- Dosen UIN Bukittinggi

Maklumat Haji Akbar

oleh -515 klik
H.Irwandi Nashir - Dosen UIN Bukittinggi
H.Irwandi Nashir - Dosen UIN Bukittinggi

E-mail: [email protected]

ISTILAH hari haji akbar atau haji besar sesungguhnya merujuk kepada hari pelaksanaan ibadah haji itu sendiri, tanpa disyaratkan wuqufnya mesti di hari Jumat. Hari-hari pada masa berhaji itu sendiri adalah hari haji akbar, sementara istilah haji asghar (haji kecil) dilekatkan kepada ibadah umrah.

Hari haji akbar juga merujuk kepada hari saat dilakukan penyembelihan hewan qurban. Pada hari itu Allah Ta'ala memaklumkan sebuah maklumat penting,yaitu bahwa Allah Ta'ala dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrik. Lalu, orang-orang musyrik diajak untuk bertauhid. Istilah haji akbar dan maklumat Allah Ta'ala di hari itu dapat disimak dalam surah At-Taubah ayat 3.

Dan (inilah) suatu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.

Tauhid menjadi pesan inti dari ibadah haji dan penyembelihan hewan qurban. Seluruh rangkaian ibadah haji yang dimulai dari berniat ihram dengan memakai pakaian ihram yang tak ubahnya seperti mengafani diri sendiri, tawaf, sa'i, wuquf, dan melontar jumrah bermuara pada satu titik akhir, yaitu tauhid, mengesakan Allah Ta'ala yang tiada sekutu untukNya.Berqurban yang secara zhohir adalah menyembelih hewan,tapi secara hakiki mendidik jiwa kita untuk bertauhid yang ditandai dengan mengingat dan menyebut nama Allah Ta'ala yang telah menundukkan binatang ternak buat manusia, bersyukur atas nikmatNya, berbagi kepada sesama, dan keikhlasan dalam beramal (QS. Al Hajj, 22:34-37).

Keyakinan tauhid inilah yang mesti terus dipupuk,dikokohkan, dan dibuktikan melalui tindakan dan amal. Karenanya, sosok Nabi Ibrahim 'alaihissalam sering diaktualkan setiap bertemu dengan 'Idul Adha. Hal itu bukan karena tak ada alasan sebab manasik haji dan penyembelihan qurban menapak tilas dan merelasikan ingatan kita kepada pembuktian keteguhan tauhid yang dimiliki Nabi Ibrahim 'alaihissalam.

Ujian pembuktian bertauhid datang silih berganti menghampiri Nabi Ibrahim 'alahussalam. Usia 14 tahun, nabi Ibrahim telah mencapai intelektualisme monoteisme (kecerdasan dan keyakinan bertauhid) yang diawali dari sebuah pengakuan keyakinan tauhid (lihat surah Al A'am,6:79). Usia 16 tahun tegar menghadapi eksekusi hukuman bakar atas dirinya. Allah Ta'ala lalu menyelamatkannya. Usia 75 tahun putus hubungan dengan bapaknya, Azar, yang terus menghalangi dakwah tauhid Nabi Ibrahim dan mengancam keselamatan jiwa anaknya itu. Lalu, usia 87 tahun diperintahkan membawa Hajar dan bayinya,Ismail ke Mekkah yang gersang dan tak berpenghuni. 12 tahun kemudian, diperintahkan Allah Ta'ala untuk menyembelih Ismail.

Nalar dan keyakinan bertauhid yang dimiliki Nabi Ibrahim berdiri kokoh di atas bukti-bukti kebenaran (hujjah) bertauhid yang diajarkan langsung oleh Allah Ta'ala kepadanya. (QS.6,Al An'am, 80-83). Hujjah itu adalah: Pertama, seseorang bertauhid karena hidayah Allah Ta'ala.

Kedua, tidak ada yang dapat mengalahkan ketakutan melebihi ketakutan kepada Allah Ta'al.

Ketiga, tidak menuhankan akal, sebab akal itu pasti tunduk kepada Allah Ta'ala yang ilmuNya sangat luas.

Keempat, tauhid adalah ajaran yang logis dan mencerdaskan akal, dan hujjah kelima adalah tauhid yang tak dikotori oleh kemusyrikan berdampak pada ketenangan hidup.

Pesan tauhid melalui ibadah haji dan qurban ini akan terus berulang digemakan hingga bumi ini diganti Allah Ta'ala dengan "bumi" yang lain. Kita telah mengawali kehidupan dengan janji untuk bertauhid, lalu lahir ke dunia untuk membuktikannya. Akhirnya, keyakinan tauhid itu pula yang akan kita bawa mati untuk bertemu dengan Allah Ta'ala. ()

Disarikan dari Khutbah 'Idul Adha, Sabtu, 10 Dzulhijjah 1443 H / 9 Juli 2022 M, di Masjid Darussalam Koto Tuo, Balai Gurah, Kec. Ampek Angkek Canduang, Kabupaten Agam, Sumbar.