- Dosen KPI FUAD IAIN Bukittinggi

Menjaga Marwah Masjid

oleh -349 klik
Muhamad Fajri, M. Sos - Dosen KPI FUAD IAIN Bukittinggi
Muhamad Fajri, M. Sos - Dosen KPI FUAD IAIN Bukittinggi

Informasi tentang Masjid Terapung Pantai Carocok Painan sehubungan dengan karcis masuk kawasan wisata pantai senilai Rp 5.000 sempat sangat viral. Bagi yang ingin menunaikan ibadah di masjid tersebut, harus beli karcis masuk kawasan wisata. Ini menimbulkan polemik terutama di media sosial. Beragam pro-kontra di medsos bersilang-pintang, ada menghujat pemerintah Pesisir Selatan, ada pula pembelaan. "Alah...pitih limoribu tu baretong bana..." (Aduh, masak uang lima ribu rupiah dipermasalahkan betul), itu salah satu dari sekian banyak celoteh netizen di lama Facebook.

Kabarnya, polemik sudah diselesaikan agar komentar-komentar yang menggelinding bak bola salju tak berlanjut lagi, karena kekhawatirkan muncul dari berbagai pihak jika isu tersebut dibiarkan mengapung terus dalam perdebatan. Namun, tak elok pula membicarakan hal tersebut terlalu dalam, fakta dan realita isu tersebut tentu lebih diketahui oleh pemerintah Pesisir Selatan dan masyarakat di lokasi wisata Corok Painan.

Terlepas, siapa yang salah dan siapa yang benar, dan bagaimana kondisi sebenarnya isu pungutan karcis Masjid Terapung Pantai Carocok, penulis memang sudah melihat gejala-gejala 'roboh'-nya marwah Masjid belakang ini yang sudah umum menggejala, tidak masalah karcis saja.

Kita tidak menyoroti isu Masjid Terapung Pantai Carocok, namun ini kita anggap ini momentum "penyadaran" bagi semua umat Islam bahwa Masjid tempat kita beribadah memang sudah (mulai) mengalami "kerobohan" secara substansial, tak bisa disanggah.

Terlebih dahulu, dipahami bahwa masjid dibangun oleh dana komunal (pemerintah, komunitas) maupun pribadi, dan perlu dimengerti darimana pun sumber dananya, masjid adalah untuk semua umat Islam. Tidak mencari siapa yang membangun, tapi untuk siapa masjid dibangun, jawabannya untuk semua umat Islam.

Ada beberapa catatan terkait masjid kita masa "kini". Kalau terus dibiarkan "catatan" itu ada, takutnya masjid tidak lagi memiliki marwah dan fungsi sebagaimana mestinya.

Sebelumnya, simak dulu pemaparan Almarhum Ali Mustafa Yaqub, pernah menjadi Imam Masjid Istiqlal mengatakan fungsi masjid zaman Rasulullah saw itu ada lima; 1) Ibadah, 2) Pembelajaran, 3) Musyawarah, 4) Merawat orang sakit, dan 5) Asrama. Prof. KH. Nasaruddin Umar menyampaikan di masa Rasulullah saw masjid juga difungsikan sebagai kantor pengadilan, tempat pertemuan untuk acara akikah, pernikahan dan kematian, pertemuan lintas agama. Ia juga menambahkan menara masjid zaman itu digunakan untuk melihat rumah-rumah yang tidak berasap dapurnya.

Intisarinya, masjid tidak semata untuk ibadah dalam membangun hubungan transeden dengan Tuhan (Allah swt), namun juga sebagai wadah sosial masyarakat sekitarnya. Realita sekarang, mungkin tidak dituntut persis seperti zaman Rasulullah, setidaknya jangan fungsi masjid terus dikebiri dan berakibat masjid tak ramah-umat. Ada beberapa catatan penulis terkait Masjid tak ramah-umat. Disclaimer penulis, untuk sebagian masjid bukan generalisasi.

Anak-Anak yang Terusir, Tak jarang disaksikan (sebagian) jamaah senior-tua memperlakukan anak kecil umur 7 tahun sampai setingkat awal SMP seolah jamaah kelas-dua. Sedapat mungkin jamaah kelas-dua jangan berdiri di shaf paling depan, walau jamaah senior-tua datang terlambat. Tindakan menggeser jamaah kelas-dua oleh jamaah senior-tua hal yang sangat wajar, dan kadang seolah dianjurkan secara tak langsung dengan indikasi pembiaran begitu saja, ironis memang. Ketika ditanya alasannya kenapa itu harus terjadi? Dengan keterbatasan ilmu dan semangat agama berlebih, jamaah senior-tua mengatakan "Anak kecil yang belum baligh tidak sah shalatnya dan memutus shaf orang dewasa".

Jelas, kedangkalan ilmu jamaah senior-tua harus membuat anak-anak generasi masa depan Islam sendiri terusir dari rumah Tuhannya. Jika rumah Tuhannya saja tidak ramah dan nyaman lagi bagi anak, hendak ke mana mereka mencari kenyamanan? Jika nanti mereka ditemukan di diskotik, tempat perjudian, tempat perzinahan, dan tak mau lagi menemui rumah Tuhannya saat remaja kelak, jangan dikutuki pula "anak-anak kini ndak sarupo awak zaman dulu, sabana pamaleh ka musajik" (anak-anak kita sekarang tidak serupa kita zaman dahulu, sungguh malas untuk ke masjid". Sekedar mengingatkan, syarat sah shalat bukan baligh tapi mumayyiz, karena baligh adalah syarat wajib shalat.

Eklusifitas Masjid, Jangan heran ada sebagian masjid yang kita jumpai bagaikan jam kantor, buka sesaat sebelum dan sesudah shalat wajib lima waktu. Setelah shalat wajib selesai, gembok mahal terpasang di pintu dan pada akses toilet. Tidak ada boleh banyak cerita bagi yang ingin shalat dhuha, atau shalat tahajud, karena itu semua di luar jadwal lima waktu, jadi harus ditutup! Para musafir jangan berharap untuk menunaikan shalat Isya pukul 22.00 WIB di masjid, karena masjid tekunci sejak sesaat selesai shalat Isya berjamaah ditunaikan.

Ada pula ditemukan, masih sedang shalat sunnah siap Zuhur, pengurus masjid sudah memegang gagang pintu mau ditutup. Miris memang, tapi itu realita tak bisa dibantah, semoga ada momen menghentikan semua ini.

Pengurus Bangga 'Kas' Menumpuk

Lain pula ceritanya bagi pengurus yang hobi menahan dana masjid untuk segera direalisasikan untuk pembangunan masjid. Gemar sekali mengumumkan hari jumat di mimbar masjid, bahwa kas terus surplus dan membengkak. Seolah jadi kebahagain tersendiri bagi pengurusnya, jikalau dana masjid kian bertambah dan tak pernah berkurang.

Entah prestise apa pula yang dia dapat, yang dia bangga selaku pengurus punya dana besar, dan agar tetap kelihatan besar tidak mau dan takut mengurangi untuk kepentingan pembangunan masjid. Sekedar perbanding masjid Jogokariyan di Yogyakarta, pengurusnya punya prinsip kas "nol-rupiah" karena menyalurkan lebih cepat akan tertunaikan juga maksud donatur. Apa dengan menahan dana masjid akan mengantarkan pengurus kepada prediket pengurus yang pernah mengumpulkan dana "terbesar" dan mengalahkan pengurus-pengurus sebelumnya, apa memang itu yang akan diraih, kalau iya? patut dirubah niatnya. Kembali ke pokok persoalan, memang sudah menggejala pengurus masjid suka dan hobi menumpuk dana masjid dan takut menyalurkan dalam bentuk pembangunan. Padahal donatur mengamanahkan uangnya untuk digunakan bagi kepentingan masjid.

Masjid Tanding 'Lagak'.

Fisik lebih penting dari non-fisik (ruh) bagi sebagian masjid. Tak aneh dana miliaran rupiah mudah digelontorkan untuk pembangunan fisik masjid, apakah memperluas, memperindah, meng-upgrade, bahkan merombak dan membuat ulang masjid. Alasannya bermacam-macam, yang jelas itu tak sepenuhnya salah namun jika pembangunan ruh masjid-nya diabaikan, ini akan menjadi preseden buruk bagi sebuah masjid yang notabene sebagai pusat pembangunan dan pemberdayaan umat.

Mudah ditemukan masjid yang awal mula dibangun megah, langsung jadi, bahkan atas nama pribadi, pernak-pernik impor dan berkualitas menyusupi setiap relung masjid, tujuannya agar megah, indah dan wah! Seiring waktu masjid tersebut lapuk, tak terawat, kusam dan sepi dari hiruk-pikuk nafas kegiatan keagaman, dan tak banyak memberikan dampak terhadap pembangunan umat di sekitarnya. Ada sebagian pengurus mudah mengeluarkan untuk pembangunan fisik tapi pelit untuk kegiatan non-fisik seperti menghidupkan kegiatan remaja, pengajian. Salah besar, jika pegurus menganggap dana masjid itu untuk pembangunan, dan pembangunan itu diartikan hanya untuk fisik berupa semen, tanah, bangunan, keramik dll, sedangkan pengajian, kegiatan keagamaan tidak dianggap pembangunan.

Satu sisi itulah kondisinya, namun sisi lain sudah mulai menggeliat pula kesadaran sebagian pengurus, sehingga me-reset kembali kondisi fungsi masjid yang mulai terganggu. Walau perlahan tapi hal itu sudah ada, misal masjid selain menyediakan parkir gratis, ada juga minum kopi dan teh gratis, tersedia pustaka dan penginapan dengan infak kebersihan yang jauh di bawah hotel. Di tempat lain ada pula pengurus masjid mulai mencetak spanduk bertuliskan "Parkir Gratis" terpampang di tempat parkir masjid, kita beranggapan hal itu dibuat salah satunya untuk menghilangkan kecemasan masyarakat akan maraknya masjid-masjid yang berbiaya, entah itu biaya masuk lokasi, biaya parkir dan biaya lainnya.

Semoga kesadaran pengurus masjid kembali disadarkan akan hakikat adanya sebuah masjid, sehingga terkelola dengan baik. Tentunya harapan semua umat Islam untuk semua "masjid tak ramah-umat", tolonglah kembali dikelola dengan bijak. (*)