Harga Gambir Naik, Petani Sumringah

oleh -264 klik
Gambir, hasil pertanian dari Kabupaten Limapuluh Kota yang menjadi komoditi ekspor ke nagara India, Thailand dan Jepang. Kini harga gambir naik, dari hanya sekitar Rp20.000,- menjadi sekitar Rp40.000 per kg. Petani dapat tersenyum. NET
Gambir, hasil pertanian dari Kabupaten Limapuluh Kota yang menjadi komoditi ekspor ke nagara India, Thailand dan Jepang. Kini harga gambir naik, dari hanya sekitar Rp20.000,- menjadi sekitar Rp40.000 per kg. Petani dapat tersenyum. NET

JERNIHNEWS.COM-Kini petani gambir mulai bisa tersenyum. Jerih keringat mereka bertani di ladang mulai seimbang dengan harga di pasaran. Di tingkatan petani sekarang gambir dibeli toke sekitar Rp42.000 per Kg. Ekonomi masyarakat mulai menggeliat. Kedai-kedai mulai banyak pembeli. Pasar rakyat atau disebut pokan yang buka satu sekali sepekan mulai ramai.

"Iya, harga gambir sudah di atas Rp 40.000,-. Petani sangat senang. Sudah bisa tersenyum lagi," kata Linda, salah seorang keluarga petani gambir di Nagari Talang Maur, Kecamatan Mungka, Kabupaten Limapuluh Kota, Kamis (11/01/2021).

Berladang gambir merupakan salah satu mata pencarian utama mayarakat Talang Maur dan Mungka sekitarnya. Masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota lainnya yang juga banyak berladang gambir ada di Kecamatan Kapur IX dan Kecamatan Pangkalan Koto Baru. Ladang gambir terletak di lereng-lereng bukit barisan yang membentang di daerah tersebut.

Renti Elsa Betti, salah seorang tokoh masyarakat Talang Maur juga membenarkan soal harga gambir yang sejak beberapa pekan belakangan merangkak naik. Sebagian petani yang selama ini menumpuk gambirnya saat harga murah, begitu harga naik, mulai menjual komoditi untuk bahan dasar kosmetik, pewarna, obat-obatan dan bumbu makanan tersebut.

Harga gambir telah lebih tiga tahun belakangan sangat anjlok. Hanya seputaran Rp20.000,- per kg. Bahkan sempat menyentuh harga Rp15.000 per kg. Petani pun menangis dibuatnya. Mereka tak bisa memenuhi kebutuhan harian. Sebagian petani terpaksa berhutang kian kemari guna bisa menutupi kebutuhan mereka. Sedangkan mereka yang memiliki sawah, kolam dan ternak sapi, kambing serta lainnya sebagai sumber pemasukan, lebih memilih menumpuk gambir di rumahnya ketika harga sangat anjlok.

Harga gambir sekitar tahun 2016 sempat melonjak tinggi hingga Rp160.000 per kg. Permintaan ekspor ke India, Thailand, Jepang dan lainnya sangat besar ketika itu. Berapa pun jumlah gambir petani, langsung diborong toke. Ketika itu petani gambir benar-benar senang, sejahtera. Banyak yang bangun rumah, beli mobil, atau pun sepeda motor. Ada guyonan, petani gambir cuci tangan dengan coca cola.

Di tahun 2016, saat harga gambir mencapai Rp160.000 per Kg, gaji petani penggarap atau pelaksana di ladang atau di kampaan (dapur pembuatan gambir), hingga mencapai Rp2,5 juta per minggu atau Rp10 juta perbulan. Nyaris semua warga di sentra-sentra ladang gambir kembali ke ladang, karena begitu menggiurkannya hasilnya. Namun, kondisi demikian tak sampai berlangsung satu tahun.

Ketika harga gambir sekitar Rp20.000,- per Kg, gaji para petani gambir hanya sekitar Rp400.000 per pekan. Bahkan, ketika harga gambir Rp15.000,- per kg, gaji para petani itu juga ikut terhenyak hingga menjadi Rp300.000,- per pekan. Tentu saja mereka menjerit bahkan menangis. Kini saatnya mereka bisa tersenyum kembali. "Semoga harga gambir seperti bertahan lama, bahkan terus naik kembali," kata Derri, pemilik ladang gambir.

Para petani gambir selalu berharap setiap digelarnya Pilkada Limapuluh Kota muncul kepala daerah baru yang dapat membantu menstabilkan harga gambir. Karena itu pula persoalan harga gambir selalu menjadi komoditi obrolan saat kampanye pilkada. Hingga kini semua masih sebatas dinamika politik. Harga gambir tetap berdasarkan harga pasar, tanpa ada regulasi dari pemerintah daerah atau pun pusat yang bisa melegakan para petani. (erz)