- Dosen Universitas Fort de Kock Bukittinggi

Membersihkan Sampah Pikiran

oleh -457 klik

KEHIDUPAN yang kita jalani akan mengalir terus pada orbit yang telah ditentukan, tanpa kita mampu untuk mengubahnya, namun kita dituntut untuk mampu memberikan respon atas beraneka ragam peristiwa kehidupan itu melalui saringan terhadap apapun yang akan dimasukan ke dalam proses berpikir.

Setiap yang masuk ke dalam tubuh tentunya akan melalui pintu-pintu yang selalu terbuka dengan lingkungan sekitar, pintu tersebut antara lain: organ penglihatan (mata), organ pendengaran (telinga), organ penciuman (hidung), perasa lidah (mulut), organ perabaan (kulit) dan pintu yang tidak teraba yaitu pikiran. Terkadang tanpa kita sadari kita telah memasukan berbagai hal ke dalam pikiran kita baik yang positif maupun negatif pada saat menggunakan panca indera tanpa melakukan penyaringan.

Dalam melakukan penyaringan kita perlu mencontoh yang dilakukan oleh membrane sel tubuh kita. Sel adalah bagian terkecil dari organ tubuh dan tersebar di seluruh tubuh kita, bagian terluarnya disebut membran sel yang salah satu fungsinya sebagai pelindung sel. Membran sel tersusun atas karbohidrat, protein dan lemak. Membran sel melakukan penyaringan dengan cara membukakan pintu bagi unsur karbohidrat, protein, dan lemak yang masuk ke dalam tubuh, dan menutup pintu bagi zat-zat yang berbahaya bagi tubuh seperti alcohol, racun, obat-obat terlarang.

Proses tersebut untuk mempertahankan agar sel tetap berfungsi dengan baik, sehingga jaringan dan sistem organ tubuh juga mampu melaksanakan fungsinya dengan baik juga.Subnallah, sungguh indah AllahTa'ala mengatur semua ini. Maka pintu yang langsung berhubungan dengan lingkungan, tentunya perlu pengaturan sedemikian rupa oleh kita sebagai makhluk yang diciptakan Allah dengan sebaik-baik bentuk dan dikaruniai akal pikiran, dengan menggunakan akal tersebut untuk melakukan penyaringan terhadap hal-hal postif yang membawa kebahagiaan dan menghindari hal-hal negatif yang akan menimbulkan penderitaan.

Pikiran positif tentunya akan menguntungkan kita, namun jika kita tidak melakukan penyaringan secara tidak langsung kita telah memasukkan sampah pikiran kita sendiri. Hal ini sering kita temui pada kondisi berburuk sangka terhadap setiap yang kita lihat, dengar, rasa dan ucapkan. Untuk menjaga agar pikiran selalu jernih dan bebas dari sampah, kita sudah diingatkan melalui wahyu Allah Ta'ala yang maksudnya:Wahai orang-orang yang beriman ! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang suka menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Tentu kamu merasa jijik, Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima taubat , Maha Penyayang (surat Al-Hujurat Ayat 12).

Dalam hal ini juga harus kita pahami berburuk sangka terhadap situasi akan merugikan diri sendiri sebab reaksi tersebut akan menimbulkan aksi yang juga buruk, dan sangat berhubungan dengan kerja sel saraf kita yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Di dalam tubuh kita terdapat organisasi sistem persarafan yang dapat dibedakan berdasarkan tempat dan fungsinya yaitu: a. Sistem Saraf Pusat (SSP) terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang, b. Sistem Saraf Tepi, yang terdiri dari serabut-serabut saraf yang menghubungkan sistem Saraf Pusat dengan bagian tepi tubuh.

Sistem saraf tepi terdiri dari: Saraf Aferen yang bertanggung jawab menerima pesan dari seluruh tubuh dan mengirimkannya ke sistem Saraf Pusat, dan Saraf Eferen yang bertanggung jawab untuk menerima hasil olahan sistem Saraf Pusat dan mengirimkan pesan tersebut ke seluruh tubuh. Di sini jelas bahwa apapun pesan dari seluruh tubuh melalui pintu panca indera yang akan disampaikan oleh Saraf Aferen ke sistem Saraf Pusat semuanya tergantung dari kita, apakah kita akan menyampaikan pesan dengan melakukan penyaringan terlebih dahulu sehingga terpisah antara yang baik dengan yang buruk, atau kita melakukan tanpa penyaringan.

Jika pesan yang disampaikan ke sistem Saraf Pusat itu adalah pesan positif, maka sistem Saraf Pusat (otak) akan menterjemahkan juga positif, dan hasil terjemahannya tersebut akan diterima oleh saraf eferen yang seterusnya membawa pesan ke otot, kelenjar dan terwujudlah sebuah gerakan motorik yang menghasilkan prilaku juga positif, dan begitu juga sebaliknya.

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk menyingkirkan sampah pikiran di antaranya adalah apapun yang ditangkap oleh panca indera dari lingkungan, maka kita segera memastikan bahwa apa yang kita pikirkan, katakan dan lakukan adalah benar, dan saat kita meragukan kebenarannya, maka kita segera meninggalkan dan melindungi diri sehingga tidak terjerumus kepada hal yang tidak benar. Tindakan selanjutnya adalah kebenaran yang sudah kita yakini kita upayakan berbuah kebaikan, karena hanya sekedar benar tetapi tidak melakukan kebaikan, berarti kita membuka peluang besar untuk noda dengan mudah masuk kembali ke pikiran kita. Pada akhirnya setelah kebaikan dilakukan, maka kita pastikan lagi apakah kebaikan itu sudah bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Tindakan tersebut dilakukan dengan sungguh-sungguh dan upaya yang tidak kenal lelah, karena pesan positif dan negatif yang masuk melalui panca indera (mata, telinga, hidung, kulit, dan mulut), dan pintu pikiran ibarat dua gambar yang silih berganti ada dihadapan kita, setiap gambar negatif masuk, dengan sekuat tenaga kita ganti dengan gambar positif. Jika kita sudah melakukan hal sedemikian, secara tidak langsung kita sudah membentuk pribadi selektif dalam menyikapi kehidupan dengan hanya memasukkan hal positif ke dalam pikiran dan membuang sampah yang hanya memberatkan beban pikiran, demi sebuah pertanggungjawaban kelak di alam sesudah dunia.Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggung jawabannya(surat Al-Isra' ayat 36). Wallaahu a'lam bishawab.