi yang tentu berbiaya tambahan," kata Fitri.

Nagari Harau adalah nagari yang sangat kaya dengan potensi pariwisata. Setidaknya ada empat destinasi wisata di kenagarian yang berpenduduk 3.400 jiwa ini, yakni Air Terjun Akar Berayun, Fly Over Kelok Sembilan, Sarasah Murai, Ngalau Seribu, Aia Malanca di Ulu Aia dan lainnya.

Sebagai nagari wisata dengan destinasi-destinasi telah tersohor hingga nasional dan internasional, baru-baru ini Nagari Harau juga mendapat bantuan pembangunan 2 unit home stay dari Kementerian Desa (Kemendes) RI. Setelah homestay ini lengkap dengan berbagai fasilitas penunjang, dapat dihuni oleh wisatawan yang berkunjung ke Harau, dan dapat menjadi sumber pemasukan bagi nagari.

Sejak beberapa tahun terakhir banyak home stay yang tumbuh di objek wisata Lembah Harau yang masuk dalam wilayah ke Nagarian Harau. Kini jumlahnya sekitar 30 home stay. Sekitar 30 persen adalah milik masyarakat setempat. Sedangkan sisanya kepunyaan investor dari daerah lain. Keberadaan home stay dapat membantu menggerakan perekonomian masyarakat. Efek domino keberadaan home stay, rumah makan, warung atau kedai milik masyarakat jadi hidup.

Di sisi lain, lebih dari separoh masyarakat Nagari Harau bermata pencarian sebagai petani gambir. Naiknya harga gambir pada kisaran harga sekitar Rp37.000 per kg di daerah ini sejak sebulan terakhir, turut melegakan masyarakat. Karena, sejak empat tahun belakangan harga gambir jatuh hingga harga hanya sekitar Rp 20.000 per kg. Dengan naiknya harga gambir, petani bisa memenuhi berbagai kebutuhan dengan lebih baik.

Fitri sangat berharap pemerintah benar-benar memperhatikan persoalan jaringan telekomunikasi yang menjadi masalah klasik di Nagari Harau yang memiliki luas Luas 11.610 Ha. Ketersediaan jaringan telekomunikasi dapat menunjang geliat pariwisata dan UMKM di nagari tersebut. Jaringan telekomunikasi juga dibutuhkan oleh masyarakat di dalam keperluan pemasaran hasil pertanian mereka. Terlebih saat ini, kegiatan belajar mengajar sekolah dan kampus dominan dilaksanakan secara daring. "Belajar daring terkendala di Nagari Harau karena tidak adanya sinyal telepon dan internet. Kita tidak bosan-bosannya menyampaikan hal ini. Karena memang menjadi masalah bagi masyarakat dan kita sebagai perangkat nagari," kata Fitri menandaskan. (erz)