- Dosen IAIN Bukittinggi/Direktur Lembaga Studi Dakwah Indonesia (LSDI)

Di Dalam Ruang Batin Ramadhan

oleh -368 klik
Irwandi Nashir - Dosen IAIN Bukittinggi/Direktur Lembaga Studi Dakwah Indonesia (LSDI)
Irwandi Nashir - Dosen IAIN Bukittinggi/Direktur Lembaga Studi Dakwah Indonesia (LSDI)

HINGGA kini, modus pembunuhan yang kadang diiringi dengan memutilasi alias memotong-motong mayat si korban masih menjadi tema kejahatan kemanusiaan. Aksi sadisme itu mengingatkan kita kepada seorang pangeran Prancis bernama de Sade (1740-1814) yang melampiaskan nafsu seksualnya dengan cara membunuh korbannya. Dari nama itu digunakan kata sadis untuk penamaan segala perbuatan manusia yang tidak manusiawi. Sejatinya manusia adalah makhluk mulia yang tak mau melakukan dan diperlakukan dengan sadis.

Al Qur'an menjelaskan dua bentuk kemuliaan manusia, yaitu kemuliaan dzati dan kemulian iktisabi. Kemulian dzati adalah kelebihan pada zat atau dimensi fisik manusia yang berbeda dibanding makhluk-makhluk lainnya (QS. 17, al Isra':70; QS.95,at-Thin:4). Kemulian dzati dimiliki semua manusia. Namun, tak semuanya meraih kemuliaan iktisabi. Kemuliaan iktisabi ditandai oleh iman, amal shaleh, dan menyerukan kebenaran (QS.103, al-Ashr:1-3). Kehilangan kemuliaan iktisabi membuat derajat manusia runtuh, bahkan lebih hina dari binatang (QS.95, at-Thin:5; QS.7, al A'raf:179; QS.25, al Furqan:44). Kemulian dzati akan pudar dan sirna, sementara kemulian iktisabi tak akan hancur meski ruh berpisah dengan jasad (QS.26,asy-Syu'ara:88-89).

Saat kita rindu bumi ini diisi oleh manusia yang menyebarkan kedamaian, jujur, bertanggung jawab, adil, maka sejatinya kita merindukan pancaran dari kemuliaan iktisabi. Iktisabi yang akar katanya kasaba (usaha) menyiratkan jika kemuliaan ini mustahil diraih tanpa usaha (QS. 29, al-Ankabut:69). Iman mustahil diwariskan kecuali setiap individu itu yang berjuang untuk meraihnya.

Kemuliaan iktisabi adalah ruang batin yang dituju oleh ibadah shoum (puasa). Pintu utama menuju ruang itu adalah niat. Saat menancapkan niat untuk berpuasa terhimpun tekad yang tak sekedar akan menahan lapar, haus, dan bersetubuh, tapi berniat tak akan liar dalam memandang, tak akan memproduksi pernyataan bohong, tak akan memutus silaturrahim, tak akan memanipulasi kuitansi, tak akan menyakiti sesama, dan menghindarkan kaki dari area maksiat. Semua itu hanya karena mengharap ridha-Nya.

Dalam hadits riwayat al-Bukhari dan Abu Dawud, Rasullah saw memperingatkan, Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan buruk, maka Allah Ta'ala tidak memerlukan ia meninggalkan makan dan minumnya (tak menghiraukan ibadah puasanya).

Ruang batin puasa Ramadhan adalah perjuangan kalbu untuk menanggalkan dan meninggalkan syahwat untuk meraih kemulian iktisabi. Menanggalkan dan meninggalkan syahwat bukan dalam arti antipati, memusuhi, tapi sebagai sebuah perjalanan untuk mengubahnya menjadi wujud baru.Barangkali, menanggalkan dan meninggalkan itu seperti proses peralihan padi menjadi beras, lalu menjadi nasi. Padi menanggalkan kulit untuk menjadi beras.Beras sebenarnya juga padi, tapi sudah tak lagi menjadi padi, sebagaimana padi belum bisa disebut beras. Nasi yang kita makan hakikatnya adalah padi atau beras, tapi sudah menjalani proses perubahan. Kita yang memakan nasi tidak anti padi, tapi kita juga tidak makan padi. Para pemakan nasi sangat butuh beras, tapi tak mau makan beras yang belum berproses menjadi nasi.

Intinya, orang yang berpuasa sebagai pengabdi Allah Ta'ala bukan benci dunia, anti harta dan wanita, tapi bukan pula penyembah harta dan pemuja nafsu. Memiliki harta benda hakikatnya menyimpan dunia, tapi kita bukan budak dunia. Semuanya dijinakkan untuk diubah menjadi wujud yang tunduk kepada Allah Ta'ala dan bernilai ukhrawi. Dan siapa saja yang beriman kepada Allah, pastihatinya akan mendapatkan hidayah. (QS, 64, at-Taghabun:11).

Wallahu a'lam bish-Shawab.[]