Pesan Tersirat di Balik Good Looking, Preman dan Si Penusuk Gila

oleh -433 klik
Islam Phobia. JNC
Islam Phobia. JNC

Oleh : Anton Permana.

Anton Permana
Anton Permana

Belum reda operasi 'kubah putih' dan symbol 'klepon', sebuah isyarat dalam dunia inteligen yang terungkap kepada publik dalam bentuk kode isyarat serangan terhadap umat Islam, kembali terjadi serangan fisik berupa penusukan terhadap Ulama Syekh Ali Jaber di Lampung dan Imam Masjid di Oku Sumatera Selatan.

Insiden penusukan ini kembali mudah ditebak yaitu; Si pelaku atas pengakuan orang tuanya tak sampai 1 x 24 jam dinyatakan "gila".

Tentu pengakuan ini kembali membuat geram banyak pihak. Modus seperti ini sudah berulang kali terjadi. Jika korban penganiayaan adalah ulama, selalu berakhirnya dengan pernyataan bahwa si pelaku adalah orang gila yang kemudian tidak bisa diproses hukum dan bebas. Silahkan searching beritanya di google, sudah sangat banyak berita serupa terjadi sebelumnya.

Banyak analisis konspirasi dan analisis inteligen menyikapi insiden itu. Termasuk saya yang juga membahasnya intens dengan beberapa kolega yang paham dan punya ilmu akan itu. Dan hasil analisa sementaranya adalah :

1. Insiden ini bukan insiden biasa. Ada dugaan motif lain di balik semua itu. Ujung dari rangkaian beberapa peristiwa sebelumnya yang kalau kita jeli dan teliti melihatnya, ada keterkaitan khusus satu sama lainnya.

2. Keterkaitannya itu berhubungan dengan isu yang juga heboh atas pernyataan salah satu menteri yang mengatakan bahwa: berpenampilan 'good looking' itu adalah salah satu indikator masuknya paham radikalisme. Seperti fasih bahasa arab, hafidz Qur'an, serta berpakaian rapi dan Islami. Dan radikalisme itu adalah musuh negara.

Sontak pernyataan sentimentil ini mematik kemarahan umat. Sebuah komentar yang dianggap nyata sebagai bentuk kebencian dan permusuhan terhadap agama Islam. Meskipun akhirnya si menteri minta maaf. Namun pernyataan beliau sudah terlanjur menyakiti menoreh luka umat Islam.

3. Selanjutnya, tak lama berselang juga keluar sebuah komentar dari salah satu institusi di negeri ini yang punya rencana untuk melibatkan para preman di barisan depan sebagai penegak disiplin covid-19.

Tak ayal, komentar ini juga menuai protes dan kecaman dari banyak akademisi, praktisi dan tokoh masyarakat. Bagaimana seorang 'preman' mau dijadikan penegak disiplin di tengah masyarakat ?

Apa ini tidak sama saja mengadu domba sesama masyarakat ? Kenapa tidak memberdayakan ormas Bela Negara yang begitu banyak dan sudah terlatih? Dan lagi tentu secara wibawa dan performance akan lebih diterima masyarakat dari pada preman. Karena preman dari pandangan umum itu cenderung negatif. Dan ini pasti akan menimbulkan masalah baru.

4. Lalu muncullah insiden penikaman oleh Aldian terhadap Syekh Ali Jaber. Dan anehnya dalam hitungan jam, juga beredar foto si penusuk di dalam akun sosial medianya dengan berbagai pose yang terkesan waras namun terlihat "style preman" nya.

Setelah ditelusuri, akun tersebut juga baru dan terkesan memang sengaja ditampilkan dan dikonsumsi publik.

Lalu beredar juga postingan- postingan komentar dari yang mengaku tetangganya bahwa mengatakan si penusuk tidak gila dan punya istri baru melahirkan.

Terlepas apakah semua berita jagad sosial media itu akurat atau tidak, bagi saya fenomena simbol dan pesan-pesan tersirat dari rangkaian informasi itu yang menarik kita teliti dan cermati.

Karena kalau berbicara tentang operasi dunia inteligen, semua bisa terjadi dan ada kemungkinan saling keterkaitan. Di mana itu kadang dikomunikasikan melalui simbol dan kata sandi tertentu.

5. Kalau kita hubungkan antara kata 'good looking' itu adalah simbol kelompok radikal, preman sebagai penegak kedisiplinan covid-19 (eksekutor), lalu insiden penusukan terhadap ulama, ini ibarat rangkaian sebuah simbol (kata sandi) perintah dari user kepada agen lapangan.

Good looking adalah simbol (kata sandi) dari target yaitu kelompok yang radikal, preman adalah simbol (kata sandi) dari eksekutor. Maka terjadilah si preman menusuk 'good looking' (ulama/da'i).

6. Ada banyak kemungkinan motif dan orientasi dari skenario ini. Yaitu ; bisa berupa teror ancaman terhadap ulama/da'i yang beroposisi terhadap penguasa, bisa upaya provokasi adu domba baik itu sesama umat Islam, maupun umat dengan aparat, bisa juga berupa upaya memancing reaksi umat Islam agar bertindak liar/radikal kemudian tindakan ini digoreng dalam rangka amunisi stigmanisasi radikal, atau bisa juga pengalihan isu, dan terakhir bisa juga berupa membangun image bahwa Islam dimusuhi dan memberi sugesti terhadap kelompok pembenci Islam untuk melakukan hal yang sama dimanapun berada. Yaitu ; untuk menghadapi kelompok Islam yang dicap radikal cukup dilawan menggunakan tangan preman. Mirip pola zaman Belanda menggunakan tangan "centeng" untuk memerangi pejuang pribumi. (Mirip film Si Pitung).

Kalau kita berbicara tentang dunia inteligen, segala kemungkinan dan keterkaitan itu ada dan bisa terjadi. Dimana, dunia inteligen itu bisa berupa by order dari "state" atau "non-state" sebagai user terhadap agen/elemen di bawahnya. Dan untuk menelusuri keabsahan sebuah operasi inteligen juga harus menggunakan operasi kontra inteligen. Tidak bisa pakai cara normatif "kijang 1, kijang 2, targer bergerak... grzkk..grzkk..".

Untuk itulah, kita sebagai masyarakat civil society, khususnya umat Islam Indonesia harus hati-hati menyikapinya. Jangan terlalu reaktif dan mudah terpancing. Yang bisa menggiring kita semua masuk dalam perangkap skenario inteligen.

Kitapun tak bisa menyalahkan siapa-siapa di negeri ini. Karena ibarat dalam sebuah rumah, sebuah operasi inteligen bisa membuat rumah dan kamar rahasia lagi dalam rumah itu. Di dalam sebuah institusi negara sekalipun bisa terjadi infiltrasi inteligen dari pihak tertentu (invisible hand), yang mereka sendiri kadang tidak sadar (tidak tahu) sedang dimanfaatkan.

Artinya, yang paling utama ditingkatkan adalah kewaspadaan, pahami akar masalah bahwa ada motif provokasi dan teror di sini, meningkatkan sinergitas dengan para aparat dan pihak terkait yang masih merah-putih dan profesional, untuk upaya cegah dini, tangkal dini, serta menemukan formulasi agar segala skenario inteligent apapun itu motifnya gagal di tengah jalan.

Namun, untuk prosesi hukum terhadap si pelaku, tetap kita minta, dukung, dan desak aparat kepolisian untuk memprosesnya secara hukum. Membongkar siapa dalang dan pelakunya. Meskipun berat dan semoga akan maksimal, tidak seperti kejadian-kejadian sebelumnya.

Semoga ke depan, semua insiden ini tidak terulang kembali, dan ada saatnya nanti semua akan terbongkar dengan sendirinya kepada publik. Siapa dalang dan apa motif dari insiden ini. Karena dalam sejarah, modus dan motif penganiayaan terhadap para ulama ini juga pernah terjadi bahkan lebih sadis dan kejam di tanah air ini. Yaitu sejarah kebiadaban yang dilakukan oleh para kader PKI tahun 1948 dan tahun 1965. Apakah semua ini berhubungan ? Dan ada keterkaitannya dengan hari ini ??

Wallahu'alam. Kita tidak tahu. Biarkan waktu yang menjawabnya. Mari kita jaga Ulama kita. Jaga para tokoh pejuang kita. Dan mari kita jaga Indonesia. Salam Indonesia Jaya.

Jakarta, 14 September 2020