- Dosen UIN Bukittinggi/Direktur Lembaga Studi Dakwah Indonesia

Muhammadiyah: Dalam Sunyi Membangun Negeri

oleh -230 klik
Irwandi Nashir - Dosen UIN Bukittinggi/Direktur Lembaga Studi Dakwah Indonesia
Irwandi Nashir - Dosen UIN Bukittinggi/Direktur Lembaga Studi Dakwah Indonesia

E-mail: irwandimalin@gmail.com

LEBIH 100 tahun usianya. Sudah banyak yang diperbuatnya. Itulah Persyarikatan Muhammadiyah. Jika NU masyhur dengan pesantrennya, maka Muhammadiyah populer dengan lembaga pendidikannya sejak taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Bahkan, ada guyonan dilontarkan Allaahuyarham Prof. Yunahar Ilyas, "NU jika membuat madrasah lama-lama akan jadi pesantren. Sebaliknya, Muhammadiyah jika membuat pesantren,lama-lama jadi madrasah.

"Maksudnya, NU berpengalaman dalam mengurus pesantren, sementara Muhammadiyah berpengalaman dengan madarasah. Bahkan, Muhammadiyah juga banyak berkecimpung dalam amal usaha lainnya yang biasa disebut Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Di negeri tempat lahirnya, Yogyakarta, Muhammadiyah membangun perguruan tinggi yang mengundang decak kagum bagi siapa yang melihat. Sebutlah seperti Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan gedung pencakar langit dan masjidnya nan megah. UAD yang berlokasi di Ring Road Selatan, Tamanan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta ini adalah perguruan tinggi yang bertransformasi dari IKIP menjadi universitas.

Selain UAD, kita juga disuguhi dengan kemegahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Juga ada Penolong Kesengsaraan Umum atau yang lebih dikenal dengan PKU Muhammadiyah yang berdiri gagah dan megah. Terus ke arah Ring Road Baratnya lagi, di sana kita disambut Universitas Aisyiyah. Jika ke jalan S.Parman 68, kita bertemu gedung Madrasah Mua'llimin Muhammadiyah.

Semua gedung pendidikan itu murni dibangun oleh Muhammadiyah. Belum lagi di Jawa Timur dan kota kota kecil lainnya, bahkan di Sumatera. Bahkan Muhammadiyah juga membangun perguruan tinggi di luar negeri, seperti di Malaysia. Semua Masjid Muhammadiyah dibangun dengan megah. Patut dicatat dan diingat bahwa tak ada pengumpulan uang di pinggir jalan untuk membangun masjid dan gedung-gedung itu.

Muhammadiyah terbukti menjawab semua persoalan ummat dengan amal nyata meski berjalan sendiri di jalan sunyi. Bak kata pepatah "diam-diam menghanyutkan" dan tentu mencerahkan kehidupan ummat. Muhammadiyah menjawab masalah pendidikan dengan membangun ribuan sekolah dan perguruan tinggi. Muhammadiyah ternyata juga punya perguruan tinggi di Pedalaman Papua, yaitu di Sorong dan berapa kota lainnya. Muhammadiyah tidak hanya menyuarakan bela negara melainkan berbuat nyata.

Persoalan ummat dicarikan solusinya oleh Muhammadiyah dengan amal nyata dan amal mandiri. Prinsip ini sudah menjadi jiwa para pengikutnya. Tiga masalah besar manusia semua dijawab oleh Muhammadiyah. Lihatlah, masalah kesehatan dibangunnya rumah sakit, masalah pendidikan dibangunnya sekolah, masalah ekonomi digerakkannya LazisMu (Lembaga Amil Zakat,Infak,dan Shadaqah Muhammadiyah). Semua bergerak dinamis di atas jalan sunyi membangun negeri untuk menggapai ridho Allah Ta'ala.()