- Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UIN Bukittinggi

Politik dan Bahasa Inggris

oleh -245 klik
Irwandi - Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UIN Bukittinggi
Irwandi - Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UIN Bukittinggi

E-mail: irwandimalin@gmail.com

KEMAMPUAN berbahasa Inggris politisi kita, paling tidak bagi yang akan mencalonkan diri pada Pilpres, ternyata telah menjadi komoditi politik di tanah air. Kilir lidah Ketua DPR, Puan Maharani, saat berpidato dalam Bahasa Inggris pada Parliamentary Union General Assembly ke-143 di Madrid Spanyol, Sabtu (27/11/2022), bak "bola cogok" (peluang emas) bagi netizen yang ingin membulinya. Membanding-bandingkan kemampuan bahasa Inggris antar calon Presiden RI juga menghiasi jagad politik kita.

Saya sendiri berpendapat agar politisi kita atau para pejabat tak perlu memaksakan diri berbahasa Inggris jika benar-benar tak fasih. Belum lagi, lidah orang yang berusia di atas 40 tahun secara teoritis susah diajak kompromi untuk tepat dan berterima dalam melafazkan bunyi Bahasa Inggris itu (pronunciation). Kadang telinga kita geli saja mendengar jika ada pejabat yang berpidato berbahasa Inggris dengan pelafalan bunyi yang melenceng dari standar bunyi. Karenanya, akan lebih baik manggunakan bahasa nasional kita, Bahasa Indonesia, sebagai bahasa yang masuk sepuluh besar bahasa yang paling banyak dipakai di dunia.

**

Jika kita telisik ternyata meski sudah belajar bahasa Inggris bertahun-tahun sejak dari bangku sekolah lanjutan pertama hingga di perguruan tinggi, namun kemampuan bahasa Inggris orang dewasa Indonesia masih rendah dibanding masyarakat di kawasan Asia Tenggara terutama Singapura, Filipina, dan Malaysia.

Laporan tentang indeks kemampuan kemahiran berbahasa Inggris orang dewasa di 100 negara di dunia tahun 2020 yang diliris lembaga penyelenggara tes kemampuan Bahasa Inggris EPI (English Proficiency Index), menempatkan Indonesia berada urutan ke-74 dari 100 negara. Di urutan yang sama juga ada Bahrain dan Moroko. Di Asia, kemahiran berbahasa Inggris orang Indonesia masih di bawah Singapura (urutan ke-10), Filipina (urutan ke-27), dan Malaysia (urutan ke-30). Laporan itu juga menyebutkan bahwa rata-rata orang di usia 26-30 tahun di seluruh dunia saat ini memiliki kecakapan Bahasa Inggris yang tinggi.

Penguasaan Bahasa Inggris dipengaruhi oleh banyak faktor yang diawali dari sikap mental pembelajar itu sendiri. Seseorang tak akan dapat belajar bahasa asing apa pun secara optimal jika dia punya beban psikologis atau psychological burdens dalam proses belajar.

Faktor-faktor yang bersifat psikologis sangat dominan menentukan kesuksesan seseorang dalam belajar bahasa Inggris. Karenanya mesti dilakukan penjernihan psikologis peserta didik, seperti memotivasi mereka untuk sabar dalam belajar, berani mengambil resiko, belajar dari kesalahan, dan berbagai turunan aspek psikologis lainnya.

Selain faktor psikologis, faktor-faktor sosial baik skala mikro maupun makro juga berpengaruh dalam penguasaan bahasa Inggris. Faktor sosial secara mikro diantaranya dalam bentuk interaksi peserta didik dan intensitas pemaparan atau ekspos bahasa Inggris itu kepada mereka. Peserta didik mesti dikondisikan untuk bisa berinteraksi dalam sebuah komunitas berbahasa agar dapat mempraktekkan Bahasa Inggris. Selain itu, Bahasa Inggris mesti dipaparkan kepada peserta didik secara terus menerus, seperti melalui bahan bacaan, audio dan video yang terseleksi untuk keperluan belajar Bahasa Inggris.

Faktor sosial secara makro yang turut mempengaruhi kesuksesan menguasai Bahasa Inggris adalah respon negara-negara di dunia terhadap Bahasa Inggris. Negara yang mengakui Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua atau bahasa resmi tentu akan mempengaruhi motivasi dan intensitas warganya untuk menguasai Bahasa Inggris. Selain itu, dukungan institusi pengambil kebijakan dan institusi pendidikan juga memainkan peran penting dalam membantu peserta didik untuk menguasai Bahasa Inggris. ()