- Dosen IAIN Bukittinggi/Direktur Lembaga Studi Dakwah Indonesia (LSDI)

Bahagia Setelah Diuji

oleh -594 klik

Kita baca kembali hadits dua kegembiraan bagi orang yang berpuasa. Pertama, gembira ketika berbuka.Kedua, gembira saat berjumpa dengan Allah Ta'ala.

Orang yang gembira di kala ujian usai adalah orang telah melewati ujian itu dengan sabar dan kehati-hatian. Sabar dan kehati-hatian itu adalah perkara paling berat dan paling penting (Ali 'Imran:186). Dalam segala hal, sebutlah apa saja, manakala ada ujian lalu dilalui dengan sabar dan hati-hati, maka ujungnya bahagia. Bahagia yang tak dibuat-dibuat. Bahagia asli, bukan bahagia palsu.

Tapi, ketika ujian tak dilalui dengan sabar dan hati-hati, tak ada perjuangan, maka ujungnya penyesalan. Tapi, kadang ia paksakan juga nimbrung bahagia dengan yang ikut berjuang.

Kehadiran kita di dunia ini memang untuk diuji. Diuji dengan perintah, diuji dengan larangan, diuji dengan perkara yang dibatasi. Semakin bertambah usia, bertambah pula tangga ujian itu yang mesti dititi. Tak sedikit yang terjatuh saat menaiki tangga ujian itu. Stress, putus asa, bahkan melakukan perlawanan kepada Yang Maha Pengatur. Kembali ketika ujian itu dilalui dengan sabar dan kehati-hatian, maka ketika tiba masanya ujian selesai atau tiba masanya berbuka, bahagia pun datang.

Masa ujian di dunia selesai manakala kita sudah bertemu dengan Allah Ta'ala, pemberi dan pemilik kehidupan ini. Masa berbuka yang membahagiakan itu hakikinya adalah ketika bertemu dengan Allah Ta'ala di jannahNya. Itulah kembali berbuka atau 'Idul Fithri yang hakiki. Atas kesabaran melewati ujian di dunia ini, kelak malaikat pun akan memberi penghormatan dan ucapan selamat di jannah Allah Ta'ala (Surah al-Furqoon, 25:75).

Wallaahu a'lam bisshowaab.

#Ringkasan Khutbah 'Idul Fithri 1443 di Masjid Gadang Koto Nan Gadang, Kota Payakumbuh.

E-mail: [email protected]