13 Anak Punk Disweeping Satpol-PP Payakumbuh

oleh -305 klik
Satpol PP Kota Payakumbuh mendata dan memberikan tindakan pembinaan terhadap 13 orang anak punk yang disweeping pada dua lokasi di Payakumbuh, yakni Simpang Lampu Merah Labuah Basilang dan Simpang Kaniang Bukik, Payakumbuh beberapa hari yang lalu. HUMAS
Satpol PP Kota Payakumbuh mendata dan memberikan tindakan pembinaan terhadap 13 orang anak punk yang disweeping pada dua lokasi di Payakumbuh, yakni Simpang Lampu Merah Labuah Basilang dan Simpang Kaniang Bukik, Payakumbuh beberapa hari yang lalu. HUMAS

JERNIHNEWS.COM— Sebanyak 13 anak punk diamankan oleh Satpol PP Kota Payakumbuh beberapa hari yang lalu. Langkah itu diambil lantaran banyaknya masyarakat yang merasa resah dan melaporkan aktifitas anak punk yang tubuhnya dipenuhi tato di sejumlah titik di Kota Payakumbuh. Anak punk itu terdiri dari muda dan mudi.

Anak punk itu disweeping dari dua lokasi, yakni Lampu Merah Simpang 4 Labuah Basilang dan Lampu Merah Simpang 4 Kaniang Bukit. Mereka langsung dibawa ke markas Satpol PP Kota Payakumbuh. Sempat terjadi kejar-kejaran, namun petugas sigap meringkus mereka.

Keterangan dari Kasatpol PP Devitra didampingi Sekretaris Erizon, Kabid PPD Ricky Zaindra, Kabid Trantibum Joni Parlin dan Kasi Penyidik Alrinaldi, para gelandangan ini tertangkap tangan oleh petugas yang melaksanakan patroli. Mereka diduga melanggar Perda dengan unsur seperti menggelandang di tempat umum sambil mengamen/meminta uang dengan adanya unsur paksaan, tidak memiliki dan tidak dapat menunjukkan KTP, mabuk-mabukan dengan mengkonsumsi miras jenis tuak, serta tidak mematuhi Prokes Covid-19.

"Kepada petugas Mereka mengaku ada yang dari Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota, Padang, Pasaman Barat, bahkan dari Lampung," kata Devitra, sebagaimana dimuat di laman Humas Pemko Payakumbuh.

Adapun poin ketentuan Perda Kota Payakumbuh yang dilanggar yakni: Pasal 9 ayat (2) dan (3) Perda Nomor 05 Tahun 2007 Tentang Ketentraman dan Ketertiban Umum; Pasal 6A ayat (3) dan (4) Perda No. 12 Tahun 2016 tentang Pemberantasan Penyakit Masyarakat & Maksiat; Serta melanggar Perda Nomor 6 Tahun 2020 tentang Adaptasi Kebiasan Baru.

Dari tangan para anak punk itu petugas menemukan barang bukti berupa 7 buah gitar (digunakan untuk mengamen) dan 4 liter miras jenis tuak.

Mereka lalu didata dan dibina mental, fisik dan disiplinnya oleh Kasatpol PP didampingi Kasi Wasbinluh bersama Kasi Operasional. Kemudian mereka membuat surat pernyataan bersedia tidak lagi melanggar Perda di hadapan Kasi Penyidik dan Penindakan disaksikan Lurah tempat mereka berdomisili.

"Bagi anak yang berdomisili di Payakumbuh mereka diserahkan kembali kepada pihak kelurahan masing-masing ataupun yang bertanggung jawab atas anak Punk tersebut untuk dijemput dan diawasi sebagaimana mestinya," kata Devitra menjelaskan.

Selain meminta mereka untuk tidak akan mengulangi perbuatan yang sama di masa mendatang, Devitra juga mengimbau agar mereka ikut berpartisipasi menjaga dan tidak akan mengganggu keamanan dan ketertiban umum di Kota Payakumbuh serta mematuhi ketentuan yang ada.

"Mereka juga bersedia dituntut dimuka pengadilan jika mengulangi perbuatan yang sama di kemudian hari. Jika nanti tertangkap lagi oleh Satpol PP Kota Payakumbuh melanggar Perda, maka mereka bersedia diberikan sanksi tambahan berupa potong botak rambut, barang bukti berupa gitar disita untuk diamankan di kantor Satpol PP Kota Payakumbuh," papar Devitra.

Salah satu warga Hanif yang mengaku resah dengan keberadaan anak-anak punk tersebut, mengapresiasi tindakan yang diambil Satpol PP Kota Payakumbuh itu.

"Angkut saja pak, bikin resah orang saja, apalagi saat mereka minta-minta itu kalau nggak dikasih malah marah-marah. Kalau di lampu merah mengganggu sekali, nanti orang nggak nyaman kalau singgah ke kota kita," katanya.

Di tempat terpisah, Tari warga lainnya menyampaikan harapan agar Satpol PP juga menertibkan siapa yang mengkoordinir anak-anak kecil yang disuruh mengamen di beberapa titik di Payakumbuh.

"Ada kami lihat anak kecil bergaya punk-punk disuruh ngamen ke toko-toko, lalu duitnya kayak disetor ke seseorang pak, kami mohon agar diperiksa lagi, jangan sampai terjadi pada anak-anak hal demikian," katanya menandaskan. (pr)