Baralek Gadang di Bogor, Silaturahmi Rang Tjg. Barulak Kubang Luar Biasa

oleh -638 klik
Tamu undangan keluarga besar perantau Jorong Tanjung Barulak, Nagari Kubang, Kabupaten Limapuluh, Sumatera Barat memberikan ucapan selamat kepada Iqbal dan Mutia yang melaksanakan resepsi pernikahan di Jl. Kelurahan Pabuaran, Cibinong, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu (15/11/2020). WAG TBK
Tamu undangan keluarga besar perantau Jorong Tanjung Barulak, Nagari Kubang, Kabupaten Limapuluh, Sumatera Barat memberikan ucapan selamat kepada Iqbal dan Mutia yang melaksanakan resepsi pernikahan di Jl. Kelurahan Pabuaran, Cibinong, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu (15/11/2020). WAG TBK

JERNIHNEWS.COM-Lebih dari separoh warga Jorong Tanjung Barulak, Nagari Kubang, Kecamatan Guguk Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat hidup di perantauan. Mereka hijrah dari kampung halaman ke negeri orang di berbagai provinsi di Tanah Air, bahkan hingga Malaysia. Jawa Barat adalah rantau mayoritas mereka. Pada Minggu (15/11/2020) salah satu keluarga perantau Tanjung Barulak, baralek gadang. Ribuan orang datang ke pesta ini, terutama perantau TBK (Tanjung Barulak Kubang).

Suasana resepsi pernikahan Iqbal-Mutia di Cibinong. ERZ
Suasana resepsi pernikahan Iqbal-Mutia di Cibinong. ERZ

Ya, yang menggelar resepsi pernikahan hari kemarin adalah keluarga Kasmar -- Risnawati. Keluarga asal TBK ini beralamat di Jl. Kelurahan Pabuaran RT 05/RW 06 Nomor 66 di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor. Putra ketiga keluarga ini Muhamad Iqbal menikah dengan Mutiara putri dari Deswita dan (Alm) Armensyah. Jodoh telah mempertemukan anak dari kedua keluarga tersebut.

Selama ini kedua mempelai, Iqbal dan Mutia tidak saling kenal. Keluarga Iqbal merantau ke Cibinong sejak tahun 1980-an. Sedangkan keluarga Mutia hidup di rantau yang sangat dekat yakni Kota Payakumbuh. Kedua mempelai sebelum diperjodohkan sama sekali belum pernah bersua. Namun kedua keluarga memang sama-samaberasal dari TBK.

Resepsi pernikahan Iqbal-Mutia benar-benar ramai. Ratusan warga TBK yang merantau ke wilayah Jawa Barat dan DKI Jakarta hadir di pesta pernikahan itu. Demikian pula warga perantau jorong lain di Nagari Kubang yang berada di kedua provinsi tersebut juga turut hadir. Dari pagi hingga sore mereka saling bergantian datang. Seperti biasanya, hajatan pesta pernikahan di perantauan juga sekaligus menjadi ajang silaturahmi sesama perantau TBK.

Setelah memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai dan makan, banyak di antara mereka yang tetap bertahan di lokasi pesta hingga berjam-jam. Mereka tampak asyik ngobrol, cipika-cipiki, foto-foto dan tertawa lebar. Melepas rindu dan taragak sesama perantau, kira-kira begitulah temanya. Tuan rumah pun senang hati dengan situasi itu. Karena begitulah lumrahnya kehidupan silaturahmi warga TBK di perantauan. Ada juga yang telah hadir berhari-hari di rumah sipangka pesta membantu persiapan perhelatan pesta berminantu ini.

Ya, ratusan kepala keluarga (KK) asal TBK merantau ke wilayah Jawa Barat. Man Kumis (64) mengatakan Cibinong adalah titik awal mulai banyaknya warga TBK yang merantau ke Jawa Barat. Para perantau TBK mayoritas berprofesi sebagai pedagang Martabak Kubang dan Martabak Bangka. Mayoritas para perantau TBK sukses di Jawa Barat. Mana yang gigih dan ulet serta bijak dalam berdagang, maka lebih cepat merengkuh sukses. Namun satu kata kunci yang perlu digarisbawahi, bahwa semua berproses dan tidak gampang. Sukses mereka tentu semuanya atas izin Allah SWT.

Di antara perantau TBK dan Nagari Kubang lainnya yang hadir ada juga yang datang langsung datang dari kampung halaman. Baik dari keluarga mempelai pria maupun pihak mempelai pria. Deswita, ibu dari Mutia (mempelai wanita) hadir bersama empat anaknya, Afifah, Rafi dan Reihan. Juga turut hadir mamak dari Mutia, yakni Yon Erizon dan anaknya Latif. Tampak juga keluarga Dt. Mangkuto yang pula datang dari kampung halaman.

Risnawati, ibu mempelai pria Iqbal duduk mendampingi kedua mempelai, menerima ucapan selamat dari para tamu. Sedangkan Kasmar, Bapak dari Iqbal tidak hadir di pesta ini, karena kakaknya Kartinis (Init/67tahun) dan Sumandonyo Dasril (Idad/68 tahun) meninggal di kampung halaman tercinta Tanjung Barulak, 5 hari menjelang pesta digelar. Kasmar langsung pulang kampung begitu mendapat kabar duka. Sedangkan resepsi pernikahan telah dipersiapkannya bersama anak-anak dan keluarga dari jauh-jauh hari. Kasmar atau yang biasa disapa Ame, hanya dapat menyaksikan resepsi melalui video dan foto-foto. "Apak masih bersedih, beliau tadi menelpon sambil menangis. Mudah-mudahan Apak bisa tegar," kata Risnawati bercerita dengan kondisi Kasmar di Tanjung Barulak, ketika usai telponan dengan Kasmar di sela-sela pesta.

Hengki Koto mengatakan lebih dari 50 persen warga TBK hidup di perantauan. Di wilayah Jawa Barat jumlah perantau TBK diperkirakan sekitar seribuan orang atau sekitar 350 kepala keluarga (KK). Para perantau TBK hampir semuanya berprofesi sebagai pedagang martabak. Produknya dikenal dengan sebutan martabak manis (Bangka) dan martabak telur. Pandemi corona cukup berdampak terhadap bisnis martabak. Apalagi jika yang berjualan di sekitar wilayah industri. Banyaknya PHK terhadap buruh atau pekerja turut berdampak kurang baik pula terhadap bisnis martabak.

Silaturahmi antar perantau TBK berjalan baik. Di group WA dan FB dan medsos lainnya cukup sering kegiatan pesta dan arisan warga TBK di Jabar dan Jakarta yang dishare. Hubungan baik di antara mereka tentu juga berdampak positif terhadap bisnis seragam mereka. Alhamdulillah, tidak ada persaingan tidak sehat di dalam bisnis di antara mereka. Tidak ada perang harga atau tarif di antara mereka. Masing-masing tetap mengedepankan pelayanan dan kualitas produk.

"Alhamdulilllah, kalau di antara kita orang Kubang tidak ada persaingan harga," kata Inaldi, suami dari Rini Marlina yang berdagang martabak di Jl. Ciluntat, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung . Inaldi memiliki usaha martabak pada tiga tempat kawasan Jl. Ciluntat.

Indahnya silturahmi dan baiknya kehidupan warga TBK di perantauan juga tergambar dari bantuan dan sumbangan yang dikirim ke kampung halaman. Baik untuk keluarga, dan operasional Masjid Ittifaq serta untuk membangun berbagai fasilitas di Jorong TBK. Jalan beton sepanjang lebih kurang 800 meter dan lebar 5 meter di Jorong TBK adalah swadana dan swadaya dari perantau dan wargaTBK. Demikian pula dengan menara Masjid Ittifaq yang kini juga telah berdiri kokoh dan megah.

Selamat berbahagia Iqbal dan Mutia. Semoga menjadi keluarga samawa. Keluarga perantau TBK dan Kubang umumnya di Jawa Barat dan DKI Jakarta serta di mana pun berada, tetaplah kompak. Senantiasalah menjaga silaturahmi, karena silaturahmi adalah investasi yang sangat penting dan berharga. (yon erizon)